God Of Cooking Chapter 81 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Dewa Memasak – Bagian 81: Yang tak dikenal (3)

Alan menggelengkan kepala seolah-olah dia benci melihat itu. Itu adalah salah satu bahan yang dia tentang untuk diikutkan dalam misi kali ini. Lebih tepatnya, itu bahan yang tidak dia setujui karena nantinya dia harus mencicipinya sebagai rekaman siaran, padahal pada dasarnya dia tidak ingin memakannya. Meski dia seorag chef tapi dia juga pria, ada banyak bahan yang enak di dunia ini, jadi dia tidak ingin menyantap hidangan itu.

Namun, itu bukan masalah bagi Martin. Begitu dia tahu rencana para juri, dia bersikeras menyarankan pelir sapi sebagai bahan masakan. Dia berkata bahwa ini misi yang luar biasa dan bahan itu bisa menghasilkan rekaman adegan dan reaksi penonton yang bagus. Alan mengakui bahwa pendapat Martin cukup persuasif. Tapi…

‘Benda itu akan tetap masuk ke mulutku.’

Alan merasa sangat kesal memikirkannya. Bukannya dia tidak pernah mencoba hidangan pelir sapi, tapi setiap kali memakannya, dia membencinya. Apa yang terpikir olehnya saat itu adalah ‘jangan memakan itu lagi’. Akankah Kaya mampu membuat rasanya begitu luar biasa hingga bisa mengubah pemikiranya?

Alan berhenti memikirkan itu lalu dia melihat meja masak Jo Minjoon. Dia sudah membuat adonan dengan telur, garam, dan kentang tumbuk yang sudah didinginkan. Melihat adonan melebar seperti kepala ular, Alan terkesima. Karakteristik adonan gnocchi yang dibuat oleh chef berpengalaman terlihat di situ. Bagian luar adonan halus seperti pudding dengan level elastisitas yang tinggi. Setidaknya, itu adalah adonan yang sesuai dengan dasarnya.

‘Dia jelas berkembang.’

Bukan berkembang pesat, melainkan Jo Minjoon meningkatkan keahliannya secara perlahan tapi pasti tanpa berhenti semenit pun. Alan tahu bahwa Jo Minjoon sebenarnya bukanlah orang yang mampu membuat adonan seperti itu. Lalu apakah itu karena dia dipengaruhi oleh chef-chef di sekelilingnya? Setidaknya, dia semakin tangguh karena punya dasar yang kuat.

Alan melihat Emily dengan wajah percaya diri dan Emily bingung melihat ekspresi Alan. Alan berkata dengan suara lebih lembut dari biasaya.

“Level adonannya bagus. Dengan mengesampingkan kombinasi dengan truffle, aku sungguh berekspektasi tinggi dengan cita rasa gnocchinya.”

“Terima kasih.”

Karena Jo Minjoon melihat Alan mondar-mandir di depannya, maka dia menjawabnya dengan singkat. Alan menyeringai lalu menghampiri meja masak di sebelahnya. Emily berkata dengan suara begitu pelan seolah-olah ingin mengatakan sebuah rahasia, dia mencondongkan badannya,

“Aku berekspektas lebih tinggi dari Alan. Semoga berhasil.”

Dan saat para juri meninggalkannya, Jo Minjoon menghela nafas dalam hati. Sejujurnya, setiap kali para juri datang, dia merasa konsentrasinya terpecah. Namun, itu memang masalah yang harus dia hadapi. Di dapur, suasananya tidak selalu kondusif untuk memasak. Pelanggan menumpuk, maka pesanan juga akan menumpuk., dan sesekali hidangannya dikembalikan. Hanya jika kau tidak terguncang dalam situasi itu, berarti kau bisa disebut chef sepenuhnya. Tapi berapa banyak sih orang yang punya mental baja seperti itu?

Jo Minjoon terus memeriksa adonan yang mulai mengembang. Setelah membuat bentuk memanjang seperti ular, langkah selanjutnya adalah memotongnya pendek-pendek selebar satu inchi. Setelah itu, adonan harus difermentasikan selama 10 menit, direbus sebentar dalam air, dituang ke dalam mangkok bersama saus krim keju, ditaburi dengan keju mozarella, lalu dipanggang di dalam oven.

Setelah dia memasukkan adonan ke lemari es, dia memeriksa keadaan saus krim keju, gorgonzola sudah meleleh. Jo Minjoon menyaring saus dan menuangkannya ke dalam mangkok tahan panas. Waktu yang tersisa tinggal 25 menit. Setelah dia memfermentasikan adonan sedikit lagi, dia hanya harus memanggangnya dalam oven selama 17 menit. Tidak alasan untuk tergesa-gesa. Namun, dia tidak bisa merasa santai.

Saat dia merilekskan badan sejenak dan melihat ke sekelilingnya, Kaya sedang mendidihkan rebusan. Chloe sedang merendam sirip hiu dalam saus yang berbahan dasar kecap asin, Anderson menggoreng anemon laut dan membuat pure. Sedangkan Ivanna, tampaknya dia mencampurkan daun bawang, bawang putih, paprika, jamur, dan bahan lainnya dengan babat, lalu meletakkannya ke dalam oven, lalu dia tampak sedang membuat pure blueberry sebagai saus.

Sedangkan Joanna, dia memanggang hati rusa seperti stik dan sepertinya menggunakan saus balsam sebagai dressing. Dan Sasha, guritanya sudah masuk ke dalam oven, sehingga dia tidak tahu. Kalau Hugo, sepertinya dia sedang merebus otak sapi muda di dalam saus.

‘..Kebanyakan mereka memanggang bahan-bahan itu.’

Sebenarnya, jika kau tidak tahu dengan baik bagaimana cara memasaknya, memanggangnya adalah pilihan yang paling mudah. Dengan memadukannya denga saus bechamel, buah-buahan, pure sayuran, atau apa pun yang tampak cocok, mudah mendapatkan hasil yang tidak begitu buruk. Akan tetapi, kau tentu tidak akan tahu berapa skornya.

Waktu terus berjalan. Jo Minjoon mengeluarkan adonan dari lemari es dan memasukkannya ke dalam air mendidih. Sebenarnya, kau perlu memasaknya selama 3-5 menit untuk mendapatkan konsistensi yang tepat, tapi karena dia akan memasaknya lagi di dalam oven, dia hanya perlu merebusnya selama 1-2 menit.

Mulai dari sekarang, setiap menit begitu penting. Jo Minjoon mengeluarkan gratin gnocchi dengan saringan lalu menuangkannya ke atas mangkok tahan panas yang berisi saus krim keju. Setelah dia menaburkan keju mozarella, dia memasukkannya ke dalam oven dengan suhu 170 derajat celcius yang telah dipanaskan sebelumnya.

Dia hanya perlu menunggu. Dia  melihat jam dinding dengan tidak sabar. Tidak seperti 10 menit pertama, 5 menit berikutnya berjalan sangat lambat, apalagi 2 menit terakhir. Saat tepat 17 menit berlalu, Jo Minjoon mengeluarkan mangkok dan tersenyum. Meskipun kau chef yang berpengalaman, hal pasti yang bisa kau lihat adalah keju mozarella yang matang dengan tepat, tapi berbeda dengan Jo Minjoon.

[Potato gnocchi gratin]
Kesegaran : 93%
Asal: (Terlalu banyak bahan untuk diketahui)
Kualitas: Tinggi
Skor Masakan: 7/10

Bahkan hidangan ini berskor 7 poin tanpa ditambah truffle. Mungkin…? Dia tidak ingin memikirkannya. Skor masakan persis seperti estimasi. Truffle parut bukan faktor yang bisa menaikkan poin dari 7 ke 8. Hal sederhana seperti memarut memang tidak membutuhkan keahlian, tapi yang paling penting kau tidak akan tahu apakah truffle bisa membuat kombinasi fantastis dengan potato gnocchi gratin atau tidak.

Sebenarnya, meski truffle putih diparut di atas keju, tidak banyak yang berubah. Hal itu cukup baik karena itu bukan kombinasi yang mengurangi cita rasa maupun skornya.

Dia tidak bisa mencicipinya, jadi dia hanya bisa mencium aromanya. Aroma truffle yang selaras dengan khas aroma tanah…itulah sepesialnya. Itu bukan aroma yang sangat menarik sejujurnya.

“Kenapa mereka menyukai ini?’

Jo Minjoon merasakan hal yang sama saat para juri makan foie gras sebagai salah satu 3 bahan terlezat di dunia. Meski itu hanya berlaku di Korea dan Jepang, dia berpikir bahwa sebutan itu disebabkan harganya yang selangit. Untuk foie gras, itu hanyalah hati yang penuh dengan lemak. Meskipun rasanya begitu sedap, lebih tepatnya terlalu sedap, itu adalah cita rasa yang akan dia tolak.

‘Meskipun level mengecapmu 8, apa kau bisa menikmati semua makanan?’

Tapi sebenarnya, alasan dia tidak isa menikmati  bahan itu dengan baik bukan karena ada masalah dengan lidahnya, tapi karena bahan yang tak dikenalnya itu. Itu adalah makanan yang tidak bisa dimakan dengan begitu mudah dan orang-orang menikmatinya karena kelangkaannya. Bahkan hidangan Korea Pyongyang Naengmyeon (평양냉면) sulit dinikmati dengan benar meski kau tidak sering memakannya.

Pada dasarnya, dia memang tipe yang sensitif dalam mengecap. Dia bisa merasakan cita rasa lebih dari orang normal, tapi agak sulit jika dibandingkandengan Kaya.

“Semuanya hentikan tangan kalian.”

Joseph berteriak dengan suara tegas. Namun Chloe, wajahnya tampak bingung. Sepertinya dia tidak bisa memenuhi tenggat waktu, sirip hiunya masih berada di dalam panci. Chloe melihat para juri dengan ekspresi seperti akan menangis tapi mereka menggelengkan kepala dengan tenang.

“Chloe, nanti bawa hidanganmu beserta pancinya. Aturan adalah aturan.”

“..Baik.”

Para peserta melihat Chloe dengan wajah simpati. Emily berkata dengan suara lembut,

“Ini pasti misi yang sangat sulit. Meskipun aku bukan chef, aku tahu kalian telah melakukan yang terbaik yang kalian bisa lakukan. Kalian sudah melakukan dengan baik.”

“Kami akan mulai evaluasi. Kaya, majulah ke depan.”

Alan adalah tipe orang yang mulai makan dari yang paling dia tidak suka. Dia melihat rebusan Kaya dengan ekspresi enggan. Sayuran dan beberapa potong daging terlihat hanya separuhnya karena tertutup dengan kuah berwarna merah yang sepertinya terasa pedas. Pada pandangan pertama, meski sekilas, sepertinya lezat… Tapi dia menghela nafas. Kaya memprovokasi Alan,

“Itu rebusan penis.”

“…Aku tahu. Tidak perlu memberitahuku lagi.”

Alan menggerutu dengan suara sinis dan ragu-ragu saat melihat hidangan di depannya selama beberapa saat. Pada akhirnya, Emily tidak tahan lagi, lalu mengangkat sendoknya dan meminum kuahnya. Dia mengangguk.

“Pertama, rasa supnya enak. Aku bisa mendeteksi samar-samar ada bau amis. Apa kau sudah memasukkan ketumbar?”

“Iya, aku memasukkan ketumbar dan bawang putih banyak sekali dan aku juga memasukkan sari jeruk nipis.”

“Mmm…Rebusan ini memberi kesan kuat dari Asia timur. Dagingnya…”

Emily mengunyah sepotong besar daging bersama dengan beberapa sayuran, Alan dan Joseph melihat Emily seolah-olah mereka melihat makhluk yang berbeda, tapi Emily mengabaikan mereka. Dia tersenyum dengan wajah santai.
“Kau menjaga rasa dagingnya dengan baik… dan kombinasi dengan bahan lainnya tidak buruk sama sekali. Aku ingin bertanya pada Jo Minjoon skor hidangan ini…”

Emily melihat Jo Minjoon. Jo Minjoon memalingkan muka dengan enggan. Dia tidak ingin memasukkan benda itu ke mulutnya bahkan saat tidak ada yang perlu dikomentari tentang masakan Kaya. Emily menepuk pelan bibirnya karena permintaannya yang tidak sepatutnya.

“Baiklah, jelas, dia juga tidak ingin memakan ini.”

“Apa boleh buat. Memangnya chef bisa pilih-pilih makanan?” kata Kaya sambil tersenyum mengejek.

Kaya marah begitu mudah tapi Jo Minjoon tidak mengatakan apa-apa. Jo Minjoon punya firasat buruk jika dia mengatakan sesuatu, dia berakhir harus makan benda itu. Namun, tebakannya separuh benar. Tiba-tiba Alan berkata,

“Kata-kata Kaya benar. Minjoon, kemarilah.”

“…Ya, kenapa saya?”

“Karena seperti yang dia bilang, chef tidak boleh pilih-pilih makanan. Karena kau punya indera pengecap yang sensitif, maka kau perlu mengenal lebih dekat bahan spesial ini karena kau akan merasakan cita rasa halus yang orang-orang tidak bisa mendeteksinya. Ini adalah kesempatan yang aku berikan padamu.”

Itu penjelasan yang begitu panjang. Saat dia mendengarnya pertama kali, sepertinya itu masuk akal dan dia juga mendengar langsung dengan telinganya sendiri. Lalu kenapa Jo Minjoon merasa bahwa Alan tidak ingin mati sendirian sehingga dia menyeret Jo Minjoon untuk mati bersamanya. Jo Minjoon mengibaskan kerah bajunya. Dia berkeringat. Joseph tertawa lalu berkata,

“Perkataan Alan benar. Memikirkan tentang indera pengecapmu, perasaanku mengatakan bahwa sayang jika membiarkan kesempatan ini lewat begitu saja.  Minjoon, coba tantang dirimu. Seorang Chef tidak boleh menghindari tantangan bahan masakan.”

“…Bagaimana dengan peserta yang lain?”

Saat Jo Minjoon mengatakan itu lalu membalikkan badan untuk melihat peserta lain, mereka melotot padanya dengan ekspresi jijik. Joseph tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Sayangnya, jumlah hidangan dan waktu tidak mengijinkan kita semua mencoba satu per satu. Menurutku, peserta lain tidak akan membencimu, mereka mendelegasikan dirimu sebagai perwakilan mereka…”

“Tidak perlu dibahas lagi, Minjoon memang punya indera pengecap yang paling luar biasa di antara kita. Jadi, kami jelas mengirim dia sebagai perwakilan kami.”

Anderson berkata dengan suara tenang. Dia melirik Jo Minjoon lalu menyeringai padanya.

‘…Aku terperangkap jebakan mereka.’

Jo Minjoon tidak bisa berkutik jika suasana berubah sedemikian rupa. Dia berpikir mungkin Martin akan membelanya, tapi dia tersenyum begitu lebar hingga mulutnya tampak sobek lebar sekali.

Bahkan Chloe sedikit tersenyum, jadi tidak ada seorang pun yang membelanya. Jo Minjoon melangkahkan kakinya dengan wajah sedih seperti sapi yang digeret masuk ke rumah jagal. Kemudian, dia melotot pada Alan. Tatapannya begitu sengit, jauh berbeda dengan tatapan biasanya yang lembut.

“Kenapa tidak Chef dulu yang mencobanya?”

“…Aku memang baru akan mencobanya. Ini, ambillah.”

Alan memberikan sendok pada Jo Minjoon. Jo Minjoon menerima sendok setelah ragu-ragu beberapa saat, dia mencicipi daging yang paling kecil bersama dengan beberapa sayuran. Awalnya, dia tidak ingin mengunyahnya, tapi di depan semua juri yang sedang menatapnya, mau tak mau dia harus mengunyahnya. Dia pun tidak berencana menelannya utuh karena itu hidangan buatan Kaya. Memikirkan tentang usaha chef yang tercurah dalam hidangan ini, dia tidak bisa memperlakukan hidangan ini seperti sampah.

‘…Aku benar-benar merasa terbuang, sungguh.’

Seperti yang telah Emily katakan, dagingnya kenyal, tapi rasa kenyal itulah yang dia benci. Aroma sapi yang kental menyebar di dalam mulut dan sungguh tidak menyenangkan. Setidaknya, masih bagus ada rasa saus. Jika Kaya hanya memanggangnya seperti biasa, hanya ditaburi garam, Jo Minjoon tidak yakin bisa memakannya. Sulit memakan itu dengan sensasi yang berbeda dengan foie gras. Setiap kali dia mengunyah dagingnya, dia merasa mendengar lolongan sapi di kepalanya entah dari mana.

Saat Jo Minjoon memakannya, Alan pun mau tak mau juga mulai memakannya. Mereka memasukkan rebusan ke dalam mulutnya dengan ekspresi serius. Meskipun ada keraguan sebelum memakannya, setelah mereka memakan hidangan itu, mereka jelas tampak baik-baik saja. Alan berkata dengan ekspresi santai.

“Kau merebus bahan itu terlebih dahulu baru memasukkannya ke dalam saus, bukan?”

“Iya.”

“Mungkin, jika kau tidak merebusnya dulu, kau tidak akan mendapatkan cita rasa seperti ini. Aku agak bimbang dengan aroma amis seperti usus sapi dalam hidanganmu. Tapi, bagaimana kau tahu metode ini? Jangan bilang kau pernah memasak ini sebelumnya?”

“Aku pernah memasak babat sapi beberapa kali. Aku tahu dengan baik perbedaan rasanya jika direbus dulu atau langsung dimasukkan ke dalam saus. Aku juga tahu pelir sapi termasuk jeroan sama seperti usus.”

Kaya memasang wajah bangga seolah-olah dia sukses mengerjakan soal yaang sulit. Tapi, senyumnya tentu lebih seperti kesombongan, tapi Jo Minjoon dapat membacanya. Apa itu karena waktu bersama yang mereka habiskan selama ini? Jelas sangat mudah membaca senyumannya.

Joseph melihat Jo Minjoon.

“Berapa skornya?”

“…7 poin.”

Segera, skor menjadi pertanyaan bagi para juri. Emily mengangguk.

“Mmm. Aku juga berpikir skornya 7. Luar biasa. Kaya, kau mendapat 7 poin dengan rebusan penis sapi.”

Senyuman Kaya mengakhiri evaluasi pada hidangannya. Namun, bukan berarti Jo Minjoon bisa kembali ke tempatnya.

“Sekarang karena kau di sini, mari kita coba hidanganmu.”

Jo Minjoon mau tak mau segera membawa mangkok yang berisi gnocchi gratin. Emily bertanya setelah dia mencoba makanan Jo Minjoon.

“Menurutmu berapa skornya ini?”

Pada saat itu, tanpa sadar Jo Minjoon hendak menjawab pertanyaan Emily. Emily menyeringai.

“Aku lupa, kau belum mencobanya, bukan? Makanlah. Kau harus tahu bagaimana jadinya masakanmu.”

Sebenarnya, dia sudah tahu meski tanpa mencicipinya, tapi tidak ada alasan untuk menunjukkan itu. Jo Minjoon mencicipi potato gnocchi gratin. Cita rasa truffle putih, cuka, dan bau tanah yang begitu kental menempel di mulut. Sensasi itu tidak mudah hilang. Meskipun dia mengunyah bagian yang tidak mengandung truffle putih, aromanya tetap menyebar di dalam mulut.

Namun, itu bukan kombinasi yang buruk. Krim keju yang ditaburi truffle putih mengeluarkan sensasi berminyak dalam hidangan itu. Jo Minjoon mengangguk.

“Ini lezat.”

“Agak aneh mendengarnya, kau mengatakan pujian itu untuk hidanganmu sendiri.”

“Aku tidak bisa mengatakan bahwa ini tidak enak. Ini 7 poin. Setidaknya, cukup bagiku hanya dengan mengatakan ini enak.”

“Bagus. Jika tidak, Aku tidak akan mengakuinya, tapi setidaknya bualanmu benar tentang hidanganmu. Kembalilah ke tempatmu, Minjoon. Kau juga lolos.”

Pada kata-kata Alan, Jo Minjoon mengepalkan tinjunya tanpa berkata apa-apa. Dia telah menyelesaikan 6 misi, dan setiap kali dia bisa bertahan, dia merasa seolah-olah dia telah sukses.

“Chloe, berikutnya giliranmu. Majulah ke depan.”

Chloe maju ke depan dengan panci di tangannya. Joseph melihat panci itu lalu berkata,

“…Sebenarnya kau tidak bisa menyajikan sesuatu yang belum diletakkan di piring. Kau tahu kan itu akan mengurangi poinmu?”

“Iya, aku tahu…”

“Bagus. Aku harap sirip hiumu sangat lezat agar bisa menutupi kesalahanmu.”

Pada kata-kata Alan, Chloe tidak mengatakan apa pun dan tetap mengusap-usap tangannya. Bagian tangannya yang terluka masih sakit. Sekarang saat dia gugup, lukanya semakin terasa sakit. Alan melirik tangan Chloe, lalu mengiris sirip hiu dan memasukkannya ke dalam mulut. Dia tampak mengunyahnya sebentar, lalu menelannya. Kemudian, Alan mundur tana berkata apa-apa. Chloe merasa rongga dadanya panas, dia terus memegangi apronnya. Joseph dan Emily juga bereaksi sama,  setelah mereka mencicipi sirip hiu, mereka tidak mengatakan apa-apa. Sepertinya mereka telah sepakat sebelumnya…

Chloe tanpa sadar menoleh ke belakan. Para peserta memberikan tatapan memberi semangat agar dia tenang. Tatapan Chloe bertemu dengan tatapan Jo Minjoon. Pada saat itu, tatapan Jo Minjoon sangat teduh dan Chloe merasa sedikit tenang. Chloe bergumam dalam hati.

‘Benar, Chloe. Kau jauh-jauh datang ke sini. Ayo semangat. Meski kau tereliminasi, kau sudah melakukannya dengan sangat baik. Dan…”

Dia tidak bisa mengungkapkan bagian terakhir meski dalam hati.

Kemudian, saatnya mengevaluasi hidangan Chloe.

< Yang tak dikenal (3) > Selesai

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded