God Of Cooking Chapter 58 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Dewa Memasak – Bagian 58: Perjalanan, memasak, dan bisnis (4)

Dia berpikir bahwa yangdisebut kewalahan adalah seperti ini. Melihat pakaian yang berwarna-warni dan orang-orang dari berbagai budaya, dia merasa senang dan takut sekaligus. PD yang paling junior menghampirinya dan berkata,

“Apa kau akan buka sekarang?”

“Iya.”

PD mengangguk dan kembali dengan stafnya.  Martin tidak ada di sana. Seperti halnya para peserta yang dibagi menjadi 3 tim, para staf juga harus dibagi 3, dan Martin bertanggung jawab pada tim Chloe.

Saat Jo Minjoon membuka pintu samping truk, anggota tim yang sedang mempersiapkan diri, melihat keluar dengan wajah tercengang. Jo Minjoon memahami mereka. Meskipun Grand Chef berpengaruh besar, dia tidak pernah berpikir bahwa pelanggan yang datang sebanyak ini.

Jo Minjoon masuk ke dalam truk dan berkata,

“Bagaimana kita sebaiknya menangani ini? tolong 2 orang coba hitunglah dan 3 orang lainnya buatlah lagi yang lebih banyak, bagaimana? Memasak nasi setidaknya butuh 30 menit, Hmmm…. Bahan-bahan apa yang tersisa?”

“Kita kehabisan daging dan alpukat tinggal sedikit.”

“…Maka kita tidak perlu membuat hamburger dan tuna alpukat. Kita akan menggunakan beras yang kita gunakan semalam. Bagaimana dengan yang lain?”

“Masih ada ayam tandoori panggang yang tersisa, bisakah digunakan?”

 “Norimaki dimakan saat dingin, meski begitu jika sudah terlalu lama, menurutku akan terasa tidak enak. Tapi marilah kita tetap memperhatikannya. Jadi, tidak ada lagi bahan yang tersisa?”

“Iya. Kita sudah menggunakan semuanya.”

“Aku akan mencuci beras dahulu. Kalian tetaplah menerima pesanan.”

Kita tidak boleh kehilangan banyak waktu. 4 orang yang bediri di depan meja stan, menyajikan, dan membungkus pesanan. Orang yang menerima pesanan dan pembayarannya adalah Joanne. Sejujurnya, 3 orang sisanya tidak punya karakter yang bisa menerima pesanan pelanggan dengan baik, Anderson ketus, Ivanna suka melamun, dan Peter…yang begitulah.

Selain Joanne, Jo Minjoon juga bisa  melayani pelanggan, tapi orang terbaik untuk mencuci beras adalah Jo Minjoon, dan proses yang paling lama untuk membuat norimaki adalah memasak beras. Dia harus menyiapkan itu sebelumnya.

Dia ragu-ragu dengan jumlahnya, tapi untuk sekarang, dia memutuskan memasak nasi untuk seratus orang. Dia harus mengisi 2 sampai 3 penanak nasi elektrik. Mungkin, lebih banyak pelanggan akan datang, tapi misalnya mereka sudah berhenti datang, dia harus menanggung ruginya.

Dia bisa menggunakan sisa nasi untuk malam hari, tapi sejujurnya dia tidak menyukainya kaena nasi yang baru saja di masak dan nasi yang sudah lewat 5 jam, rasanya jelas berbeda. Meskipun disimpan dengan baik, rasanya akan berkurang. Dari pelanggan yang datang, yang melihat Grand Chef mungkin sekitar separuhnya. Dia tidak ingin mengecewakan mereka. Tentunya, minimal dengan kondisi nasi yang baik, rasa norimaki tidak akan terlalu berubah bagi mereka. Itu adalah jiwa seorang chef yang setidaknya selalu ingin menyajikan yang lebih baik.

“Minjoon, jika kau sudah selesai, tolong ambil alih meja kasir.”

“Aku selesai, tapi ada apa?”

“Aku ingin menyiapkan barbeque babi dan…”

Joanne berbisik di telinganya seolah-olah dia mengatakan sebuah rahasia.

“Orang-orang ingin melihatmu. Kau bintang yang populer.”

“…Kau berhasil membuatku malu.”

Menjadi bintang yang populer, dia tidak tahu kenapa istilah itu membuatnya bergidik. Jo Minjoon mengerutkan dahi, dan tidak lama kemudian dia sedikit tersenyum dan mendatangi meja kasir. Saat dia berdiri di balik meja kasir, pelanggan pertama yang dia lihat adalah seorang gadis Asia. Dia tersenyum sangat lebar hingga mulutnya tampak seperti akan sobek.

“Hallo! Aku adalah penggemarmu!”

“Terima kasih. Kau orang Korea yaa?”

“Iya. Aku baru saja mendengar bahwa kau berjualan dengan truk makanan di dekat sini, jadi aku segera naik mobil untuk datang ke sini.”

Gadis itu berbicara bahasa Korea. Sekarang, jika dia memikirkan itu, sepertinya sudah lama sejak terakhir dia berbicara dan bertemu dengan orang Korea. Mencium aroma parfumnya yang wangi, Jo Minjoon tersenyum dan bertanya,

“Apa yang ingin kamu pesan?”

“Satu tuna alpukat dan satu ala Korea. Dua iris cukup mengenyangkan, bukan?”

“Iya, jika kau bukan orang yang banyak makan. Totalnya 4.5 Dollar.”

“Ini. Semoga menang. Aku akan mendukungmu.”

Jo Minjoon tersenyum alih-alih menjawab. Gadis itu bukan satu-satunya orang yang bertanya hal lain selain harga pesanan. Tentunya, ada banyak orang yang bertanya dengan hati-hati. Mereka bertanya saat Jo Minjoon tengah mengambil uang mereka dan mengambil uang kembalian dari mesin kasir. Pertanyaan yang paling banyak dilontarkan sudah jelas, yaitu

“Katakanlah dengan jujur. Apa hubunganmu dengan Kaya?”

Pertanyaan seperti itu. Saat pertama kali, Jo Minjoon menjawab bahwa dia tidak punya hubungan khusus dengan Kaya, tapi ada orang yang tidak percaya sama sekali mendengar jawaban  itu. dia. Yaa, meski peserta lain pun tidak percaya dengan Jo Minjoon.

Namun, Jo Minjoon tidak bisa mengatakan apa yang ingin mereka dengar karena bukan itu kebenarannya. Jo Minjoon berpikir bahwa mereka hanya berteman atau paling jauh sebagai adik-kakak.

Selain pertanyaan tentang Kaya, ada pula pernyataan yang bagus, di antaranya, “Aku lihat kau memasak dengan baik. Aku ingin hidangan yang enak. Apa kau yakin akan menang?” Dia menjawab sewajarnya semua pertanyaan itu, tapi itu malah menjadi bumerang baginya. Rata-rata, 2 atau 3 orang dalam semenit, dan mereka kebanyakan membeli dua iris masing-masing, jadi, setelah satu setengah jam berlalu, setidaknya separuh dari 300 norimaki telah terjual.

Yang pertama habis terjual jelas yang berisi barbeque babi. Sudah terkenal sejak dulu bahwa orang Amerika sangat suka barbeque babi. Yang habis terjual kedua adalah yang berisi hamburger.

Menu yang paling laris tidak terduga. Di sisi lain, Jo Minjoon menduga, yang paling laris  adalah norimaki ala Korea, alias kimbap. Tentu ada banyak jenis norimaki yang diisi seperti kimbap Korea, tapi mereka menamainya dengan Norimaki ala Korea. Jadi, dia pikir itu cukup riskan.

Namun tidak terjadi seperti itu, Kimbap menempati urutan ketiga. Urutan yang terakhir yaitu yang berisi telur landak laut. Saat dia merancang menu, dia pikir itu tidak akan mendapat hasil yang bagus, tampaknya telur landak laut kurang menarik bagi orang Amerika. Tapi beruntungnya, mereka tidak membuatnya lebih banyak dari menu yang lain.

“Nasi seharusnya sudah matang. Joanne, jika kau sudah selesai membuat barbeque, kemarilah.”

“Tunggu sebentar. Semenit lagi.”

Joanne menjawab bahkan tanpa membalik badan karena dia sangat sibut. Norimaki semakin berkurang, tapi antrian masih sangat panjang. Dibanding saat pertama mulai, sekarang lebih baik. Namun, jika antrian masih terus bertambah, norimaki akan habis dalam waktu 30 menit.

“Selesai! Ayo bertukar.” Kata Joanne menghampiri Jo Minjoon.

Jo Minjoon menyelesaikan tugasnya dan kembali ke penanak nasi. Nasinya sudah matang sempurna. Karena dia mencuci beras lebih baik dari biasanya, nasinya sama sekali tidak berbau dan setiap bulir beras bentuknya bagus. Itu sangat sempurna, hingga membuatnya tersenyum.

“Anderson, apakah udang goreng dan karaage sudah selesai?”

“Aku meletakkannya di atas saringan. Kau bisa segera menggunakannya setelah semua minyaknya menetes.”

Sejak awal, Anderson tidak membungkus norimaki, tapi menyiapkan isiannya. Dia tidak kewalahan karena orang yang bertugas menerima pesananlah yang sangat sibuk hingga tidak bisa beristirahat, tapi masih bisa ditangani.

‘Apakah kita sebaiknya menempatkan satu orang lagi di kasir?’

Itu sulit, karena  tiga orang sisanya harus fokus membungkus pesanan. Dia berpikir lebih baik hanya satu orang yang yang bertugas di meja kasir. Namun kecepatan irisan norimaki habis juga tentu berkurang.

“Haruskah aku mengganti metode berjualan?…”

Itu bukan masalah yang harus dia pikirkan saat ini. Jo Minjoon menuangkan cuka dan menjaga kelembapan nasi dengan cara mengusapnya dengan hati-hati. Nasi tidak boleh menggumpal agar cita rasa nya terjaga.

Setelah itu, meletakkan nasi, merata di atas lembaran rumput laut, lalu menggulungnya setelah diberi isian. Isiannya adalah barbeque babi, karaage, dan udang goreng. Dari bahan yang tersisa yang mereka punya, ini adalah menu yang paling laris. Mereka membuat 2 kali lebih banyak kali ini.

Jo Minjoon dan Anderson yang menggulung semua norimaki itu, akibatnya otot lengan mereka meregang begitu keras, dan tengkuknya semakin kaku.

‘Ini adalah bagian sulit dari restoran.’

Di restoran dengan menu yang berkualitas baik, ada banyak kejadian yang membuatmu harus tetap mengerjakan satu hal berulang-ulang tanpa memotong alur kerja. Saat Jo Minjoon bekerja sebagai chef yang paling junior di restoran yang mewah, adegan yang dia lihat sama persis. Dia harus terus memotong sayuran dengan konsisten.

Oleh karena itu, Jo Minjoon justru senang dengan rasa lelahnya karena dia lelah karena memasak, bukan menyiapkan bahan. Itu adalah masakannya. Masakan mereka. Dia bisa memegang pisau dan wajan, serta membuat pelanggan tersenyum. Hanya dengan itu, dia merasa damai. Anderson menjulurkan lidahnya dan berkata,

“…Ayo istirahat sebentar. Omong-omong, kita tidak perlu segera menggulung semua ini. Lebih baik membiarkannya sebentar. Kecepatan kita menggulung lebih cepat dari irisan ini terjual.”

“Istirahatlah sebentar. Aku akan sedikit lebih lama.”

“Jika ketua tim bertindak demikian, apa aku bisa menghentikannya?”

Anderson menggerutu dan terus menggulung norimaki. Jo Minjoon melihat Anderson dan diam-diam tertawa. Tidak lama, tapi itu tetap restoran mereka. Dia punya pelanggan dan juga rekan yang baik. Jika suatu saat nanti, dia berada dalam situasi seperti ini di restoran, dia akan…

“Kupikir aku akan mati.”

“Aku juga. Ah, bahkan berbicara juga susah saat ini.”

Pada suara datar Ivanna, Joanne mendesah dan setuju. Mereka bekerja 2 setengah jam lebih sedikit. Mereka menjual habis norimaki tanpa meninggalkan seiris pun. Namun, untuk isian telur landak laut, para pelanggan membelinya tentu karena tidak ada yang lain. Yang lain sudah terjual habis begitu selesai dibuat lagi. Norimaki dengan isian barbeque, karaage, dan yang lain juga terjual habis.

Jo Min Joon tersenyum culas,

“Tahukah kalian apa yang lucu?

“Melihat kau tersenyum seperti itu, sepertinya itu bukan sesuatu yang lucu. Tapi, katakan dulu.”

“Setelah setengah jam, kita harus mulai lagi.”

“… … …”

Joanne menatapnya tanpa berkata apa-apa. Ivanna juga melihatnya dengan wajah masam di sebelah Joanne. Anderson menghela nafas.

“Aku membantu orang tuaku di toko mereka, tapi ini sepertinya jauh lebih melelahkan dari pada itu.”

“Berdiri pun juga sambil bekerja. Bukan. Menurutku, berdiri adalah pekerjaan yang paling susah. Bagaimana mungkin itu lebih melelahkan dari pada lengan dan kakiku yang bergerak setiap saat?”

“Sandarkan kepala kalian karena setelah ini kalian tidakakan  punya waktu untuk melemaskan tengkuk kalian.”

Pada kata-kata Jo Minjoon, 4 orang dari mereka menyandarkan kepala mereka bersamaan, seolah-olah mereka telah menghitungnya. Beruntung sekali ada kamera yang terpasang karena itu adalah adegan yang lucu,. Jika mereka melewatkannya, itu sangat disayangkan. Jo Minjoon berkata sambil memijat tengkuknya.

“Aku penasaran dengan apa yang dilakukan rekan yang lain. Jika mereka punya pelanggan sama banyak dengan kita, mereka tidak akan bisa memangkas antrian karena menu sederhana seperti norimaki saja sudah begitu melelahkan.”

“Oh, memikirkan itu, Sekarang ini… Tunggu sebentar.”

Joanne mengangkat ponselnya. Pada saat itu, ke-4 rekan yang lain, menebak apa yang akan dia lakukan. Pasti ada beberapa pelanggan di truk makanan tim lain dan mereka tidak akan diam saja. Jadi, menunya pasti akan bocor keluar. Joanne melihat ke layar sekian lama. Peter, yang sedang merasa tertekan, tidak bisa menahannya lagi, lalu bertanya,

“Apa? Apa itu? Cepat katakan.”

“Tunggu sebentar. Aku sedang membacanya sekarang. Pertama, tim Hugo menjual kue dan kopi. Sepertinya, mereka membuat konsep truk kopi. Tim Chloe,… sepertinya mereka membuat kochi atau sandwich. Tapi bukan itu masalahnya., orang-orang bilang bahwa mereka bertengkar.”

“…Apa Kaya membuat masalah?”

Wajah Jo Minjoon menjadi serius. Namun, Joanne menggeleng. Dia melihat ke layar seolah-olah dia tidak bisa mempercayainya dan dan dia mengerutkan dahi.

“Bukan. Chloe yang bertengkar.”

<Perjalanan, memasak, dan bisnis (4)> Selesai

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded