God Of Cooking Chapter 83 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Dewa Memasak – Bagian 83: Skandal (1)

“Jangan berekspresi seperti itu, Ivanna.”

Ivanna membelai lembut rambut Joanne dengan wajah berlinang air mata. Ivanna menggigit bibirnya dan memeluk Joanne.

“Aku juga akan mewujudkan harapanmu.”

“Iya. Semoga menang. Aku akan mendukungmu.”

Joanne tersenyum dan menepuk-nepuk puggung Ivanna. Mungkin, bisa dilihat bahwa yang dihibur berganti Ivanna, tapi Joanne tidak keberatan. Alih-alih Ivanna yang merasa sangat sedih, Joanne justru merasa sedikit lebih baik, entah karena Joanne merasa benar-benar memiliki teman yang baik.

Joanne melihat ke peserta yang lain. Sejujurnya, dia memang berpikir kalau dia tidak akan bisa menang karena peserta lain begitu kuat, terlebih Anderson. Joanne menilai Anderson mampu menjadi sous chef di restoran yang relatif terkenal atau bahkan menjadi chef kepala karena dia tidak kurang dasar-dasar dalam memasak.

“…Whow, aku tahu hari ini akan tiba.”

Joanne bergumam sedih. Tereliminasi. Hari saat dia tereliminasi sudah tiba. Anderson membuka suara,

“Kau sudah melakukan dengan baik.”

“Kau sungguh tidak bisa berbasa-basi. Sampai akhir, kata-katamu selalu pendek.”

“Diamlah.”

Anderson berpaling dari tatapan Joanne karena merasa kikuk. Momen eliminasi selalu seperti ini, bagi Joanne pun tidak mudah. Namun, dia tidak bisa segera meninggalkan asrama karena dia masih harus menjalani wawancara. Sebelum menyelesaikan wawancara, dia tidak bisa menghindar seenaknya.

Mungkin, mereka memberinya waktu lebih untuk bersama-sama, tapi Joanne justru terbebani karena dia menjadi target tatapan sedih dari peserta lain. Itu menyulitkannya.

Joanne harus mengubah suasananya. Dia menoleh ke sebelahnya, ada Chloe. Dia menggenggam tangan Chloe, lalu menaikkan ujung bibirnya.

“Ayo semangat. Aku harap kau meraihnya.”

Joanne tidak bermaksud mengatakan tentang kemenangan. Pipi Chloe memerah dan tersenyum canggung. Joanne tidak bisa berkata apa-apa, tetapi akan tampak lucu jika dia mengabaikannya, lalu dia menyebut Jo Minjoon. Joanne berpaling melihat Jo Minjoon, lalu mengubah topik pembicaraan.

“Minjoon, kau tadi bilang bahwa hidangan Chloe 9 poin. Apa memang begitu lezat?”

“…Sejujurnya, sirip hiu adalah bahan masakan yang tidak begitu lezat. Sirip hiu tidak punya rasa maupun aroma, hanya punya tektur khas. Mungkin itu yang dicari epicurean…Tapi aku masih belum belajar mengecap seperti mereka. Hidangan Chloe memang enak, sebegitu mengejutkannya hingga aku bertanya-tanya apa benar ini pertama kali baginya.”

“Ini bukan pertama kalinya bagiku. Aku pernah membuat ini bersama ibuku. Tentu susah mengatakan aku sudah berpengalaman karena aku hanya membantu ibuku…”

“Menurutku, ibumu sudah pasti bisa memasak dengan baik. Kau bilang kau belajar hampir semua hidangan yang kau tahu dari ibumu, bukan?”

“Iya.”

Chloe tersenyum malu-malu lalu mengangguk. Di antara peserta Grand Chef, Jo Minjoon adalah orang yang paling iri terhadap Anderson dan Chloe. Chloe telah belajar memasak dari ibunya dan orang tua Anderson adalah chef profesional. Jadi betapa banyak hidangan luar biasa yang mereka makan sejak kecil. Joanne menyeringai lalu bertanya lagi.

“Jadi, apa hidangan Kaya lezat?”

“…Jangan bertanya soal itu lagi. Aku tidak ingin mengingat itu seumur hidupku.”

“Apa kau sekarang menghina hidanganku?”

“Aku tidak menghina…bukan begitu, bepikirlah dengan logis. Akankah kau menyukainya jika aku memberikan hidangan itu padamu?”

“Aku sudah bilang. Kau gagal sebagai chef. Kenapa kau harus pilih-pilih makanan? Apa kau tahu berapa harganya? Aku makan segala makanan karena sayang jika dibuang.”

Wajah Kaya berubah serius. Jo Minjoon menjawab dengan wajah penuh beban,

“Apa kau tidak punya preferensi makanan?

“Yaa, aku tidak hidup begitu keras hingga tidak memiliki preferensi makanan.”

Dia berkata dengan suara mengejek diri sendiri. Jo Minjoon menatapnya dengan tajam lalu bertanya,

“Kalau ayam goreng, bagian mana yang paling kau sukai?”

“Sayap. …Tidak, tunggu. Itu beda.”

“Itu juga preferensi, bukan?”

Kaya mengerutkan dahi dan menutup mulutnya. Dia tidak punya kata-kata untuk membalas. Joanne yang gembira memperhatikan mereka bedua, bertanya lagi pada Chloe.

“Bolehkah aku bertanya kenapa kau tadi menangis? Aku tidak pernah membayangkan kau akan menangis. Kau selalu tampak ceria.”

“…Agak memalukan menjawabnya.”

“Tidak. Kenapa kau harus malu? Seorang gadis terlihat paling cantik saat ia sedang menangis.”

“Lalu kenapa kau sekarang tidak menangis? Menurutku, ini waktu yang tepat bagimu untuk menangis.”

Anderson berkata seolah-olah dia mengejek Joanne. Joanne mengerutkan dahi.

“Aku tidak akan menikah dengan pria seperti ini seumur hidupku.”

“Aku memang pria yang tidak ingin menikah (celibate).”

“…Kau?”

Wajah Jo Minjoon lebih terkejut daripada Joanne karena pernyataan Anderson. Anderson mengangguk seolah-olah itu tidak penting.

“Menurutku itu bukan sesuatu yang begitu mengejutkan.”

“Bukan begitu. Aku sama sekali tidak menyangka kau seperti itu…”

“Minjoon, jangan percaya padanya. Pria seperti dia cenderung menikah lebih dulu dari pada yang lain.”

“…Sekarang jika dipikir-pikir, di Korea juga ada kepercayaan seperti itu.”

Jo Minjoon mengangguk setuju dengan perkataan Joanne. Anderson mengerutkan dahi lalu berkata,

“Jangan menilai idealisme orang semaumu.”

“Maaf, aku tidak bermaksud ingin bertengkar denganmu.”

Joanne tersenyum lalu mengangkat kedua tangannya. Anderson tidak tampak ingin membalas mengatakan sesuatu saat melihat Joanne meminta maaf. Anderson menelan ludah karena kecewa lalu memalingkan muka.

Kaya yang melihat mereka berdua beradu pendapat, berkata dengan suara mengejek seolah-olah ada yang aneh.

“Ada apa ini? Apa kalian saling menyukai?”

Suasana berubah hening sejenak. Anderson menaikkan sebelah alisnya lalu melihat Kaya. Joanne pun demikian. Kaya hanya mengangkat bahu lalu berkata,

“Lupakanlah”

“Itu pertanyaan yang sungguh buruk.”

Suara Joanne bergetar seakan-akan dia tidak pernah terpikir soal itu. Kaya menjawab dengan santai,

“Kau selalu seperti ini, padaku dan Minjoon.”

Joanne terdiam mendengar kata-kata Kaya, dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Jo Minjoon menyeringai lalu menyodorkan telapak tangannya untuk tos dengan Kaya. Mulut Kaya mengerut lalu melihat telapak tangan Jo Minjoon.

Yang pertama kali dipanggil staf adalah Joanne. Saat dia pergi, suasana tegang sedikit mereda. Chloe menghela nafas lalu berkata sambil menatap Jo Minjoon.

“Terima kasih untuk hari ini.”

“Untuk apa?”

“Untuk sapu tangan dan skor darimu.”

“Aku hanya memberi skor sesuai hidanganmu. Tidak perlu berterima kasih pada hasil yang kau capai sendiri.”

“Meski begitu, aku merasa berterima kasih.”

Chloe tertawa ceria seperti bayi. Jo Minjoon hanya menggaruk hidungnya dengan canggung. Chloe menepuk bibirnya setelah ragu beberapa saat, lalu dia lanjut berkata,

“Sebenarnya, aku sungguh tidak percaya diri saat memasak itu. Aku melakukan yang terbaik lebih dari sebelumnya tapi … aku sungguh bertanya-tanya apakah hasilnya akan bagus. Sebelum evaluasi, kau tersenyum melalui tatapanmu. Secara mengejutkan, itu membuatku tenang. Padahal sebelum kau mencicipinya, kau tidak bisa tahu seberapa enak supku. …Itu aneh bukan?”

“…Aku lega jika itu membuatmu tenang, tapi apa yang aneh? Pada akhirnya, apa yang dipikirkan orang-orang adalah apa yang mereka rasakan.”

“Omong-omong, sebenarnya aku ingin berterima kasih jika aku bertahan. Tidak. Meskipun aku tereliminasi, aku akan tetap berterima kasih padamu.”

Tidak perlu dipikirkan harus menjawab apa. Joanne keluar dari ruang wawancara lalu memanggil Jo Minjoon.

“Aku selesai. Minjoon, mereka menyuruhmu masuk.”

“Oke, baiklah.”

Chloe tampaknya masih ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tidak mungkin meminta staf di ruang wawancara untuk menunggu. Segera saat Jo Minjoon masuk ruang wawancara, Martin tertawa mengejek lalu berkata,

“Aku harap, makanan tadi bagus untukmu.”

“..Aku tidak berterima kasih ataupun membencinya. Meskipun enak, aku ingin membasuh jejaknya dari mulutku.”

Rasa syok akibat hidangan Kaya masih belum hilang. Untungnya, cita rasa sirip hiu buatan Chloe yang lebih sedap dari perkiraannya membuat rasa bersalahnya berkurang terhadap lidahnya. Jo Minjoon berkata sambil tersenyum masam,

“Tawaran yang aku terima sebelumnya, tentang perjalanan mencicipi, aku telah memikirkannya sedikit, tapi setelah apa yang aku alami hari ini, perasaanku mengatakan agar menghindarinya.”

“…Aku paham. Itu salahku. Jadi jangan membuatku takut seperti itu. Aku sungguh berharap kau mau bergabung dengan kami. Apa itu benar?”

“Apa aku juga akan mencicipi makan seperti itu di luar sana? Chui tofu (취두부), surströmming, tarantula bakar, atau otak monyet.”

“Astaga, haruskah aku mengagendakannya?”

Martin tersenyum. Jo Minjoon menghela nafas. Meski begitu, dia tidak tahu apakah dia akan berpartisipasi dalam acara itu atau tidak. Jika dia menang, itu akan menjadi kisah yang tidak akan terjadi. Martin bertanya dengan suara santai,

“Aku tahu ini pertama kalinya bagimu mencicipi pelir sapi, lalu bagaimana perasaanmu?”

“Buruk sekali. Terlepas masakannya enak atau tidak, itu bahan masakan yang tidak ingin kau masukkan ke dalam mulutmu, sejujurnya.”

“Jika kau seorang chef, kau harus bisa memakannya.”

“…Itu diskriminasi pekerjaan. Lihatlah para juri. Bahkan mereka tampak tidak ingin memakannya. Yaa, Emily memang menikmatinya… tapi yang paling utama, dia bukan chef, tapi epicurean.”

Jo Minjoon, yang menggerutu seperti itu di dalam ruang wawancara, terlihat aneh. Itu artinya apa yang dia alami hari ini sangat buruk. Beberapa saat kemudian, Martin memasang wajah bersalah. PD paling junior, Robert, menghampiri Martin dengan wajah serius dan membisikkan sesuatu. Seketika itu, wajah Martin membeku.

‘Bagaimana mungkin?’ Jo Minjoon tampak bingung. Martin ragu-ragu sesaat, tapi akhirnya dia berdiri.

“Maaf, mari kita beristirahat.”

“Apa ada masalah?”

“Ini bukan masalahmu. …Tidak, tapi mungkin bisa jadi masalahmu. Istirahatlah dulu.”

Martin pergi dengan stafnya, meninggalkan Minjoon yang masih terlihat kebingungan. Martin mengerutkan dahi lalu bertanya,

“Siapa yang menulisnya? Bagaimana komentarnya?”

“Itu adalah komentar yang diunggah 2 hari yang lalu. Dia mengklaim bahwa dia teman sekolah Kaya… Terlepas itu benar atau tidak, komentar itu menuai banyak perhatian orang-orang. Ini, lihatlah.”

Tess Gilly : Aku punya sesuatu untuk dikatakan. Aku teman SMP Kaya, tapi Kaya Lotus yang aku tahu berbeda dengan orang yang ada di siaran itu. Yaa, memang benar bahwa dia miskin dan mengalami nasib buruk, karakternya kasar sama seperti dalam siaran. Kami, yang melihat kehidupannya, memaklumi dia sebagai korban dari sisi gelap dunia. Melihat ekspresi ini, aku tidak tahan lagi. Gadis itu belum melewati masa puber. Selain gila, dia juga salah satu di antara para gelandangan. Melihat hubungannya dengan Jo, dia berniat memasak sambil merayunya. Itulah yang sebenarnya dilakukan oleh gadis murahan itu. Hanya karena dia menjual buah di pasar dan merawat adik perempuannya, dia tidak berubah menjadi orang baik. Dan…

“Kenapa kata-katanya begitu kasar?”

Martin mengerutkan dahi. Namun, rasa simpatinya terhadap Kaya justru menjadi lebih besar. Tentu, dia tidak tahu apa yang dipikirkan Kaya tentangnya. Melihat masa lalunya dan apa yang dia lakukan saat ini, Martin ingin memperhatikan Kaya layaknya keponakannya. Jadi tak mungkin fitnah seperti ini membuatnya senang.

“Kau akan tahu jika melihatnya, tapi setidaknya ada 500 balasan pada komentar itu. Hanya menghitung jumlah orang-orang yang telah melihatnya, pastinya sudah ribuan, bahkan puluhan ribu orang. Dan juga memikirkan rumor yang akan tersebar dari mulut ke mulut…hal yang paling buruk adalah kita tidak tahu apakah itu akan menjadi isu yang akan ditulis dalam sebuah artikel atau tidak.”

“…Telepon semua perusahaan koran. Jika kebetulan ini menjadi artikel mereka, katakan bahwa mereka akan segera tahu bahwa itu fitnah.”

“Akankah mereka takut soal itu? Itu hanyalah anggapan seseorang yang…”

“Lalu apa kita hanya melihat tanpa melakukan apa-apa?”

“Jika kita menggunakannya sebagai strategi pemasaran seperti Peter…”

Martin menghela nafas berat. Dia melihat Robert dengan iba seakan-akan tidak tahu apa yang harus dia lakukan terhadap Robert.

“Apa kau sungguh-sungguh mengatakannya? Dari sudut pandangmu, apa kasus Kaya dan Peter sama? Kaya memberi kita rating sebanyak 30%! Skandal Kaya tidak akan menjadi strategi pemasaran, tapi keributan. Kita juga tidak bisa mengungkapkan hubungan mereka berdua pada penonton, dan karakter culas Kaya juga akan hancur.”

“…Apa yang bisa kita lakukan?”

“Aku tidak tahu.” jawab Martin dengan marah lalu dia tenggelam dalam pikirannya. Dia tiba-tiba teringat perkataan Kaya saat diwawancara,

‘Dalam tahap semakin akrab… Aku pernah mengalaminya dengan banyak orang, sekitar 18 orang. Mungkin itu sebentar, tapi tidak bagiku. Aku telah bertemu dengan orang-orang yang hidup dengan baik dan juga orang-orang yang menderita. Aku berada dalam tahap semakin akrab dengan mereka. Namun, aku tidak bisa benar-benar akrab. Kami hanya pura-pura, dan pada akhirnya, mereka semua pergi.’

< Skandal (1) > Selesai.

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded