God Of Cooking Chapter 82 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Dewa Memasak – Bagian 82: Yang tak dikenal (4)

Sup sirip hiu, hidangan ini juga disebut wich (위츠) di china, yang bisa dikategorikan menjadi dua, brown soup yang berwarna coklat gelap dan keruh, dan blue stew dengan kuah yang banyak. Hidangan Chloe adalah brown soup, dan sirip hiunya terasa manis seperti daging babi Dongpo.

Hal pertama yang akan dilihat oleh para epicurean saat mereka mengevaluasi restoran China adalah bagaimana chef di sana menangani sirip hiu. Memasak sirip hiu, di antara sekian ribu masakan china, termasuk dalam 5 hal yang paling sulit, bukan karena perlu persiapan yang khusus, melainkan bergantung dari kualitasnya. Sebenarnya, jika kualitas bahan bagus, hidangannya 50% pasti akan bagus. Jika kau bukan epicurean, kau bisa memakan itu semua dengan nikmat, meski sirip hiu tidak berasa maupun beraroma, bukan berati kau tidak menemukannya sisi kelezatannya.

Namun, berbeda bagi para epicurean. Sirip hiu jelas bertekstur seperti batang kayu, tapi dibandingkan dengan hidangan lainnya, ukuran seberapa lezat hidangan sirip hiu bergantung dari saus atau supnya. Itu tak bisa dihindari. Cita rasa hambar sirip hiu harus tetap terjaga dan juga tidak kehilangan cita rasa asli dari bahan yang lain. Apabila sirip hiu adalah bahan yang murah, mungkin kau bisa lebih mentoleransi itu, tapi sirip hiu adalah bahan yang harganya sangat fantastis, apalagi jika kualitasnya bagus. Harga hidangan sirip hiu pun jelas sangat mahal. Jika hidangan yang dibeli dengan harga yang sangat mahal itu, terdapat kekurangan sedikit saja, jelas chef yang membuatnya akan panen kemarahan para epicurean.

Tidak terkecuali dengan para juri. Mereka merasa cita rasa hidangan itu lebih sensitif dari biasanya. Mereka berusaha untuk merasakan kekenyalan sirip hiu yang mereka kunyah dan evaluasi ketiga juri cocok satu sama lain.

Joseph membuka suara,

“Chloe, menurutmu, bagaimana standar sup sirip hiu yang dimasak dengan baik?”

“…Menurutku, memasak supnya tidak boleh sampai sirip hiunya hancur, tapi pada saat yang sama cita rasa sausnya sudah cukup enak dan tidak berlebihan.”

“Lalu menurutmu apakah masakan sirip hiumu sudah memenuhi standard?”

“Tolonglah, setidaknya, itu yang terbaik yang bisa …. Aku tidak boleh mengatakan hal itu. Aku bahkan belum menyajikannya di piring. Menurutku, aku telah mencoba yang terbaik untuk mengeluarkan rasanya, … setidaknya begitu bukan?”

Sepertinya dia percaya diri, tapi kepercayaan dirinya itu menghilang dari suaranya di bagian terakhir. Apa boleh buat. Metode memasak sirip hiu yang dia tahu hanya dari membantu ibunya.

Oleh karena itu, dia berusaha keras membumbuinya dengan baik lebih keras dari sebelumnya, Dia memeriksa status masakan dan api yang digunakan. Dia berusaha fokus pada bahan dan situasinya. Itu adalah hidangan yang membuatnya mencurahkan segala yang terbaik yang bisa dia lakukan lebih dari sebelumnya. Tapi… meski begitu, bukan berarti Chloe bisa menghasilkan masakan yang enak. Alan berkata dengan suara tegas.

“Apa kau tahu semakin besar ikan hiu, semakin banyak merkuri yang terkumpul di dalam tubuhnya?”

“Iya.”

“Lalu, hanya dengan memakan sesuap sirip hiu yang mungkin bisa mengurangi seminggu dari jatah umurku, bisakah kau memastikan bahwa hidangan ini cukup berharga untuk aku coba?”

Chloe tidak bisa menjawab pertanyaan Alan. Emily menghela nafas dan berkata,

“Chloe, pendapat kami tentang hidanganmu sama ”

Setelah berapa saat, dari wajah Emily yang membeku, sebuah senyuman terkembang. Pada perubahan yang begitu tiba-tiba itu, Chloe sangat bingung dan wajahnya menegang.

“Itu adalah sup yang aku bahkan bersedia mengorbankan 15 hari dari umurku, alih-alih seminggu!”

“…Apa?”

“Aku berkata bahwa hidangan sirip hiumu sempurna. Chloe, tenanglah! Kenapa orang yang bisa membuat hidangan seenak ini malah gemetaran?”

Setelah Emily berkata dengan riang, Joseph sedikit tersenyum dan berkata,

“Emily berkata bahwa dia bisa mengorbankan15 hari alih-alih seminggu, tapi sebagai orang yang sudah tua, aku tidak setuju, dalam 15 hari, aku bisa makan banyak sekali makanan yang berbeda. Tapi pada saatnya nanti, saat cahaya dalam hidupku akan padam, menurutku aku akan mengingat rasa sup sirip hiumu.”

Chloe tidak menjawab apa-apa. Kelopak matanya terlihat bergetar karena syok, dan air mata perlahan terkumpul di pelupuk matanya. Dia mengangkat tangan untuk menutupi wajahnya. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan suara tangisannya. Emily memeluk bahu Chloe dengan wajah bersalah.

“Kami membuat suasana begitu menegangkan bagimu, kan? Maaf yaa.”

“Tidak, tidak. Bukan begitu…”

Chloe terisak dan mengusap air matanya. Garis pada kelopak matanya yang tampak begitu dalam membuat matanya terlihat begitu besar. Dia membuka lebar matanya, seolah dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tampaknya tertahan dan hanya menghela nafas lagi.

Jo Minjoon hanya melihat Chloe. Chloe, yang menyajikan hidangan masih dalam panci, meski itu menjadi faktor pengurang, tapi Jo Minjoon tidak khawatir sama sekali. Bukannya dia tidak peduli dengan Chloe, tapi dia memang tidak perlu khawatir. Skor hidangannya…

“Maaf, Aku terlalu gugup…lig-, aah…ini karena aku merasa lega.”

Dia tampak sangat gugup hingga lidahnya kelu. Alan menyeringai sambil melihat Chloe, lalu dia melirik Jo Minjoon.

“Minjoon”

“Iya, siap.”

Jo Minjoon berjalan ke depan seolah-olah dia telah menunggu momen itu. Alan tertawa karena merasa aneh.

“Aku bahkan belum mengatakan padamu untuk maju ke depan.”

“Anda bahkan membuatku memakan pelir sapi untuk pengalaman mengecapku, jadi aku juga berpikir demikian untuk sirip hiu Chloe, memangnya bukan?”

“…berikan skor hidangan ini.”

Jo Minjoon mencicipi sirip hiu dengan wajah penuh ekspektasi. Dia berpikir bahwa saat saus menyentuh lidahnya, seketika itu dia merasakan tekstur sirip hiu yang sedikit berbeda dengan yang dia pikirkan. Dia pikir, teksturnya akan lebih seperti jeli, tapi sepertinya justru lebih mirip gagang sayuran yang masih segar dan terasa enak. Dia bertanya-tanya apakah bunga bellflower yang sudah merekah dan semakin elastis, akan seperti ini rasanya.

Sausnya juga enak. Sepertinya mengandung kayu manis, bunga lawang, dan bahan lain yang dicampur dengan kecap asin, tapi ada rasa halus yang tersembunyi di balik aroma yang kental. Lobak atau bawang bombay parut yang juga ada di dalamnya bisa menjaga dengan baik cita rasa asli dan mengisi rasa hambar sirip hiu. Jo Minjoon tersenyum. Dia tidak menolak segala masakan dari negara mana pun, tapi entah kenapa dia teringat dengan momen saat dia makan di Rose Island.

Hanya dengan makanan, orang-orang menjadi bahagia. Tidak ada momen yang lebih membahagiakan saat slogan itu keluar dari mulut. Senyum bahagia terpahat di wajah Jo Minjoon. Senyumnya begitu jelas. Jika dia melebarkan senyum sedikit lagi maka mulutnya akan tampak sobek.

“Ini yang terbaik.”

“…Apa maksudnya itu?”

“Seperti yang aku katakan. Itu pujian sekaligus penjelasan. Cita rasanya terbaik dan tekniknya juga bagus sekali. Selain itu hidangan ini adalah yang terbaik yang dia masak hingga saat ini…”

Jo Minjoon berhenti beberapa saat. Dia bisa merasakan bahwa para juri menelan ludah dan tatapan mereka tertuju pada bibirnya. Saat dia melihatnya, dia merasa senang, entah kenapa. Jo Minjoon menaikkan ujung bibirnya lalu berkata,

“Ini hidangan terbaik yang muncul di asrama Grand Chef hingga saat ini.”

“Mungkinkah…” kata Alan dengan terkejut. Jo Minjoon mengangguk.

“Iya. Ini 9 poin.”

Inilah alasan Jo Minjoon tidak khawatir sama sekali terlepas dari kesalahan yang dilakukan Chloe. Ini hidangan 9 poin pertamanya dan dia yakin bahwa Chloe tidak akan tereliminasi dengan hidangan 9 poin itu.

Chloe menggelengkan kepala karena dia masih tidak percaya. Dia berkata dengan suara yang menyiratkan kebingungan.

“Tidak mungkin. Aku tidak pernah memasak sirip hiu dengan benar sebelumnya…”

“Pertama kalinya aku membuat hidangan 8 poin adalah saat aku membuat risotto dan aku tidak punya pengalaman membuat risotto.”

“…Aku telah membuat hidangan 9 poin? Benarkah?”

Jo Minjoon tersenyum lebar.

“Kau chef yang bagus. Aku tidak terkejut kau bisa membuat hidangan 9 poin di antara kita.”

“Tapi aku…”

Perkataan Chloe terhenti. Dia adalah chef yang masih kurang mantab berjalan di jalurnya. Bukan. Sebenarnya, dia hanyalah orang yang tahu bagaimana memasak dengan baik. Dia tidak bisa mengatakan itu di depan peserta lain. Lalu Joseph berkata pelan dan lembut,

“Perkataan Minjoon benar. 9 poin. Meskipun aku tidak tahu bagaimana standar yang diterapkan Jo Minjoon, dengan memberikan skor 9 poin pada hidangan di dalam panci ini sepertinya memang wajar. Kontrol dari rasa sup ini membuatkuku bisa merasakan dasar-dasar memasak yang kau pelajari hingga saat ni.”

“Tidak memasukkan banyak sayuran adalah pilihan yang bagus. Saat cita rasanya bercampur, tinggi kemungkinan cita rasa sirip hiu akan terasa minor di antara bahan yang lain. Mulai dari sekarang, aku akan memintamu membuat hidangan yang sama dengan yang kau buat hari ini, Chloe.” Kata Alan melanjutkan sambil dia tertawa riang.

Chloe secara tak sadar melihat Emily. Emily juga terkikik lalu berkata,

“Mungkin, meskipun sup sirip ikan hiumu ada di restoran China yang besar, aku tetap akan memakannya dengan nikmat. Terima kasih telah membuat masakan yang begitu lezat.”

Chloe mulai menangis lagi melihat senyuman Emily. Jo Minjoon meminjamkan sapu tangannya pada Chloe dan berkata,

“Kau juga boleh mengeluarkan ingus di situ.”

“…Terima kasih. Tapi aku tidak bisa mengeluarkan ingusku.”

Bahkan setelah mengatakan itu, Chloe justru mendengus secara tak sadar, Chloe tersipu, lalu memalingkan wajahnya. Alan, yang memperhatikan mereka berdua, lalu melirik Kaya. Dia yang biasanya berekspresi galak, tapi pada momen ini, matanya menatap tajam, lebih tajam dari biasanya. Alan menyeringai lalu berkata,

“Minjoon, kau boleh kembali. Jika dibutuhkan, aku akan memanggilmu lagi. Maksudku, nanti saat otak sapi muda atau anemon laut.”

“….Saya siap…”

Momen bahagia itu hancur seketika.  Jo Minjoon menghela nafas dan kembali ke tempatnya. Joseph memperhatikan Chloe, yang berusaha untuk berhenti menangis, tapi Joseph menjadi begitu emosional hingga berkata,

“Jangan menangis, Chloe! Jangan merendahkan dirimu. Kau itu tahu bagaimana cara membuat makanan lezat. Itu yang aku pikirkan saat aku melihatmu. Keahlian yang kau punya cukup bagus, seharusnya kau tidak perlu khawatir. Apa alasannya? Apa kau pikir kau bukan orang yang luar biasa?”

“…Aku akan berkata jujur. Aku tidak tahu jalur yang harus aku lalui. Memasak jelas hal yang paling ingin aku lakukan dan yang paling aku sukai. Namun, aku tidak tahu, hanya karena aku menyukainya, apakah memilih jalur itu dalam hidupku adalah pilihan yang benar… Aku tahu itu. Barangkali nanti saat aku mulai berpikir aku tidak bisa lagi menikmati memasak, aku akan mundur.”

Chloe mengatakan apa yang dia pendam hingga saat ini. Joseph melihat mata Chloe. Chloe tanpa sadar menghindari tatapan Joseph. Meskipun dia pria tua, matanya jernih dan tulus. Joseph lanjut berbicara,

“Kau itu tidak hanya menikmati memasak. Jika kau memulainya dengan benar, nanti kau tidak akan terbebani. Chloe, jika kau tidak menjadi chef, apa yang ingin kau lakukan?”

“…Menurutku aku akan menjadi ilmuwan forensik.”

Suara tawa terdengar, setelah jawaban Chloe. Jawabannya sungguh tidak sesuai dengan pribadi Chloe. Namun, tidak bagi Joseph. Joseph mengangguk dengan wajah serius lalu lanjut berkata,

“Kau seorang chef yang bagus sekaligus orang yang baik dan kau mungkin juga bisa menjadi ahli forensik yang bagus. Namun, menurut penilaian pribadiku, aku berharap kau menjadi chef. Aku yakin kau bisa bersinar lebih terang dibanding menjadi ilmuwan forensik.”

“…Kenapa?”

“Karena mulai sekarang aku penasaran dengan hidangan yang akan kau masak. Tentu…aku mungkin sudah terbang ke surga sebelum bisa mencoba semua masakanmu.”

Joseph berkata demikian dan tersenyum samar. Chloe pun, tertawa dengan mulut yang masih menyisakan noda air mata.

Evaluasi masih berlanjut. Entah bagaimana, Jo Minjoon juga harus mencoba masakan peserta lain. Dia melihat Martin, agar dia bisa menyelamatkannya, tapi sepertinya dia malah memberikan persetujuan pada situasi itu. Evaluasi Jo Minjoon tidak akan mempengaruhi hasil. Akan tetapi wajar jika menganggap itu bagian dari hiburan.

Anderson mendapat 8 poin dengan anemon laut yang sepertinya tidak cocok untuk dimasak sama sekali. Setelah membubuhi anemon laut dengan tepung maizena, Anderson menggorengnya, lalu menyajikannya dengan pure paprika asap. Sederhana, tapi entah bagaimana dia bisa menjaga masing-masing cita rasa dengan begitu baik? Anemon laut yang digoreng memang mudah menjadikannya enak, tapi susah dibuat terasa begitu sedap.

Namun, tidak semua orang bisa mempropagasi seperti Anderson. Sedangkan Joanne, hati rusa dimasak dengan cara dibakar dengan tepat. Dia juga sukses membuat saus yogurt mangga yang berpadu baik dengan hati rusa. Namun, dia tidak bisa menghilangkan aroma tidak sedap dari hati rusa. Sehingga hasil skor hidangannya hanya 5.

Sedangkan Ivanna, dia baik-baik saja. Dia mengoleskan mentega pada babat, memasukkan sayuran ke dalamnya, lalu memanggangnya. Dia juga menyajikannya dengan pure blueberry dan mendapat komentar bagus. Itu wajar karena kombinasi mentega dan pure blueberry sungguh lezat. 6 poin. Itu skor yang lumayan.

Sedagkan Hugo merebus otak dalam saus brown, seperti saat dia memasak ossobuco. Meskipun skornya hanya 6, hidangannya cukup layak dimakan. Dia pikir otak akan hancur seperti tofu, tapi keelastisannya yang tak terduga merupakan pengalaman baru bagi Jo Minjoon.

Dan untuk Sasha, dia merebus gurita sebelumnya, lalu mengoleskan basil dan bawang putih, lalu membakarnya. Itu pilihan yang mudah dan skornya 6. Sekarang, karena situasinya menjadi seperti ini, Jo Minjoon bisa melihat dengan jelas siapa yang akan tereliminasi, tapi entah bagi perserta lain. Dia melihat punggung Joanne dengan ekspresi sedih.

“Kami akan mengumumkan peserta yang akan tereliminasi.”

Dan sesuai dugaan.

< Yang tak dikenal (4) > Selesai

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded