Goblin Kingdom Chapter 1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

CHAPTER 1 : PROSES KELAHIRAN

…Dimana?

Ketika aku membuka mataku, kegelapanlah yang pertama kali menyambutku, diikuti dengan rasa sakit yang menusuk ususku.

Aku menyadari, iIni adalah rasa lapar. Lapar luar biasa yang lebih seperti nafsu.

“Gigi.”

Aku lapar, aku mencoba katakan. Tapi yang keluar malah pekikan kaku tak jelas.

Kututup mataku untuk lari dari rasa lapar itu, tapi rasa lapar itu tak juga pergi.

Aku tetap menutup mataku. Aku tak mau membuka mataku. Ini adalah usaha yang terlalu banyak.

“Gagururu!”

Tapi kemudian aku mendengar… sesuatu. Semacam suara… dari suatu tempat…  dekat.

“Gi?”

Suara itu berangsur-angsur mendekat sampai akhirnya berhenti di depanku. Kemudian aku merasakan sesuatu memukulku. Sesuatu yang halus dan lembut dengan bau yang menjijikan… daging. Ini adalah daging!

Gila karena lapar, aku tidak bertanya daging apa ini. Dengan rakus, aku taruh daging itu ke mulutku dan membenamkan gigiku ke dalamnya.

Lezat!       

Hahahaha! Ini lezat!

Aku tidak tahu daging apa ini, tapi ini lezat! Lebih dari apa pun yang pernah kucicipi!

“Gigi—gigigi!”

Sebelum aku mengetahuinya, aku sudah memakan semuanya.

—lagi! Aku mau lagi!

Ini tidak cukup! Aku mau lagi! Lagi! Lagi! Lagi!

Kelaparan dalam ku, tidak terpuaskan, tumbuh semakin ganas di dalam seakan-akan bernafsu untuk nambah.

Kemudian tiba-tiba, sesuatu menangkapku. Memegangku dari belakang leherku, dan mengangkatku.

“Gi?”

Jika aku bias melihat ke atas sekarang, maka aku akan tahu bahwa ini adalah semacam tangan makhluk raksasa yang mengangkatku.

Tidak lama kemudian, aku merasakan angina mengelusku, dan cahaya mengisi penglihatanku seperti api, membakar mataku dengan cahayanya.

Aku harus menutup mataku, karena terlalu terang.

Jika aku membiarkan mataku terbiasa dengan cahaya ini terlebih dahulu, aku pasti sanggup membukanya juga.

Dan kemudian-

“Gigi?”

Ketika aku akhirnya bisa membuka mataku, yang menyambutku adalah sesuatu yang luar biasa, hutan lebat, diikuti dengan kesadaran bahwa bidang penglihatanku bergetar.

Aku heran sudah berapa lama ini berlangsung, sejak aku terakhir kali mengangkat sesuatu seperti ini. 20 tahun? Tidak, bahkan sebagai seorang bayi, aku pasti pernah menggangkat sesuatu dengan lebih… normal. Maksudku manusia dari awal adalah… seperti aku penasaran siapa yang memperlakukanku begitu kasar, aku palingkan kepalaku. Tapi apa yang aku lihat membuatku terguncang. Apa yang telah menggantungku seperti pentungan adalah sesuatu yang tidak bisa aku pikirkan menjadi apapun selain lelucon. Makhluk dengan bingkai hijau lebar.

“Gi?”

Tidak… tak peduli bagaimana kau melihat ini. Ini…

Ini bukan manusia.

Dengan kata lain… ini adalah itu.

Mungkin ini karena kurangnya kosakataku, tapi aku tidak bias memikirkan kata yang lebih pas dari…

Goblin. Ya, seorang goblin.

Wajah yang mengerikan itu. Besar sekali, lebar, dibingkai kulit yang hijau.

Ya. Goblin. Ini pasti goblin.

Saat aku berkomat-kamit begitu, goblin itu berpaling dan melihatku dengan wajah yang hanya bisa aku gambarkan sebagai menjijikan.

Aku bakal mati, pikirku sambil menelan ludah.

Monster hijau, besar sekali itu sangat menakutkan, tatapnnya saja bisa membuatku bersiap untuk mati.

Bagaimanapun, aku lega, makhluk ini hanya melihat sekilas padaku, sebelum berjalan lagi.

Dia terus berjalan sampai akhirnya. Kami meninggalkan hutan lebat itu. Setelah itu, dia melemparku ke tepi danau yang indah, pemandangan yang jarang sekarang ini.

“Makanan. Tangkap. Tidak bagus, maka mati saja.”

Setelah si goblin mengatakan itu padaku, dia memutar punggungnya kepadaku dan pergi. Saat melihat monster hijau itu berbalik, aku menyadari bahwa dia memiliki senjata mematikan yang terlihat agak mirip pentungan di punggungnya.

Makanan?

Apa dia bicara tentang daging yang tadi? Tapi daging apa itu tadi tepatnya?

Bagaimana pun juga, aku sedang tidak mood untuk melawan monster. Jadi untuk sementara, aku lebih baik menyegarkan diriku dengan air dari danau.

Ngomong-ngomong, ini aman untuk diminum… kan?

Karena aku memuaskan dahagaku, aku menyadari bahwa bahwa aku bisa mengalihkan diriku dari rasa lapar.

Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku mencoba untuk lari? Tapi masalah terbesarku adalah bahwa aku tidak punya ide apa yang sedang terjadi. Ketika aku sedang berpikir begitu, dengan tenang aku melirik ke permukaan air.

Kemudian aku melihatnya.

“Gi?”

Ah?

Mengapa ini disini?

Monster hijau mengerikan itu tercermin di permukaan air.

“Gigi?’

Ah?

Aku bisa melihatnya. Kulit hijau, jelek, yang sama itu.

“Gigi?”

Aah?

Menatap pada bayangan, aku memutar tanganku. Seperti cermin, bayangan yang tercermin meniruku, dan dia dengan kurang ajar memutar tangannya. “Tidak mungkin,” pikirku. Tidak mau menerima, aku menyentuh wajahku beberapa kali. Balasannya, bayangan di air bergerak tepat sama. Aku memukulkan tanganku ke dalam air, menggoncangkannya beberapa kali, menyebabkan riak-riak untuk memecahkan bayangan, akhirnya mengusirnya.

“Gigi? Gu?”

Aku? Monster?

Masih menolak untuk percaya, aku melihat ke bawah pada tanganku.

Warna hijau mengerikan yang sama itu. Bisakah siapa saja benar-benar menyebut ini manusia? Kalau begitu, maka tangan anjing atau tangan babijuga harus dipertimbangkan sebagai manusia.

Aku menyentuh wajahku dengan tangan itu, dan melihat pada bayanganku di air.

“Gigi.”

—Monster.

Tidak. Aku mencubit wajahku. Menariknya, memutarnya, mengerutkannya. Apapun… hanya untuk membuktikan bahwa monster itu bukan aku. Tapi sayangnya, taka da yang bisa.

“Gugugugu.”

—Kukukuku

“Gya-gaggugugugu!”

—Ahahahaha.

Aku hanya bisa tertawa.

Lelucon macam apa ini? Adakah seseorang yang bisa menjelaskan?

Mengapa?

Aku seharusnya sudah melewati kehidupan tanpa masalah apa pun.

Aku bahkan seharusnya segera mendapatkan pekerjaan.

Tapi… mengapa?

Seorang monster? Bagaimana? Apakah ini mimpi?

Ketika aku terus tertawa tawa kering itu, apa yang meledak kemudian di dalam ku adalah amarah.

Mengapa?

Amarah yang tidak seorang pun harus menjawabnya.

Aku mengalihkan mataku dari permukaan air dan aku terpaku pada tanah.

Perasaan bumi. Sensasi rumput. Dan bahkan getah kutu penggigit yang baru saja aku hancurkan itu. Mereka semua memberitahuku, berteriak padaku, kebenaaran dari kenyataan yang menyebalkan ini.

“Gigurua!!”

Aku ingin berteriak. Tapi apa yang keluar dari tenggorokanku tidak lain dari suara getir yang bahkan tidak bisa disebut kata.

Sesuatu seperti ini hanya bisa disebut tangisan binatang buas. Atau mungkin, ratapan bayi yang baru lahir.

Sebagaimana alas an menjerit, begitu pula insting.

Aku lapar.

Mengapa? Aku baru saja makan bukan? Tapi hasrat apa ini?

Aku menenggelamkan wajahku di dalam air, dengan penuh semangat meneguknya sebanyak yang aku bisa.

Tenggorokanku berberak berirama ketika aku minum sampai perutku penuh. Kemudian aku memisahkan diriku dari danau, dan berbaring di tanah.

Cahaya terang matahari menjengkelkan.

Brengsek. Aku merasa seperti idiot.

Aku pergi tidur.

Aku berlindung di bawah naungan pohon. Tidak banyak, tapi setidaknya bisa mengurangi sinar matahari menjengkelkan itu.

Di sana, aku menutup mataku. Dan dengan rasa lapar yang diredam oleh air, aku akhirnya jatuh tertidur.

rqr

Ini sudah gelap ketika aku membuka mataku.

“Gi.”

Omong kosong.

Aku terkutuk ketika aku membuka mataku.

Tentu saja, suara yang keluar lebih dari erangan yang tidak bisa dimengerti.

Aku berusaha mengangkat tanganku. Tentu saja, ini adalah tangan hijau jelek itu. Aku yakin tidak seorang pun yang akan menyebut ini cantik dengan semua benjolannya.

“Gi—?”

—Hey?

Meninggalkan naungan pohon, aku melihat ke atas ke langit malam, dan ini seolah-olah kilat menyambarku.

Di langit adalah bulan purnama yang cerah.

Tapi ini tergantung di sana lebih cerah dan lebih besar dari yang kuingat terakhir kali, dan dengan satu lagi yang lain persis seperti di sampingnya.

Aku telah membaca tentang ini sekali – dari novel ringan yang pernah sekali aku miliki…

Dunia yang berbeda.

Dalam kisah itu,orang-orang dipindahkan dari dunia mereka ke dunia yang lain, dimana mereka dianugerahi kekuatan-kekuatan khusus. Orang-orang ini menjadi pahlawan dan mereka menaklukan raja iblis. Ya, ini adalah satu dari akhir cerita klise ini.

Aku tidak terlalu ingat kisahnya, tapi…

Mungkinkah?

Tapi meskipun begitu… mengapa kau mengambil kemanusiaanku!? Apakah ini salah satu kelakar tuhan?

Konyol.

Benar-benar konyol. Tidak masalah. Tidak satu pun. Pada akhirnya, aku masih saja seorang monster jelek.

Aku lapar.

Dalam renunganku, tangisan insting bergema, dan rasa lapar yang tak pernah puas itu sekali lagi menyerang dari dalam.

Tanpa sadar, rasa lapar itu mematirasakn pikiranku. Teramat sangat sehingga mataku mulai berenang di sekitar seolah mereka mencari makanan.

…Aku seharusnya minum air dulu.

Setelah aku minum dalam jumlah yang cukup, aku kenyang.

Ini seharusnya cukup untuk sekarang.

Aku tidak tahu apa yang terjadi atau apa aku bisa kembali atau tidak, tapi aku akan memikirkannya nanti.

Yang menjadi masalah sekarang adalah daging. Aku butuh daging!

Aku mau makan.

Aku mau makan.

Aku mau makan.

Aku mau makan.

Aku mau makan.

Aku mau makan.

Aku mau makan.

Aku mau makan.

Aku mau makan.

Sekarang saat aku memikirkan ini, aku bisa melihat sangat baik dalam gelap.

Kukira ini adalah salah satu dari manfaat menjadi monster.

Mataku mulai berkeliling, mencari mangsa.

Sesaat bayangan bergerak masuk jangkauan penglihatanku, aku berlari mengejarnya.

“Guruaa!”

Bergerak dalam semak-semak, ini adalah kelinci.

Dia berusaha untuk kabur sesegera dia menyadari aku. Tapi, mengejutkannya, aku sanggup lompat dengan kekuatan yang luar biasa, memungkinkan aku untuk menyudutkan si kelinci. Kemudian, tanpa keraguan sedikit pun, aku mencekiknya sampai mati.

Membuka mulutku lebar-lebar, aku membawa kepala mayat tak bernyawa itu ke rahangku, dan aku menancapkan taringku ke dalam lehernya. Ketika darah menetes menuruni bulunya dari tempat aku menancapkan taringku. Aku menjilat aliran darah itu penuh nafsu dan menikmati setiap bagian dari binatang liar itu. Ah, lezat.

Aku mengunyah tempurung kepala. Cairan tulang belakangnya meledak. Dan dengan senang hati, aku menyeruputnya, mengirimkan semburan gelombang kenikmatan sepanjang tubuhku.

Seperti itu lah aku mencegah laparku.

Kemudian aku ingat sesuatu.

Bukankah ada kisah seorang laki-laki yang menjadi harimau?  

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded