Saga Of Tanya The Evil Volume 1 Chapter 3 Part 4.5

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Di Medan Pertempuran Front Barat

Dari Pandangan Seorang Tanya

~~~***~~~

“Ohhh, pujilah Tuhan! Dialah yang bernama Artileri! Ya, dengarlah! Bukankah suaranya menakjubkan?”

Koar Letnan Schwarkopf, memuji meriam-meriam artileri ketika peluru-pelurunya menghujani medan pertempuran pada waktu yag tepat, seakan ingin menjawab doa para pasukan Kerajaan. Perbedaan selera musik kita nampaknya sangat mencolok – aku saja baru akhir-akhir ini bisa bertahan dari kerasnya suara ledakan tembakannya tanpa membuat telingaku sakit.

“Ya, inilah para Dewa Perang! Ia telah menjawab panggilan radio kita!”

“Artileri, Artileri! Engkaulah sekutu kami! Engkaulah penyelamat kami!”

Mereka yang menghambur-hamburkan perkataan itu adalah orang-orang andalan di Peleton Satu. Meskipun opini mereka mengenai artileri sebagai juru selamat kami terdengar terlalu dramatis, aku telah belajar sendiri bahwa mereka sebenarnya tidak benar-benar salah. Ya, kami mungkin saja merupakan unit serangan balik, namun separuh dari tugas kami adalah menghambat pasukan musuh, menggiring mereka pada satu titik, agar nantinya siap dihabisi oleh meriam-meriam artileri tersebut.

Cukup dengan mengepung mereka – ya, semuanya, baik itu unit infanteri, unit bertahan, atau bahkan meriam musuh – maka dengan otomatis meriam artileri kami akan menghancurkan mereka semua. Menyaksikan peristiwa tersebut satu kali saja sudah cukup untuk membuatmu berdoa,“Ya Tuhan, tolong berikan kami support tembakan dari pasukan artileri.”

Melihat persiapan tim artileri yang matang sebelum dilakukannya pertempuran selalu mampu membuat hati yang lemah ini merasa lega. Ada satu kejadian ketika support kami datang terlambat, sehingga unit batalion kami, yang berisi beberapa kompi penyihir yang berbeda-beda, harus berhadapan dengan pasukan eselon musuh . . . dan hal-hal yang tak ingin aku ingatpun terjadi.

Mengingat hal itu, ketika ada support yang cukup serta jarak yang memadai antara garis depan dan garis belakang, beban pertempuran akan menjadi lebih ringan. Ya, kelihatannya aku akan mampu bertahan hidup lagi.

~~~***~~~

Ketika Tanya memandang unit musuh melalui teropongnya, peluru meriam menghujani medan pertempuran sesuai titik-titik yang direncanakan, menghancurkan orang-orang, menimbunnya dalam tanah sisa ledakan, dan menjadikan mereka sebagai pupuk tanaman. Dengan kata lain, ini adalah cara yang benar dalam menjalankan perang – mengambil nyawa orang dan menjadikannya objek masa lalu dengan menggunakan amunisi.

“Tembakan terkonsentrasi dari peluru meriam 120 mm benar-benar merupakan pemandangan yang menakjubkan pak. Amin”

“Benar, Letnan. Itu pastilah berkat kerja sama yang baik antara observer dan tim artileri yang sama-sama berbakat. Mereka tidak pernah buang-buang waktu dengan percuma untuk memastikan tembakan mereka tepat sasaran.”

Orang-orang pasti akan lebih mudah merasa tenang bila segalanya berjalan mulus sesuai dengan rencana, dan nampaknya hal itu juga berlaku di dalam medan pertempuran. Intisari dari sekolah Chicago mengatakan bahwa segala hal dapat diukur secara ekonomis, namun masih merupakan hal yang rumit untuk mengukur secara kuantitatif dampaknya terhadap kesehatan ketika segala hal berjalan sesuai rencana. Ketika segalanya berjalan secara seharusnya, dengan pemborosan yang kecil dan tanpa adanya biayanya tambahan, itu sungguh terasa luar biasa.

Situasi yang terlihat di hadapan para pasukan Kompi Penyihir Tempur 205 adalah contoh yang luar biasa. Sama seperti yang dikatakan oleh Letnan Satu Schwarkopf, tim artileri bekerja secara luar biasa. Mereka pasti memperhitungkan koordinat tembakan mereka dengan cermat – selisih yang tipis antara tembakan kalibrasi dan tembakan yang mengenai sasaran menunjukkan skill mereka yang luar biasa.

Berkat merekalah, tepat ketika pasukan kompi tiba dalam posisi menyerang, pasukan musuh sudah banyak dilumpuhkan oleh serbuan tembakan tim artileri. Normalnya, akan selalu ada kemungkinan tembakan balik dan duel antar artileri, namun nampaknya pasukan musuh sudah disibukkan lebih dulu dengan tembakan kepungan kami yang sudah mulai maju.

“Beruntungnya kita. Tim artileri kita sudah mampu melumpuhkan pasukan musuh dengan peluru 120 mm mereka, dan kini kita tinggal menyapu saja musuh-musuh yang masih bertahan.”

“Ya, benar.”

Seperti yang Letnan Schwarkopf katakan – kompi kami beruntung. Bagi Letnan Tanya, hari ini adalah hari yang bagus. Yang perlu kita lakukan hanyalah membunuh sisa pasukan yang sudah cukup porak poranda di mana keunggulan ada di pihak kami – sebuah misi yang nyaman dan sederhana.

“Sudah hampir tiba waktunya. Pasukan, bersiap menyerang. Kita akan memburu setiap pasukan yang dilewatkan oleh artileri.”

Kemudian, mengikuti komando sang komandan kompi, Tanya memanggul senapannya yang berisikan peluru formula, mengambil orb komputasinya, dan mempersiapkan diri untuk maju bertempur.

Mereka memang sudah siap siaga dan sadar akan segera maju menyerbu, namun tepat sebelum mereka maju, bahkan seorang veteran berpengalamanpun pasti merasa berdebar. Suara para pasukan yang menelan ludah mereka dengan penuh rasa gugup adalah hal yang wajar di dalam parit-parit pertahanan, suaranya begitu khas sampai-sampai masih dapat terdengar di antara dentuman tembakan meriam.

“Ayo kita maju. Andai saja setiap hari bisa menyenangkan seperti ini!”

Bagi Tanya, bisa bertarung melawan pasukan yang sudah lumpuh diterjang amukan meriam artileri di bawah pimpinan komandan yang kompeten seperti Schwarkopf adalah hal yang luar biasa – ya, relatif. Tidak ada orang yang berangkat berperang hanya karena mereka ingin.

Cobalah tanyakan, apakah Tanya mereasa senang, dan kalian akan mengetahui bagaimana Makhluk X mengatur segalanya dari belakang layar sampai bisa melemparkan seorang anak kecil polos tak berdosa ini ke dalam medan tempur. Akan tetapi, ia juga harus bersikap objektif, jadi tidak ada salahnya menerima dengan bahagia situasi yang relatif cukup mudah ini.

“Letnan, jangan suka pilih-pilih kalau makan, atau anda nanti tidak dapat tumbuh besar.”

“Komandan Schwarkopf, saya lebih memilih memiliki area permukaan tubuh yang lebih kecil karena itu membuat saya lebih mudah menghindari tembakan.”

“. . . baiklah, anda menang, Letnan. Itu adalah alasan untuk bisa rewel makan yang terbaik yang pernah saya dengar.”

Bagi Schwarkopf, yang sedang menunggu saat yang tepat untuk melancarkan serangan, bertukar candaan dengan Tanya adalah kesempatan emas. Kalian tidak perlu menggali-gali terlalu jauh dalam sejarah untuk bisa memahami mengapa para komandan memandang penting untuk menangani stress sebelum pertempuran.

Kompi Penyihir Tempur 205 yang ditangani Schwarkopf boleh saja merupakan para veteran di Front Rhine, namun tetap saja mereka bisa merasa tegang sebelum pertempuran. Jadi, ketika muncul sebuah kesempatan untuk membuat candaan agar suasana bisa mencair, ia tentu tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Schwarkopf lalu memberitahu tim artileri bahwa mereka akan melakukan serangan. Ketika mereka mendapat izin dari Kontrol Pusat, operasipun dimulai.

“Baiklah semuanya. Jangan biarkan Letnan Tanya yang suka pilih-pilih makanan ini menyantap habis semua yang enak-enak!”

Untunglah semua yang ada di kompi tetap bisa tenang dan bahkan bisa tertawa di hadapan musuh. Letnan Schwaropf kemudian menyerukan aba-aba menyerang dengan suara perang khasnya.

“Semuanya, Serbu!”

Semuanya terbang dari posisi mereka masing-masing dan menyerbu para musuh dengan kecepatan yang gila-gilaan.

Bagi pasukan infantri yang tak lagi punya perlindungan, para penyihir yang datang menyerbu adalah ancaman yang sama buruknya dengan artiler. Para penyihir punya lapisan dan cangkang pelindung, jadi tidak cukup dengan tembakan senapan biasa untuk dapat melumpuhkan mereka. Apalagi, para penyihir bisa dengan mudah mengeluarkan formula ledakan yang sama dahsyatnya dengan senjata kelas berat. Para penyihir ini memang unit yang tangguh.

Hanya ada sedikit cara untuk mampu menangkal para penyihir dengan efektif. Salah satunya adalah dengan granat. Kalau kalian beruntung, seorang penyihir mungkin akan terbang cukup rendah atau tanpa sengaja terbang menuju arah datangnya granat – dan kena. Cara terbaik untuk menangkal mereka adalah dengan tembakan yang terkonsentrasi. Selain itu, pasukan infantri tidak punya banyak pilihan lain.

Jadi, dari perspektif para pasukan infantri musuh ini, yang struktur komandonya sudah dikoyak-koyak oleh bombardir meriam artileri, sekelompok penyihir yang hanya berjumlah 10 orang saja sudah merupakan ancaman yang mengerikan. Mereka mungkin punya support pasukan penyihir yang siap adu kekuatan dengan penyihir Kerajaan yang menyerbu, namun seorang penyihir yang tangguhpun akan takhluk bila terkena meriam artileri.

Beruntung bagi pasukan Kerajaan, sial bagi pasukan Republik, tembakan meriam 120 mm milik Kerajaan tepat mengenai pasukan penyihir Republik, menghancurkan tubuh mereka hingga berkeping-keping.

“Pastikan kalian memprioritaskan para komandan musuh dan jalur-jalur komunikasi mereka!”

Bukannya memang sudah jelas? Pikir Tanya, yang membidik sekelompok tentara yang membawa ransel radio yang khas. Seperti anggota kompi lainnya, Tanya menggunakan formula peledak untuk menyambut tamu-tamu dari Republik yang tak diundang ini dengan hangatnya api, ledakan, dan timah panas.

Melihat dari serangan balasan yang sporadis, perlawanan mereka lemah. Paling-paling hanya ada sekelompok tentara yang menembak secara membabi buta. Kebanyakan sudah menyerah dan mundur, jadi yang perlu kami lakukan hanyalah menyapu bersih mereka semua.

Biasanya, potensi pasukan bantuan dari musuh selalu menjadi perhatian khusus, namun kali ini gabungan unit artileri dan tim gempur mobile sudah menangani mereka semua; misi yang tersisa saat ini adalah menyikat habis pasukan infantri yang tersisa.

Hal ini memberi Tanya cukup kelonggaran untuk memantau kemampuan bertempur Kopral Serebryakov, di mana seringkali Tanya hanya mampu memastikan bahwa bawahannya itu masih mengikutinya. Bahkan ketika menyerangpun, Kopral Serebryakov tidak menonaktifkan formula pelindungnya. Manuvernya juga masih terlalu terpaku pada textbook. Namun, bila dibandingkan dengan sebulan yang lalu, ia kini bertindak seperti seorang penyihir yang benar-benar baru. Perkembangannya tidak buruk-buruk amat.

Sepertinya memang benar komentar Letnan Schwarikopf bahwa operasi kali ini ibarat latihan tempur kecil-kecilan, menggunakan pasukan musuh yang sudah sangat lemah sebagai target latihan. Pertempuran yang sebenarnya barulah latihan yang sesungguhnya.

“Coba pikir, di awal-awal wajahmu langsung memucat lalu kamu muntah di mana-mana. Sungguh luar biasa kalau anda terus melatih diri anda.”

Jangan meremehkan potensi seseorang. Mengingat lagi pelajarannya, Tanya tak henti-hentinya mengagumi kesakralan martabat manusia dan kehendak bebasnya.

Oleh karena itulah, ia merasa iba terhadap pasukan Republik. Komandan mereka yang ada di pusat pastilah begitu kolot sampai-sampai memerintahkan mereka untuk menyerbu pasukan besi yang kokoh. Kejadian hari itu menggambarkan dunia 10 tahun lalu ketika terjadi konflik di Timur Jauh antara Federasi dan Dominion yang menunjukkan bahwa besi mengalahkan otot.

Merupakan hal yang mengerikan ketika orang-orang kurang inisiatif. Tidak adanya inisiatif berarti hilangnya potensi yang besar, itulah mengapa keputusan Republik untuk mengirim para manusianya yang mungkin punya inisiatif – sebuah sumber daya manusia yang besar – ke hadapan Kerajaan hanya sebagai sasaran tembak adalah sebuah ironi yang menyedihkan.

Itulah poin yang ingin aku tanyakan kepada mereka apakah mereka tak pernah berpikir ulang betapa mahalnya sumber daya manusia menurut prinsip perekonomian pasar.

Sayangnya, semua orang di dunia ini terikat oleh kontrak. Sebagai seorang tentara Kerajaan, hubungan antara Tanya dengan pasukan Republik adalah soal membunuh dan dibunuh. Memang baik bagi setiap aktivitas propaganda di tiap negara untuk mengangkat tinggi-tinggi sikap rela mati demi tanah air, namun aku berharap orang-orang juga menyadari sisi lain dari kepingan mata uang ini yang mengerikan – mereka juga harus membunuh setiap orang yang berusaha menyerang tanah air mereka.

Dalam hal pemborosan sumber daya manusia, tidak ada yang lebih buruk daripada peperangan, ratap seorang Letnan Dua Tanya Degurechaff, yang baru saja merampas masa depan beberapa pemuda dengan formula sihirnya.

Tidak semua hal selalu berjalan sesuai dengan apa yang kamu inginkan, itulah yang ia pikirkan ketika ia tanpa ampun menghancurkan pasukan Republik yang berusaha kabur melarikan diri. Satu-satunya kata yang baginya cukup bisa mewakili pemandangan ini adalah pemborosan. Meskipun mereka ini bukan orang-orang sebangsanya, Tanya tetap tidak bisa menolak adanya perasaan mengganjal di hatinya ketika ia membunuh tentara-tentara yang masih muda. Aha, aku tahu sekarang mengapa “pemborosan adalah musuh”. Tentu saja, salah satu ironi dalam sejarah adalah adanya negara tertentu yang mengadopsi slogan tersebut namun justru mereka sendirilah yang membuang-buang sumber daya manusia mereka. Mungkin memang akan selalu ada pemimpin-pemimpin tak becus yang membuang-buang nyawa para patriotnya yang berharga.

~~~***~~~

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded