Saga Of Tanya The Evil Volume 1 Chapter 3 Part 4.4

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Di Ruang Komandan Kompi:

Dari Catatan Seorang Visha

~~~***~~~

Kesan pertamaku terhadap atasanku, Letnan Dua Tanya Degurechaff dari pasukan gempur mobile front barat, Grup Tempur Tujuh, Kompi Penyihir Tempur 205, ia mirip “vampire”. Kulitnya begitu putih seperti orang sakit, dan matanya yang tajam itu ibarat vampire yang membenci matahari. Aku dibuat kaget oleh penampilannya.

Waktu itu, Letnan Satu Schwarkopf memerintahkan kami untuk berkumpul, dan sewaktu kami berdiri, sesosok anak kecil masuk. Ia mengenakan seragam militer yang anehnya nampak begitu cocok ia pakai. Ia tak mungkin murid dari sekolah Kadet – umurnya saja kelihatannya masih terlalu kecil untuk bisa masuk. Topi yang ia kenakan di atas rambutnya yang nampak berantakan sepertinya terlalu besar untuk ia pakai. Seorang tentara yang baru berjumpa dengan anak kecil yang berpangkat letnan dua ini pasti akan keheranan melihat dirinya.

Akan tetapi, ketika komandan kompi kami mengenalkannya, aku tidak merasa ada yang aneh dengan Letnan Tanya. Sulit untuk mengatakannya, tapi aku merasa, ia memiliki aura tertentu yang membuatnya cocok dengan posisinya meskipun masih anak-anak.

Namun tetap saja, ketika ia mengarahkan tatapannya matanya yang dingin ke arah kami, aku merasa nyaliku ciut di hadapannya. Kalian mungkin akan tertawa melihatku merasa takut di hadapan seorang anak kecil, namun tatapan mata itu ibarat seekor kucing yang sedang mengintai seekor tikus, dan itu membuatku takut.

Seperti yang Elya katakan, Letnan Tanya adalah seorang veteran perang yang telah mendapat berbagai penghargaan atas jasanya yang luar biasa, salah satunya bahkan sebuah Satya Lencana Tempur Sayap Perak. Ia memiliki aura peperangan yang sangat kuat. Meski demikian, wajahnya begitu bersih ibarat boneka, dengan mata berwarna biru langit, dan rambut pirang dengan sedikit sentuhan warna abu-abu. Ia begitu elok dipandang, namun pada saat bersamaan, begitu menggetarkan.

Ya, mungkin saja kulitnya yang putih itu karena ia sudah terlalu lama berada di Front Rhine, di mana kami tidak banyak mendapat sinar matahari. Namun, bagiku tetap saja ia seperti vampire.

Ia memerintahkan kami, dengan nada suaranya yang tenang, dengan singkat, padat, jelas, untuk menyebutkan pangkat kami, nama kami, dan di mana terakhir kali kami bertugas. Saat itu aku merasa – meskipun hanya sedikit sih – aku ingin segera keluar dari sana.

Sistem pendidikan Kadet punya caranya sendiri untuk mengelompokkan kadet-kadetnya. Para perwira tahu betul antara para relawan dan wajib militer tidak akan nyambung, bahkan jika kami sering latihan bersama, oleh karenanya kami dipisah menjadi dua kelas yang berbeda sejak awal kami masuk. Batalion C adalah kelompok yang nantinya akan dididik untuk menjadi perwira di akademi, dan Batalion D adalah kelompok wajib militer.

Dua rekan sepeletonku adalah murid yang terbaik dari Batailon C.

“Kopral Kurst von Walhorf dari Batalion C Idal-Stein, Kompi Satu!”

“Kopral Harald von Vist, juga dari Batalion C Idal-Stein, Kompi Satu!”

Aku memperkenalkan diri setelah dua rekanku yang merupakan kadet relawan. Aku tak pernah berharap untuk menjadi relawan, tapi rasanya tidak enak mengatakan bahwa aku anggota wajib militer setelah dua orang sebelumnya menyatakan diri bahwa mereka adalah relawan yang dengan tulus menawarkan jasanya bagi negara. Aku bukan orang yang bisa cuek terhadap perasaanku sendiri seperti Elya; aku bukan orang yang bermuka tebal untuk dapat tampil percaya diri. Ya Tuhan, mengapa Engkau menyiksaku seperti ini?

“Kopral Viktoriya Ivanovna Serebryakov dari Batalion D Idal-Stein, Kompi Tiga.”

Bisa dibilang aneh rasanya dengan keberadaan diriku sebagai satu-satunya anggota wajib militer. Maksudku, Kopral Kurst dan Harald adalah relawan dari kompi yang sama. Itu artinya, kalau kami harus berpencar, mereka akan ditugaskan berdua, sedangkan aku harus berpasangan dengan komandan peleton.

Itulah mengapa, sembari aku memperkenalkan diri, aku berharap aku tidak dihajar habis-habisan oleh komandan peletonku sebagai seorang wajib militer yang lamban dan pemalas. Itulah mengapa aku kaget dengan apa yang komandan peleton kami ucapkan.

“Saya menghormati rasa tanggung jawab anda dengan menjawab panggilan wajib militer anda, Kopral Viktoriya Ivanovna Serebryakov. Tugas anda memang berat, oleh karena itu, berjuanglah sekeras mungkin agar anda tetap selamat.”

Kata-kata penyemangat yang tak terduga – dan dari seorang perwira yang tadinya aku anggap begitu dingin, dengan pandangan haus darah yang paling tajam yang pernah aku lihat. Beberapa saat, aku tidak mengerti apa yang baru saja terjadi dan terdiam terpaku.

Sementara itu. . .

“Kemudian, bagi kalian yang mendaftarkan diri karena kehendak bebas kalian sendiri: karena kalian adalah sukarelawan, sebaiknya anda-anda ini tidak mati duluan sebelum saya dan Kopral Serebryakov.”

Nada suaranya yang tadinya tenang kini berubah. Tidak, dia tidak meninggikan suaranya. Namun ia memberikan penekanan yang kuat pada setiap kata yang ia ucapkan.

“Pertama-tama, saya akan jelaskan satu hal pada kalian. Kerajaan kita tidak punya waktu ataupun sumber daya yang cukup untuk mendidik calon-calon perwira yang tidak becus. Itu hanya buang-buang uang dan tenaga saja.”

Ia berbeda dengan semua sersan pelatih yang pernah aku jumpai. Dari caranya bicara, ia seperti spesies tentara kerajaan yang benar-benar berbeda. Apa yang ia katakan seolah mencabut semua yang pernah aku dengar sejak menjadi tentara dan kini tanpa ampun ia menghujami pikiranku dengan nilai-nilai baru.

“Lain cerita kalau kalian dipaksa masuk ke dalam militer karena negara kalian membutuhkan kalian. Para relawan, kalian sendirilah yang ingin masuk dan mengenakan seragam militer kebanggaan Kerajaan ini, oleh karena itu, bertindaklah sesuai dengan seragam yang kalian kenakan. Kalau kalian tidak becus untuk melakukannya, lebih baik kalian mati saja.”

Ia mengatakan semua yang ingin ia katakan sementara kami diam mendengarkan, tertegun dengan kata-katanya yang tajam. Setelah memberitahu komandan kompi bahwa ia sudah selesai bicara, ia segera mengusir kami keluar karena kami masih terus berdiri di sana. Dengan cepat, meskipun kami baru sampai di front barat, kami segera digiring ke dalam parit-parit pertahanan dan di sana kami mendapat “kultum” secara rutin dari komandan peleton kami.

Apa yang menanti kami di sana adalah latihan-latihan kemampuan dasar kami sebagai penyihir. Kami belajar bahwa tidak hanya kami tidak menerima gaji, kami juga lebih rendah dari sampah.

Setelah “diluruskan” sedemikian rupa, Kopral Kurst dan Harald malah semakin suka membantah. Mereka belum menerima hukumannya – BELUM. Setelah komandan kompi dan letnan dua menjelaskan bahwa mereka tidak cocok bertugas di garis depan, mereka ditarik mundur ke dalam bungker pertahanan di garis belakang.

~~~***~~~

meionovel.id

Setelah pengenalan dan beberapa aksi, aku menjadi rekan setim Letnan Tanya sebagai satu-satunya anggota peletonnya.

Sementara itu, dua kadet yang lainnya dipindahkan ke posisi yang lebih cocok. Mereka menerima kenaikan pangkat dan ditugaskan untuk menjaga benteng pertahanan di garis belakang. Mereka bisa saja tetap aman di dalam bungker sebagai pasukan cadangan sampai situasi untuk menyerang balik tiba. Namun, satu hal yang aku pelajari ketika terbang bersama Letnan Tanya adalah. . . bagi meriam artileri, bungker yang tak dapat bergerak hanyalah sebuah sasaran yang empuk.

Itu terjadi ketika kami diperintahkan untuk mengepung pasukan Republik yang berusaha menerobos masuk. Saat itu, kami dihujani oleh tembakan meriam-meriam artileri yang menjadi support mereka. Aku hampir menangis waktu itu, aku pikir aku tidak dapat keluar hidup-hidup dari terjangan peluru meriam. Aku ikuti saja para seniorku, yang tersenyum melihatku sembari terus maju menerjang. Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat bungker-bungker yang hancur berkeping-keping akibat tembakan-tembakan meriam sementara kami dapat dengan mudah terbang menghindarinya nyaris tanpa terluka sedikitpun.

Anehnya, tidak hanya peluru-peluru meriam yang kebanyakan tidak mampu menjangkau kami, dari pihak kami nyaris tidak ada yang tewas ataupun dilumpuhkan oleh serangan musuh. Setelah mengalaminya berkali-kali, aku sadar bahwa pasukan artileri harus digunakan secara terencana.

Kalau dipikir-pikir masuk akal juga sebenarnya. Daripada meriam artileri, senapan mesin punya peluang yang lebih besar untuk menembak jatuh pesawat ataupun penyihir. Selama kalian tidak menemui meriam anti serangan udara, satu-satunya yang akan membahayakan kalian adalah senapan mesin. Meskipun kami para penyihir lebih lambat dari pesawat terbang, namun kami masih terlalu cepat untuk ditembak dengan meriam artileri.

Lain cerita kalau kami menyerang benteng lalu dihujani tembakan.

Namun kami telah diajari bahwa selama kami bertarung di wilayah kami sendiri, kecepatan adalah segalanya. Aku merasa cukup beruntung bisa belajar dari Letnan Tanya dan Schwarkopf bahwa semakin berpengalaman kalian sebagai seorang penyihir, semakin mencurigakan kalian bagi para musuh ketika kalian terus menjaga suatu titik.

Singkatnya, meriam artileri adalah dewa yang harus kita percayai dalam medan pertempuran; mereka juga adalah dewa yang tidak boleh kita buat marah. Kalian tidak akan dapat bertahan kecuali kalian mengangkat dewa-dewa ini sebagai sekutu kalian dan belajar bagaimana caranya untuk bekerja sama dengannya. . . sekaligus bagaimana caranya untuk menghindari amukan hujan tembakan dari dewa-dewa negara lain.

Bisakah seorang tentara, yang pada dasarnya begitu realistis, beriman kepada Tuhan? Jawaban Elya, sahabatku, begitu menarik. Ketika aku menuliskan surat padanya tentang apa yang aku pikirkan soal “tuhan” yang satu itu, ia membalas, “Kalau begitu, akulah dewa perang yang bertugas menjalankan kehendak Tuhan.” Itulah Elya yang aku kenal, jawabannya membuatku tersenyum. Ia punya caranya sendiri dalam merangkai kata.

Kita punya mata dan telinga, sehingga orang-orang beriman yang kini tiarap di garis depan, di dalam parit-parit perlindungan, dan di depan senapan mesinnya, dapat berdoa mengharapkan wahyu dari dewa-dewa perang melaui tembakan meriam artilerinya.

Dengan kontribusi para observer, kami dapat meminta tembakan meriam untuk memporak-porandakan formasi musuh yang maju ataupun untuk menyerang titik-titik penting, tergantung kebutuhan. Ini semua mengingatkanku pada Elya, yang mungkin saat ini sedang tersenyum sambil minum teh hangat favoritnya mengingat begitu longgarnya pekerjaannya saat ini. Namun mengingat dia adalah sosok kakak yang melindungi dan merawat, aku yakin ketika saatnya tiba, ia dengan rasa tanggung jawabnya akan bekerja dengan sungguh-sungguh.

Tepat sebelum kami memulai serangan udara, apa yang pasukan kompi harapkan adalah support tembakan dari meriam-meriam artileri. Ketika kami menerima perintah untuk menyerang balik tentara Republik yang menerobos garis pertahanan kami, kami menyerang mereka seirama dengan tembakan-tembakan meriam untuk memecah formasi menyerang mereka.

Aku sudah terbiasa dengan peperangan sekarang. Satu-satunya tugasku sebagai seorang newbie adalah mengikuti Letnan Tanya selama ia terbang. Idealnya, kami harusnya menjadi sepasang partner, namun komandanku tertawa dan mengatakan kalau aku masih perlu banyak latihan.

~~~***~~~

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded