Goblin Kingdom Chapter 2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

KERAJAAN GOBLIN

CHAPTER 2 : GEKOKUJOU

TL Note: ‘tidak ditemukan dalam halaman wiki English, tapi ‘gekokujou” mengacu pada junior yang mengalahkan senior mereka. Juga, orc ditulis dengan karakter untuk iblis, binatang buas, dan babi.

Aku memuaskan laparku dengan mengejar mangsa-mangsa kecil.

Berkat itu aku sanggup melewati malam.

Jumlah mangsa yang sudah kulahap totalnya ada empat. Dua diantaranya adalah kelinci, satu kodok, dan yang satu lagi adalah kadal.

Makan seperti ini, jika aku masih manusia, maka pastilah aku sudah muntah. Tidak dipertanyakan lagi. Dengan makanan ini, dan istirahat tadi malam, tidak ada lagi keraguan yang tersisa di dalam diriku.

Monster.

Aku adalah seorang monster.

Melihat bentuk mengerikanku ini sudah menjadi agak normal. Setidak-tidaknya, aku tidak lagi menggigil ketika aku melihat diriku sendiri.

Disamping itu, ini tidak seburuk itu. Aku menyadarinya ketika perburuanku yang pertama. Tubuh ini sangat lebih hebat disbanding tubuh manusia.

Mata yang melihat dalam gelap, kuku yang bisa merobek mangsanya, dan taring yang cukup kuat untuk menerkam. Kekuatan seperti itu bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan lemah manusia.

Terlebih lagi, tidak ada apapun lagi yang ditakutkan ketika berhubungan dengan air kotor. Daya tahan tubuh ini luar biasa, air kotor tidak akan menyentuhnya.

Kemanusiaan sudah menahan banyak hal melalui jalannya evolusi. Dan hal-hal yang hilang dari kemanusiaan ini, tubuh ini masih memilikinya.

Jika aku begitu menginginkannya aku bisa menjalani sisa hidupku seperti ini, dan aku tidak akan punya masalah sedikit pun. Karena tubuh ini sebenarnya lebih nyaman dari tubuh manusia.

Tentu saja, aku ingin dibebaskan dari keharusan tinggal melarat disini sebagai monster.

Menelungkup dalam naungan bayangan pohon, aku mulai berpikir.

Sekarang, apa yang harus kulakukan?

Aku tentu saja tidak ingin menjadi seorang monster.

Aku telah membaca sesuatu tentang keadaan seperti ini sebelumnya. Ini adalah kisah tentang seorang laki-laki yang menjadi harimau. Dalam kisah itu, si laki-laki menjadi gila, dan dia menjadi harimau tidak hanya tubuhnya, tapi juga pikirannya.

Aku berharap tidak berakhir seperti itu.

Kemungkinannya, aku berada di dunia yang berbeda. Dan kemungkinan besar, aku bukan lagi manusia. Maka kalau begitu, aku harus menemukan cara untuk kembali.

Sekarang, apa yang harus kulakukan?

Aku merenungkan kutukanku pada tindakan terhadap diriku saat aku main-main dengan kelinci yang aku tangkap tepat sebelum dinihari.

Memikirkannya kembali, bukannya goblin itu bicara?

“Dapatkan makanan”, katanya.

Dia mengatakannya, dia benar-benar mengatakannya. Jika begitu, maka dia mampu untuk berbicara.

Karena memungkinkan untuk saling memahami, maka itu berarti akan ada goblin yang lain juga?

Aku mungkin tidak tahu bagaimana untuk kembali, tapi jika disana ada komunitas, maka seharusnya ada cara untuk aku mendapatkan informasi.

Dengan itu, aku bulatkan pikiranku. Aku ambil kelinci dan mulai berjalan ke arah lubang itu.

Tapi sesegera aku melakukannya, aku merasa dingin menjalari tulang punggungku, menyebabkan aku menghentikan jalanku. Ketika aku merasakan sensasi itu menjalariku, aku langsung lompat ke dalam semak-semak.

Ketakutan menjalari seluruh tubuhku, menyebabkan kakiku gemetar tak terkendali.

Penasaran dan waspada, aku tajamkan telingaku. Disana, suara desahan penuh kesakitan masuk ke telingaku. Pada saat yang sama, aku melihat laba-laba raksasa kira-kira seukuran dua orang dewasa berjalan seperti raja.

Hatiku tenang seperti es, tapi anggota tubuhku gemetaran tanpa ada tanda-tanda akan berhenti.

Logika mempertanyakan identitas monster itu, tapi instingku membangunkan semacam ketakutan primordial terhadap binatang buas.

Tubuhku tak bisa tidak menggigil ke keseimbangan kekuatan antara pemangsa dan mangsa. Satunya memakan dan yang lain dimakan.

Enam merah sepenuhnya, bukan mata manusia, melihat sekeliling seolah mencari mangsa. Sementara enam anggota badan, masing-masing sebanding dengan tinggi satu orang manusia, mengangkutnya.

“Kisha!”

Saat aku berpikir bahwa ini tiba-tiba berhenti bergerak, monster laba-laba itu tiba-tiba melompat ke dalam semak berlawanan dengan semak tempat aku sembunyi.

“Guwoo!”

Makhluk yang bersembunyi di semak sebrang kaget, dan dilanda panic. Makhluk itu memiliki kepala babi mengerikan, dan pada saat yang sama, dia memiliki dua kaki untuk berjalan. Dengan kata lain, sesosok Orc.

Panic, orc itu berusaha melarikan diri, tapi monster laba-laba mengejarnya. Orc berusaha lompat keluar dari semak-semak, tapi monster laba-laba menggerakan dengan lincah anggota badannya yang panjang dengan kecepatan yang terlalu cepat untuk penglihatan mata, memojokannya.

Disudutkan, orc ditekan dari belakang dengan dua kaki laba-laba. Kemudian,  monster laba-laba mendekatkan rahang dinginnya ke kepala orc. Dengan sekali ‘hap’, taringnya sedikit masuk ke dalam kepala orc, meremukan tengkoraknya dan mengeluarkan cairan spinal yang kebanyakan, otak, dan darah, kedalam mulutnya. Serpihan-serpihan dari kepala babi mengerikan itu menggenang di dalam celah karnivora itu, monster laba-laba dengan rakus melahap setiap potongannya seolah butuh waktu, menikmati waktu makan.

Melihat pertarungan dua monster pada puncak rantai makanan itu terbentang tepat di depan mataku. Tubuh yang besar sekali milikku ini, mau tak mau gemetar.

Bagaimanapun, aku mengumpulkan setiap rasa alasan yang aku punya di salam tubuhku, mengerahkan keberanian apapun yang aku bisa untuk pergi tanpa suara. Setelah agak jauh, aku langsung berlari secepat yang aku bisa dan aku langsung menuju ke lubang.

Aku, yang pernah dan seharusnya tinggal diantara manusia seumur hidupku, baru saja tersadar akan kemustahilan alam, hokum rimba.

rqr

“Gigi!”

Suara yang tidak dapat dipahami lepas dari mulutku, ketika aku berteriak sambil aku berlari.

Tapi saat aku mencapai lubang. Mau tidak mau aku merasa ragu untuk masuk ke lubang yang sempit dan gelap itu. Bagaimanapun, aku tidak bisa meluangkan waktu bermain-main karena laba-laba raksasa itu mungkin datang kapan saja. Tidak punya waktu yang tersisa, aku menaikan suaraku, dan memanggil kea rah lubang. Tidak lama kemudian, goblin yang sebelumnya keluar.

“Makanan.”

Wajah mengerikan yang sama, ditemani oleh tatapan yang tidak bisa dijelaskan sebagai apapun lagi selain benci. Bagaimanapun, ada satu hal yang mengagetkanku, perbedaan tinggi kami.

Walaupun aku hanya melewatkan satu malam di luar, kelihatannya aku sudah tumbuh cukup lumayan.

Aku menyerahkan kelinci ke si goblin, dan dia memandangnya tanpa mengatakan apapun. Kemudian dia menghilang ke dalam gua. Aku tidak tahu apa aku harus mengejarnya atau tidak, tapi sebentar kemudian, dia keluar lagi. Dengan pandangan jahat, dia membentak ke arahku.

“Masuk! Musuh, datang!”

Si goblin menarik tanganku dengan kuat, dan membawaku masuk ke dalam gua.

Aku mengumbar tangisan pada kekuatan yang tak tertahankan itu. Akhir-akhir ini, memang tidak ada niat untuk menahannya dari awal.

Si goblin kemudian melemparku ke dalam sebuah ruangan, dan dia dengan cepat melintas untuk memungut sebuah pentungan.

“Ambil”

Ketika aku melihat sekelilingku, aku menyadari sesuatu. Ruangan itu mungkin terlihat sedikit bobrok, tapi ini sebenarnya gudang senjata.

Bagaimanapun juga, dia ingin aku untuk memilih satu, benar?

Ketika aku merasa takut terhadap si goblin, aku menggeledah gudang senjata itu mencari senjata. Sayangnya, semua kualitasnya payah.

Bukan berarti aku berharap monster-monster ini memiliki katana jepang atau sebilah tombak, tapi meskipun begitu, aku mengharapkan sesuatu yang setidaknya mirip senjata.

Dengan pikiran seperti itu, aku sulit untuk menemukan sesuatu yang lebih sesuai dengan khayalan, seperti sesuatu yang mirip pedang panjang. Sayangnya, bagaimanapun, semua yang bisa kutemukan adalah sebuah pentungan yang agak panjang, tiang pancang yang tajam, dan garpu yang biasa digunakan untuk bertani.

Yah, lebih baik dari pada tidak ada kukira.

Dengan itu aku meyakinkan diriku, dan aku mengambil pentungan itu.

“Sini.”

Kata si goblin saat kami dengan cepat meninggalkan ruangan.

Sementara setengah memperhatikan, aku mengikuti di belakangnya.

rqr

“Cepat.”

Orang itu memaksaku untuk berjalan lebih cepat, sementara aku harus mengendalikan pentungannya. Aku punya pikiran bahwa dia hanya ingin aku untuk memilih senjata, tapi kemudian dia memaksaku ke permukaan, dan kemudian dia bahkan membuatku berlari. Akhirnya, setelah buru-buru tanpa berpikir, kami tiba di tujuan kami, sebuah desa yang terlihat diabaikan.

Aku tidak bisa benar-benar mengatakan juga, seperti apa ini benar-benar desa yang diabaikan atau bukan, seperti aku bisa menemukan beberapa bayangan yang menggeliat-geliat.

Apa ini?

Ternyata yang telah berkumpul di sana adalah sejumlah besar goblin hijau. Dan di tengah itu ada yang keberadaannya seperti bos yang memiliki kulit merah.

“Sini!”

Goblin yang datang bersamaku, mengambil lenganku dengan tangan, dan membawaku ke tempat bos merah berada. Ketika goblin itu membawaku, mau tidak mau aku membuka mataku lebar-lebar pada sesuatu yang tidak bisa terpikirkan untuk memiliki keagungan.

Goblin merah berperawakan terhormat, lengan yang besar, kilatan tajam pada mata, dan lebih dari apa pun, wajah yang mengerikan. Ini dilengkapi dengan baju besi berkarat, dan sebilah pedang dengan pecahan pada mata pisaunya. Melihat ini, mau tidak mau aku ingin meragukan bahwa kita berada di ras yang sama.

“Raja, datang. Ini, orang sepele.”

Mendengar kata-kata yang dipotong-potong ini, aku punya tebakan yang sangat bagus pada hubungan mereka berdua.

Yang merah adalah raja mereka, dan goblin-goblin yang lain adalah pelayannya. Dan lagi, orang ini membuatku memiliki pertemuan dengan raja sebagai seseorang yang bahkan lebih rendah darinya.

Kemudian tiba-tiba, raja melihatku.

“Kau, terakhir. Brengsek lamban, beri hukuman.”

Dengan kata lain, dia ingin menghukumku karena aku terakhir?

Jangan macam-macam denganku… siapa kau pikir dirimu?

Ketika aku memikirkan itu, goblin yang di samping si brengsek merah sudah menyematkan aku.

“Aku, lemah lembut. Tidak akan membunuhmu.”

Melihat ke atas, mataku berpapasan dengan mata goblin merah.

Ketika aku melihat mata monsternya, aku berpikir pada diriku bahwa aku tidak akan pernah lupa pandangan itu.

Mata ini keruh dengan perasaan superioritas dan penghinaan. Semacam pandangan merendahkan yang orang tua, guru atau saudara kandung menyebalkan akan berikan padamu.

kemudian aku merasa punggungku dipukul.

“Gugigi!”

Merasakan sakit itu, mau tidak mau aku mengeluarkan tangisan.

Goblin merah itu sedang memukuliku dengan pentungan, sambil menunjukan tanda-tanda kesenangan.

Ini terasa seperti dia menikmatinya, menganiaya aku, dan memukuli ku beberapa kali. Setelah beberapa saat, dia berhenti, dan kemudian dia menginjak kepalaku dan mengatakan ini.

“Aku, Raja. Jangan… tidak taat.”

Aku akan membunuhmu.

Aku tidak tahu dimana ini, tapi aku pasti akan membunuhmu!

Di dunia yang seperti mimpi buruk ini, untuk pertama kalinya, aku sanggup mengembalikan emosi lama. Ini adalah dunia perbedaan dari hasrat untuk makan, yang membimbingku hanya beberapa saat yang lalu.

Aku tidak keberatan meskipun jika kau mengatakan ini manusiawi.

Mungkin kau bisa mengatakan bahwa emosi semacam itu seharusnya tidak lair di dunia seperti ini yang ditegakkan dengan hokum rimba. Di dunia macam ini dimana yang kuat selalu kuat, dan yang lemah selalu lemah.

“Jawab.”

Saat benci memenuhi ku, cukup sampai ke titik dimana bisa berhamburan, aku membalas.

“Gai.”

Aku tidak akan menentang.

Saat darah biru mengalir dari tubuhku, aku bersumpah, aku akan membunuh keparat ini.

rqr

Saat aku bersumpah serapah sambil bos goblin menginjakku, aku mendengar suara yang mirip teriakan dari suatu tempat yang jauh.

“Mu…suh!”

Tiba-tiba, aku ditendang ke samping, dan bos merah menaikan suaranya.

Sementara aku dilemparkan ke tanah seperti sampah, dengan pikiran kosong aku menatap pada adegan itu.

Disamping goblin merah ada banyak goblin, dan diujung pandangannya adalah tiga orc.

Orc-orc ini merobohkan beberapa lusin goblin seperti mendekati goblin merah.

Tapi meskipun jumlah goblin luar biasa, orc-orc itu yang dua kali ukuran mereka, dengan mudah menyapu mereka dengan pentungannya.

Mereka tidak seimbang.

Itu adalah kesan jujur ku. Dengan perbedaan besar pada tubuh itu, tidak mungkin mereka bisa memenangkan pertarungan terbuka.

Dengan satu ayunan, kepala mereka hancur, dan cairan tulang belakang mereka berhamburan. Goblin-goblin menyerang orc itu satu persatu. Tapi pedang tebal mereka dihentikan oleh lemak orc, dan tidak bisa menyebabkan luka fatal.

Selama ini, si goblin merah hanya menatap pada goblin-goblin tanpa berusaha menolong.

Bos merah itu hanya melihat pada orc-orc ini seperti mereka dikelilingi oleh dinding goblin hijau. Saat dia menonton, dia bahkan membuat goblin-goblin di sampingnya ikut bertarung.

Tapi yang semacam itu tidak ada artinya. Sesuatu seperti itu kemungkinan tidak ada harapan untuk menghentikan tekanan para orc. Dan menggunakan tubuh mereka, para orc sanggup menghancurkan dinding para goblin.

Yang dibutuhkan untuk semua itu adalah satu goblin yang jatuh. Selama ada satu yang jatuh, dinding juga akan mengikutinya. Tapi bukan berarti para orc tanpa luka. Kenyataannya, para orc terluka di seluruh tubuh mereka, begitu banyak sampai mereka marah. Kau bisa lihat mata mereka berkerlip dengan amarah, dengan tidak ada jejak alas an yang tersisa.

Mereka pasti putus asa untuk keluar dari pengepungan.

Dan kemudian satu dari orc-orc ini menarik goblin merah dan dia jatuh dengannya.

“Gururu!”

“Guga!”

Walaupun ini adalah benturan dari dua monster, ini berakhir dengan cepat.

Semua yang tersisa adalah hasil yang sudah diperkirakan.

Orc itu mengabaikan sayatan dalam dari bahunya, mengirim goblin merah terbang, dan mereka menghilang ke dalam hutan.

Sementara untuk  goblin merah, aku piker dia kehilangan kesadarannya.

Dia bahkan tidak berkedut.

Saat aku memikirkan itu, aku menyadari sebilah pedang dari sudut mataku. Pedang yang dijatuhkan, pedang dengan mata pisau yang terkelupas.

Ba dum.

Pada saat itu juga, aku mendengar detak jantungku seperti mulai berlomba…

Aku mengumpulkan kekuatan apapun yang aku bisa, mengabaikan gerutuan monster saat aku duduk.

“Gi gigi—-“

Ya, ya. Ini adalah pergantian kejadian yang sangat kebetulan, yak kan?

Benar?

Meskipun sedang pusing, aku cengkeram sesuatu yang menarik perhatianku.

Pedang panjang dengan mata pisau yang terkelupas.

Kemudian aku mendekati goblin merah yang tak bergerak itu.

Dia seharusnya tidak mati hanya karena itu.

“Gigigi.”

——-Mati, jalang.

Aku tusukan pedang panjang itu ke dalam leher goblin merah dengan seluruh kekuatanku.

Ketika ujung pedang sudah menusuk dalam tenggorokannya, aku ayunkan pedang secara horizontal.

“Gigugyaguguaa!”

“Dji, —-Djai”

Dan saat gema kematian goblin merah bergema, dia menarik nafas terakhirnya, dan kemudian berhenti.

“Gu, Babbabba…”

Aku membunuhnya.

“Gigigugugagu.”

Apa ini?

Aku sebenarnya jauh lebih bingung dari yang kuperkirakan.

“Gi, gigu!?”

Saat aku berpikir begitu, aku merasakan sesuatu meledak dari dalam diriku, menyebabkan aku jatuh berlutut.

“Gigi, guha!?”

Ketika aku merasakan sesuatu yang asing dari dalam diriku, mau tidak mau aku memegang kepalaku. Sesuatu sedang terjadi. Sesuatu yang tidak bisa dijelakan, sejenis sensasi mengerikan, memakanku dari dalam.

Disana, aku mendengar sebilah pedang jatuh dengan berdebuk dari kejauhan.

“Ah… ahhh…”

Hanya satu detik yang sudah lewat, tapi terasa seperti satu jam rasa sakit.

Ketika rasa sakit itu sudah surut, aku melihat sekeliling.

Terlalu sunyi.

Melihat sekitar, aku menemukan kejutanku bahwa semua goblin melihat ke arah aku.

Apa aku… apa aku dalam masalah?

Meskipun sayangnya, aku tidak bisa mengumpulkan bahkan kekuatan kecil pun. Apalagi kekuatan untuk melarikan diri.

Ketika aku ketakutan untuk yang terburuk, seorang goblin melangkah maju.

“King.”

Apa?

“Ahh?”

Apa yang dikatakan goblin ini tadi? Raja?

“Perintahmu.”

Merasa ragu, aku menatap balik pada kata-kata kaku ini, kemudian aku melihat lenganku.

Merah, mengerikan, dank keras seperti baja.

Bagaimana seharusnya aku menjelaskan emosi-emosi yang kurasakan pada saat ini?

Ini bukanlah kebahagiaan sederhana dengan menjadi kuat. Maupun rasa jijik dari dinodai dengan kejelekan. Malah, aku dimabukkan.

Sampe aku heran.

Tapi bagaimanapun juga, aku pasti mabuk.

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded