City Of Sin Book 2 Chapter 87 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Book 2 Chapter 87

Two-Headed Dragon

Lelaki tua itu menonton ketika pasukan Richard merawat tikus itu. Baru ketika semua kuda dipersiapkan dan Richard hendak pergi, dia menghela nafas, “Anak muda, apa tujuan mu datang ke Bluewater Oasis?”

Richard tersenyum elegan, “Bisnis. Aku berharap untuk menjadikannya kaya”

“Bagus sekali!” Lelaki tua itu mengangguk, “Ada banyak peluang untuk menghasilkan uang di sini”

“Kuharap begitu, tapi sekarang aku harus meninggalkan tempat ini. Sebelum aku dapat memulai bisnis ku, ada beberapa masalah yang harus ku tangani” Richard memberi pria itu bungkukan mage, menaiki kudanya, dan menghilang malam dengan kelompoknya.

Begitu mereka meninggalkan kota, Richard dan yang lainnya langsung menuju kamp mereka. Saat mereka masuk, Richard melihat sekelompok Half orc makan dan bersenang-senang di sekitar api unggun. Dia menendang mereka dan meraung, “Kalian semua, naik. SEKARANG! Pergi pakai armor mu dan dapatkan senjata mu, aku ingin melihat semua orang siap untuk berperang dalam sepuluh menit! Kita akan bertarung!”

Medium Rare merespons dari dalam tenda. Dia berjalan keluar dengan sendok besar di tangan, aroma daging menyerang lubang hidung seseorang. Dia mengayunkan benda itu dengan penuh semangat, bertanya, “Bos, pertempuran macam apa itu? Apa kita perlu berlarian, atau kita akan bertahan?”

Richard dengan cepat berjalan ke sisinya, menepuk-nepuk perut gemuk troll itu, “Pergilah, pakai baju besi paling tebal. Siapkan palu besar dan pelindung menara, kita akan Bertahan!”

Ekspresi kegembiraan membanjiri wajah troll itu, dan dia memukuli dadanya dengan keras, “Jangan khawatir, bos! Aku akan menghancurkan mereka seperti roti!” Dia membenci perkelahian yang membuatnya harus bergerak. Armornya berbobot beberapa ratus kilogram, dan bahkan dengan kekuatannya yang cukup untuk mengkompromikan kecepatannya. Di sisi lain, ketika dia hanya berdiri di tanah kombinasi dari baju besinya yang berat, sihir penyangga, dan lagu perang sudah cukup untuk menghancurkan formasi sepenuhnya oleh dirinya sendiri.

“Persiapkan dirimu, kita akan menghadapi pasukan kavaleri. Pemimpin kemungkinan besar akan menjadi level 12, tetapi ada juga kemungkinan bahwa dia akan menjadi level 14. Akan ada seratus dari mereka”

“Kau! Pergi ke tumpukan kayu dan mempertajam pancangnya. Mengubur mereka di tanah, ujung yang tajam menghadap ke luar dengan tidak lebih dari satu setengah meter terbuka. Aku ingin pancang setiap lima meter!” Richard berjalan melalui seluruh kamp, ​​mengumpulkan pasukan satu per satu. Dia juga memberi mereka instruksi dan perintah.

Kamp memasuki hiruk-pikuk, tetapi dalam waktu singkat beberapa ratus pasak telah ditempatkan di seluruh sisi kamp yang menghadap kota. Pancang ini dirancang untuk menahan kavaleri. Tentara Richard cukup berpengalaman, jadi mereka tidak duduk diam ketika sampai di kemah. Mereka mengorganisir pasukan untuk pergi ke hutan terdekat, mengumpulkan kayu untuk membawanya kembali ke kemah. Sebagian kecil akan digunakan sebagai bahan bakar, sementara sisanya dipotong dan ditempatkan untuk membuat pagar di beberapa titik. Tidak ada cukup waktu untuk melakukan itu lagi, jadi mereka malah menggunakannya sebagai barisan rintangan.

Pasak tidak ada di mana-mana. Bahkan seorang prajurit dengan keterampilan biasa-biasa saja dapat bermanuver melewati kudanya tanpa terluka, tetapi jika ia mencoba mengandalkan kecepatan kudanya untuk mencoba dan menembus pasak, itu tidak mungkin.

Richard memiliki sepuluh ksatria, semua level 10. Orang-orang ini adalah yang sebenarnya, mampu bertarung dengan berjalan kaki dan menunggang kuda. Meskipun hanya ada sepuluh dari mereka, mereka tangguh. Mereka dibagi menjadi dua kelompok untuk menjaga sisi yang berlawanan dari kamp, ​​dengan serigala angin di masing-masing.

Serigala angin yang tersisa dikirim bersama prajurit Half orc, setiap tim yang terdiri dari lima orc dan satu serigala. Para Orc akan mengikuti serigala angin dan menyerang target yang ditunjuk. Ini memungkinkan Richard untuk meminimalkan jumlah perintah langsung yang dia berikan, hanya perlu mengendalikan serigala angin dengan pikirannya.

Beberapa saat kemudian, tanah mulai bergetar ketika suara dan keriuhan terdengar dari arah kota. Kamp-kamp dalam satu kilometer disiagakan, penjaga mereka dengan cepat memegangi senjata mereka saat mereka dengan gugup menatap ke arah kota. Beberapa yang pintr menyalakan obor di bawah spanduk mereka, mencegah api bersahabat di bawah langit malam yang gelap. Kamp-kamp yang lebih kuat tidak gugup, tetapi mereka tetap memperkuat pertahanan mereka.

Sebuah kavaleri yang ganas berlari keluar dari kota, mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh kelompok Richard ketika mereka bergegas menuju kamp. Jelas ada beberapa pengintai yang baik di tengah-tengah mereka.

Ada lebih dari delapan puluh tentara di pasukan itu. Pemimpin mereka tinggi dan kuat, mengendarai kuda perang hitam yang tampaknya memiliki warisan Iblis. Ini adalah salah satu otoritas dari Bluewater Oasis — Two-Headed Dragon, Schitich.

Ini kurang dari setengah jumlah pasukan Schitich, sepertinya dia tidak bisa mengumpulkan sebanyak mungkin orang dalam waktu sesingkat itu. Sarangnya mungkin ada di kota, tetapi itu tidak berarti semua pasukannya terkonsentrasi di sana.

Pasukan 200 orang dalam formasi naga juga terlihat bergerak dari kota. Ini adalah infanteri Schitich, tetapi mengingat jarak beberapa kilometer kamp dari kota, pertempuran kemungkinan akan berakhir sebelum mereka tiba di sini.

Ini persis seperti yang diinginkan Richard, mengikis kekuatan lawannya atas beberapa gelombang pertempuran. Dia tahu bahwa akan sulit untuk mengumpulkan pasukan penuh dalam waktu sesingkat itu.

Richard tidak mematikan Cahaya di kamp. Bahkan jika penglihatan itu tidak ideal, pasukan yang mendekat dapat dengan mudah melihat Pasak yang telah disiapkan untuk mereka. Meskipun inti dari kelompoknya sendiri tidak takut pertempuran di malam hari, sejumlah besar prajurit manusia dan orc tidak memiliki kemampuan ini. Richard tidak berharap pasak ini menyebabkan banyak kerusakan, hanya menempatkannya untuk menghentikan musuh agar tidak menjatuhkan mereka.

Melihat rintangan di depan kamp dan setelah mendapat pelajaran dari tim yang dihancurkan di bar, Schitich tidak terburu-buru agar tentaranya bergegas ke depan. Dia bukannya mengekang kudanya, berhenti di depan pasak dan mengangkat tangan kanannya. Pasukannya mulai menyesuaikan formasi, datang ke garis horizontal rapi di belakangnya.

Schitich menatap tajam ke arah Richard yang berada di tengah lapangan, berteriak dengan dingin, “Nak, ceritakan katakan asalmu! Jika ayahmu cukup kaya, kau bisa menyerah tanpa perlawanan. Aku hanya akan memotong lengan dan kaki dan membiarkan ayahmu menebusmu kembali!”

Richard tertawa, menunjuk wajah Schitich dengan jijik, “Kau bukan siapa-siapa, kenapa aku takut padamu? Lupakan keluargaku, lihat usia dan statusku sebagai penyihir. Gunakan otak mu, apa kau pikir guru ku akan memaafkan mu jika kau mengacaukan ku? Jangan menganggap Bloodstained Land itu masalah besar!”

Ekspresi pria itu melengkung. Richard tidak salah; setiap penyihir yang mampu melemparkan mantra kelas 5 pada usia seperti itu akan menjadi kekuatan penting di kerajaan besar mana pun. Minimal guru Richard pasti menjadi grand mage, dan bisa menjadi orang penting di daratan. Pasukan ini juga tampak sangat kuat.

Bahkan jika seorang grand mage tidak bisa secara pribadi menyapu Bloodstained Land, posisi dan kemampuan mage tidak hanya bergantung pada kekuatan pribadi mereka. Dengan kontrol berat mereka atas perdagangan peralatan sihir, seorang mage akan mampu menawarkan hadiah tinggi untuk menggulingkannya dari posisinya di Bloodstained Land.

Bahkan 10.000 emas tidak ada artinya bagi penyihir. Namun, sejauh menyangkut Schitich itu sudah cukup untuk membuatnya berjuang untuk hidupnya. Selain itu, siapa pun yang membunuhnya juga akan mendapatkan bantuan dari grand mage.

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded