Illimitable Until Death Chapter 000 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Tolong Dukung Kami sebelum membaca tolong klik DISINI Dan Juga DISINI

Ini Project Terbaru Kami

========================================================

Chapter 0: Kekurangan yang Berada dalam Lubuk Hati paling dalam.
“Yang Seperti Apakah Orang yang Normal itu?”
Hal ini bisa jadi sangat Lucu dan bisa juga sangat Filosofis.
Kenapa Lucu? Itu karena kebanyakan orang tidak akan bertanya Pertanyaan semacam itu tanpa Alasan.
Jika suatu hari, Seseorang yang kau tahu tiba tiba menanyakan pertanyaan semacam itu, Tentu saja Reaksi Pertamamu adalah tertawa, ya kan?
Pada Akhirnya, Orang Normal tidak akan berpikiran untuk menanyakan hal semacam itu.
Dan alasan Filosofisnya bahkan lebih mudah lagi, itu karena tak ada pertanyaan yang Sejelas itu yang bisa menjadi topik debat yang penuh akan Makna.
Hanya saja, Topik debat ini bukanlah tipikal yang akan masuk dalam Kurikulum Ujian anak SMA hal ini bahkan tak dapat digunakan sebagai Perkerjaan Rumah.
Bagaimanapun, Pertanyaan Semacam itu, Tidak lain tidak bukan ditujukan Ke Gurunya, oleh Fang Li semenjak diTahun Kelulusannya Ketika berada di Sekolah Dasar.
Kala itu, Fang Li masih berusia Delapan Tahun.
Bisa dibayangkan, ketika pertanyaan semacam itu keluar dari mulut Bocah Delapan Tahun, Tentu saja Reaksi para Guru yang berada di Podium dan kelompok anak anak  SD yang masih polos menjadi sangat Canggung dan Kebingungan.
Semenjak dari itu, Fang Li tidak dapat lagi dianggap sebagai Orang Normal pada umumnya.
Pertanyaan Semacam ini, seharusnya tidak muncul dari bocah berusia Delapan Tahun.
Tapi bagaimanapun ketika kau melihatnya, tak peduli dari aspek apapun Fang Li Tetaplah Orang Normal.
Ketika anak Seusianya sedang bermain, Fang Li juga tetap Ikut Bermain bersama.
Ketika anak Seusianya berada dalam masalah, Fang Li juga merasakannya.
Ketika anak Seusianya Masih Polos dna Tak tahu apa2, Fang Li juga berada di Kondisi yang sama.
Ketika anak Seusianya suka kentut Sembarangan, Fang Li juga Sama kok.
Dengan kata lain, Fang Li tidak beranjak dewasa lebih cepat dari yang lainnya atau Abnormal, karena secara fisik dan Mental dia masihlah seperti Bocah Ingusan pada umumnya.
Tapi Bagaimanapun, ketika Fang Li masih berada Di Usia Delapan Tahun, dia tak dapat menahan rasa penasarannya itu.
Karena, dirinya yang Cuek dan acuh tak acuh itu tahu bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya berbeda dengan orang lain.
Tahun lalu, Fang Li berusia Tujuh Tahun.
Sebelum Fang Li menyentuh usia Tujuh Tahun, dia juga Tumbuh selayaknya anak anak pada umumnya.
Tapi waktu itu, karena orang tuanya selalu berada di tempat kerja sepanjang hari untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, jadi satu satunya yang selalu menemani Fang Li adalah Kakeknya.
Kakek Fang Li sangat peduli dan sayang padanya.
Ketika ia ingin bermain maka Kakeknya akan dengan senang hati menemaninya Bermain.
Apabila Fang Li kena marah oleh Orang tuanya, Kakeknya akan datang dan melindunginya.
Ketika Fang Li terjatuh dan terluka, Kakeknya akan pergi membelikannya mainan Demi membuatnya Senang dan tersenyum kembali.
Dan Fang Li juga sangat menyayangi Kakeknya.
Bahkan ketika dia sudah Dewasa, Fang li akan dengan senangnya akan memberitahu orang orang disekitarnya kalau orang yang paling dia sayangi adalah Kakeknya.
“Ketika Seseorang menghilang dari Duniamu, Bagaimanakah Reaksimu?”
Sebelumnya, Fang Li bahkan tidak kepikiran akan Pertanyaan ini.
Tahun itu ketika dia berusia Tujuh Tahun, Fang Li tak punya pilihan lain selain memikirkannya.
“Huuuu…. Huuuu… huuuu… huuu..’
Suara tangisan terdengar diseluruh penjuru Ruangan.
Bahkan ada beberapa yang sangat Depresi dibuatnya, dan ada juga yang menangis tanpa ada keraguan sedikitpun, dan semua orang merasakan Duka yang amat dalam dan kesedihan yang sangat pedih didalam Hati mereka.
Dibawah suara tangisan itu, Seluruh tempat dipenuhi oleh aura Kesedihan. Dan setiap anak2 mulai menitihkan air mata kemudian mulai menangis dengan keras.
Fang Li ditempat itu, Satu tangannya memegang Ibunya dan matanya terpaku pada hal yang ada dihadapannya.
Disitu terpajang foto hitam putih. Di dalam Foto tersebut terpampang foto Kakek Fang Li.
Ketika melihat kedalam Foto tersebut Fang li sangat sangat merindukan sang Kakek.
Fang Li tahu, orang orang disekitarnya juga sangat merindukan kakeknya, dan orang orang yang menangis saat itu adalah sebagai bentuk kerinduan mereka terhadap kakeknya.
Saat itu tak setetespun Air mata Fang Li keluar. Bahkan ketika menyaksikan orang Tuanya menangis, bahkan ketika orang dewasa dan anak anak disekitarnya menangis dengan keras, Fang Li belum juga meneteskan Air mata.
Karenanya, Fang li pun Bertanya.
“Bu… kenapa kau menangis?”
Masih dalam isak tangis Ibunya menjawab.
“… Karena Kakekmu telah meninggalkan kita semua dan tak akan pernah kembali lagi”
Fang Li tahu, Fang li sadar akan hal itu.
Fang li tahu bahwa Kakeknya tak akan pernah kembali lagi.
Tapi…
“Tapi kenapa kau harus menangis???” Tanya Fang Li
Ketika mendengar pertanyaan itu Ibunya mengeluarkan Ekspresi Terkejut namun diikuti dengan keraguan. Lalu kemudian Ibunya Menjawab pertanyaan Fang Li.
“Kakek tak akan pernah bersama kita lagi, itulah mengapa orang Normalnya akan merasa Sedih dan akhirnya Menangis”
Mendengar jawaban itu, Fang Li tak lagi berkata apa apa.
Lalu kemudian muncul pertanyaan dalam hati Fang Li.
“Orang Normal akan Menangis disaat Seperti ini?”
Karena peristiwa inilah Fang Li menanyakan pertanyaan itu kepada Gurunya ketika ia berusia delapan Tahun.
Seiring berjalannya waktu Fang Li pun beranjak Dewasa, Dia tahu, kalau itu memanglah Hal yang Lumrah bagi orang orang untuk menangis  karena kematian anggota keluarga mereka.
Mereka dapat berduka dan mereka merasakan kesedihan, karena mereka adalah orang Normal.
Dari sudut pandang Psikologis, ketika Dunia khayal  dan Dunia Nyata Seseorang memiliki Prinsip kesatuan dan keseimbangan yang sama dan tidak saling melebihi satu sama lainnya maka seseorang dapat dikatakan normal.
Karena mental itu sendiri adalah cerminan dari Dunia nyata, jadi setiap aktivitas mental dan tingkah laku haruslah Selaras dengan lingkungan nyata, bahkan walau hanya dalam bentuk pendapat.
Ketika alam bawah sadar seseorang kehilangan persatuan dengan dunia nyatanya maka orang tersebut tidak akan bisa mengerti terhadap beberapa orang.
Dan saat itulah seseorang dikatakan Tidak Normal.
Jadi berdasarkan teori, Fang Li tidak termasuk Orang normal.
Hari itu, dia tidak menangis.
Ketika orang lain  merasakan duka dan kesedihan saat itu, Hati Fang li tetap Diam.
Ketika orang lain merasa itu tak terhindarkan, Hati Fang Li merasa tidak yakin.
Ketika orang lain bercucuran air mata, Fang Li hanya merasa Heran.
namun tidak pantas juga untuk dijuluki berhati dingin.
Bagaimana cara mengatakannya, Orang itu adalah orang yang selalu mendukungnya sedari kecil, Perasaan Fang Li pada Kakeknya sangat luar biasa, dan Orang itu juga adalah kerabat kesayangannya.
Ketika Orang semcam itu menghilang, dan tak akan pernah kembali lagi, biasanya anak Seusianya akan merasakan kesedihan bukan?
Bagaimanapun dari awal sampai akhir, Fang Li tidak merasakan sedikitpun kesedihan ataupun perasaan berduka, bahkan tak setetespun air matanya menetes.
Kala itu orang dewasa disekitarnya tak terlalu peduli akan hal ini, mereka hanya berpikir kalau Fang Li belum cukup paham akan Arti dari Kematian, mungkin dia sedikit lebih dewasa dari anak lainnya atau mungkin dia tidak terpengaruh oleh Tangisan anak anak lain disekitarnya.
Tapi Fang Li yang sedang dalam Kebingungan sadar akan satu Hal.
Hal itu adalah…
“Aku Berbeda Dari Orang Lain”
Hal itulah yang selalu dipikirkan oleh Fang Li semenjak peristiwa itu.
Saat beranjak dewasa Fang Li juga mulai Peka terhadap perasaan Orang disekitarnya, tapi itu karena tak dapat menghindari untuk mengalami beberapa Kejadian/peristiwa dalam kehidupannya.
Saat dewasa Fang Li juga masih tetap sama dengan dirinya yang dulu, dia tak dapat merasakan Sedih dan Tak mampu untuk menangis.
Kemudian, Fang Li paham
Tak peduli  seberapa penting orang itu baginya, tak peduli seberapa dekat dia dengan orang itu, ketika orang itu meninggal, dia tak akan bisa merasakan sedih ataupun meneteskan air mata.
Hal ini bukan karena Fang Li tidak Peka, ataupun karena Berhati dingin.
Ini hanya sebuah kekurangan.
Saat Fang Li berada di Usia tujuh Tahun, dia entah mengapa mulai menyadari dan kebingungan akan kekurangan yang ada dalam lubuk hatinya.
“Aku tak merasakan apa apa saat kerabatku meninggal”
Lalu…
“aku nampaknya tak punya petunjuk untuk perasaanku akan Kematianku Sendiri”
 Fakta ini Fang Li terima dengan lapang dada ketika ia berusia Delapan belas tahun.
“BRUUUKKKK—!
Terdengar suara benturan yang amat keras.
Saat ia mendengar suara benturan itu, Fang Li hanya merasakan kalau langit berputar putar dan hal itu membuatnya Pusing, sampai ketika dia mulai melihat kembali dan dia hanya melihat pemandangan langit disekitarnya.
Namun, langit itu tak bewarna Biru melainkan bewarna merah dan perlahan lahan berganti ke warna Hitam nan Gelap.
Warna merah itu berasal dari bagian sekitar mata Fang Li yang berdarah.
Dan warna hitam itu muncul  karena kesadaran Fang Li yang mulai berkurang.
Dan saat itu Fang Li tak mampu menggerakkan tubuhnya, bahkan instingnya mulai memudar.
Satu satunya yang Fang Li rasakan saat itu adalah hawa Panas.
“Panas.
“Sangat panas.
Seluruh tubuhnya seakan sedang terkana Demam tinggi.
Disekitarnya. Orang orang mulai mengerubunginya, mereka Nampak oleh pandangan Fang Li yang masih kabur (kurang Jelas)
Fang Li juga tak mampu mendengar apa yang mereka katakan.
Tapi Fang Li tetap bisa merasakan kepanikan dari orang orang yang mengerubunginya
Dan suhu tubuhnya kian memuncak dan dia merasa kalau tubuhnya mulai kehilangan sesuatu yang penting, lalu ia mulai merasa tanah disekitarnya mulai terasa basah.
Fang Li berusaha untuk menggerakkan kepalanya dengan susah payah dan dia melihat ada semacam minyak yang tumpah dijalanan.
Lalu jalanan itu sedikit demi sedikit berubah menjadi merah.
Darah mengalir dari tubuhnya dan mulai mewarnai jalanan dengan warna merahnya.
Kemudian Fang Li paham akan kondisinya.
Dia paham kalau tubuhnya akan mulai kehilangan sesuatu yang penting bukan hanya darah melainkan nyawanya.
Kemudian Fang Li paham tentang apa yang terjadi.
Kecelakaan Mobil.
Sebuah tabrakan yang tak diduga duga.
Kejadian semcam itu, menurut data pemerintah terjadi lebih dari 100.000 kali tiap tahunnya.
Jadi berarti ia termasuk ke dalam 100.000 kecelakaan itu.
“jadi itu yang terjadi..”
Fang Li dengan cepat pasrah akan Takdirnya
Tanpa rasa menolak, tanpa amarah,ataupun rasa takut.
Pada akhirnya Fang Li tetap tidak memiliki cara untuk menjawab kematian dengan perasaanya.
Ini adalah hal yang ia sadari ketika berusia tujuh tahun yang tak ia terlalu pedulikan.
Sekarang ia sudah menerimanya.
Dan satu satunya pertanyaannya menjelang kematiannya ia hanyalah..
“ jadi, ketika orang mati kemana mereka pergi?”
Dengan pemikiran semcam itu, Fang Li pun menutup matanya.
Ketika Fang Li masih dalam keadaan tidak tersadar, tiba tiba terdengar suara dingin menyelimuti pikirannya.
“Nomor 11273 menuju ke Dimensi Dewa Utama”
Kematian Bukanlah Kehilangan terbesar dalam hidup.
Kehilangan Terbesar dalam hidup adalah ketika Hati kita telah mati dikala kita masih hidup.
                                                                                                                
                                                                                                                       -Norman Cousins
Translator : Amuyah

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded