Saga Of Tanya The Evil Volume 1 Chapter 3 Part 4.6

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Di Medan Pertempuran Front Barat

Dari Catatan Seorang Visha

~~~***~~~

“Sial, mungkin aku harus lebih fokus lagi waktu di medan tempur.”

“Artileri membuka jalan, penyihir turun tangan, lalu pasukan infantri maju.”

Aku berusaha mengingat-ingat kembali pelajaran yang aku peroleh pada sore hari yang indah itu, saat-saat aku lebih memilih untuk santai-santai menikmati matahari tenggelam daripada harus berusaha untuk tetap fokus memperhatikan kuliah sejarah peperangan. Tapi kapan itu tepatnya, aku sudah lupa. . .

Kembali waktu aku masih ada di pendidikan Kadet, semua pelajarannya terasa membosankan sampai-sampai aku gampang mengantuk waktu mendengarkan, namun ketika aku berada di medan pertempuran sungguhan, ternyata semuanya begitu mengerikan. Wajah Letnan Tanya nampak kelelahan namun ia masih bisa menembakkan hujan formula ledakan secara bertubi-tubi. Aku begitu kagum dan tercengang menyaksikan kemampuan superhuman-nya; yang aku bisa hanyalah terbang mengikutinya, namun ia bisa mengatasi semuanya bahkan ia mampu melumpuhkan musuh yang mau menyerangku tanpa terluka sedikitpun.

Aku tahu sia-sia aku memikirkan hal-hal seperti ini pada waktu sekarang ini, namun apa yang aku lihat darinya serasa memaksaku untuk menyadari bahwa beda kemampuan antara dirinya dan diriku ibarat bumi dan langit, dan itulah mengapa ia sampai bisa menerima Satyla Lencana Tempur Sayap Perak.

“Komandan kompi kepada semua anggota. Dalam hitungan 300 detik pemboman akan dilanjutkan. Kita mundur.”

Lalu pada suatu ketika saat aku sedang melamun, pasukan musuh yang sudah porak poranda berusaha untuk melarikan diri. Pertempuran selalu berakhir ketika aku sedang berusahan terbang menyelamatkan diri. Biasanya, aku lalu harus memberanikan diriku untuk mengejar musuh-musuhku, jadi aku merasa lega ketika hari ini aku mendapat perintah untuk mundur, “Roger”.

Ya, lega. Lega karena aku tidak perlu menanggung rasa bersalah ketika aku harus mengejar musuh-musuh yang nampaknya sudah menyerah. Aku ini beda dengan Letnan Tanya, yang dapat dengan entengnya menembaki para musuh yang sudah mundur dari pertempuran. Aku lega karena aku tidak harus menembaki mereka.

Ketika aku melaksanakan perintah dan terbang di belakang dirinya, rasa-rasanya aku berada dalam keadaan trance,menembakkan formula secara membabi buta tanpa banyak berpikir panjang. Namun aku masih merasa tidak sampai hati untuk menembaki para tentara yang mundur dari pertempuran. Maksudku. . . Aku penasaran apakah membunuh mereka itu adalah hal yang baik dan benar.

Tentu saja, sebagai Kopral Viktoriya Ivanovna Serebryakov, aku harus menembak mereka, namun sebagai Visha, aku tidak sanggup.

“Kita selamat semua. Tak ada korban jiwa kecuali kerusakan beberapa alat.”

Ketika kami sampai di titik kumpul, hilangnya tekanan secara tiba-tiba membuatku linglung. Satu-satunya yang aku pikirkan hanyalah tidur pulas.

Aku penasaran apakah ini semua tidak masalah, namun sebagai seorang gadis muda di garis depan pertempuran, di mana jarang terdapat air bersih, kita tidak dapat mengharapkan kemewahan semacam kamar mandi putri. Letnan Tanya dengan singkat berkata, “Tidur sana, malam”, lalu pergi tidur, jadi aku mengikuti contohnya dan memutuskan untuk mensyukuri apa yang ada: aku punya kasur untuk tidur; aku sudah begitu lelah.

Namun nampaknya Tuhan tidak sebaik itu. Kami tiba-tiba dipanggil untuk berkumpul. Tanpa kusadari, kami semua sudah berkumpul.

“Bagus. Baik, para kompi, saya punya berita buruk.”

Uh-oh. Aku hanya bisa merasa berdebar ketika melihat Letnan Schwarkopf dengan ekspresi datar membawa sebuah kabar buruk. Bahkan dengan pengalaman militerku yang minim, aku sudah belajar bahwa tidak ada tanda-tanda yang lebih buruk daripada seorang komandan membawa berita dengan ekspresi datarnya.

“Kita baru saja mendapat pesan mendesak. Kompi Penyihir Tempur 403 tiba-tiba terlibat pertempuran dengan dua kompi penyihir musuh yang menerobos garis pertahanan.”

Itu artinya kompi yang bertugas untuk menangani gelombang musuh berikutnya yang akan datang telah diserang. Sekelompok musuh yang baru sudah mengajak ribut orang-orang kami yang harusnya menyerang pasukan bantuan musuh. Otakku masih setengah sadar, namun rasa-rasa krisis ini sudah mulai masuk, dan dengan cepat akupun kembali terbangun. Jadi, di sini ada pasukan kami, ada gelombang musuh berikutnya yang berpotensi menyerang, dan sekelompok musuh yang baru.

“. . . dan pasukan bantuan musuh?”

“Tim artileri masih berusaha menghalau mereka, namun petugas observer terkait sekarang sedang diburu oleh pasukan penyihir musuh dan karena itu tidak dapat banyak membantu tim artileri.”

Percakapan antar perwira membuatku mampu memprediksi situasi buruk yang akan terjadi. Ah, aku harus bertempur lagi. Aku menghela nafas sembari berusaha mencerna situasi.

“Jadi kita harus segera membantu kompi 403. Kita harus segera berangkat.”

Satu demi satu tugas mendadak menumpuk. Ditambah lagi, bukanlah hal yang mudah untuk membangkitkan kembali semangat bertempur ketika kalian sudah terlanjur beristirahat. Komandan kompi lalu melanjutkan, tanpa menghiraukan pikiranku yang masih kemana-mana.

“Pada waktu yang bersamaan, kita harus menyelamatkan sang observer yang sedang diserang. Ia meminta bantuan. Itu mengingatkan saya, nah, bukankah anda sudah punya pengalaman yang mirip-mirip ketika anda bertugas di Front Utara, Letnan Tanya?”

“Ya, pak, dan kalau boleh jujur, saya tidak ingin mengulanginya lagi.”

Menjadi observer bagi artileri ibarat memasang sasaran tembak di tubuhmu bagi pasukan penyihir musuh. Semua penyihir veteran akan memberitahumu betapa pentingnya menghabisi “mata udara” artileri musuh, karena tanpa mereka, tim artileri bukanlah apa-apa. Jika kalian bertugas sebagai mata bagi para dewa perang, maka takdirmu adalah menjadi yang paling utama diburu.

. . . Elya, kau pembohong. Kamu tidak aman di garis belakang apalagi sambil minum teh!

Observer begitu diburu sampai tingkat yang mencengangkan. Yang membuatku semakin ketakutan adalah ketika aku mengingat cerita Letnan Tanya, yang dapat dengan tenangnya terbang menembus hujan tembakan, terluka sangat parah ketika dia menjadi observer di Front Utara. Itulah betapa ngototnya musuh mengincar para observer.

Cara lain bagiku untuk melihat situasi ini adalah bahwa si observer ini, yang dalam posisi yang sama dengan Elya, ada dalam masalah yang serius. Kedengarannya memang tidak logis, namun ada suara dalam hatiku yang mengatakan aku harus menolong orang ini. Sebenarnya, aku pun tidak paham persis perasaan macam apa ini.

Jadi, aku harus mengerahkan yang terbaik dalam operasi penyelamatan ini. Menemukan tekat yang baru, aku meregangkan tubuhku dan menarik nafas dalam-dalam untuk bisa sepenuhnya terbangun. Namun hanya perasaankulah yang berubah. Di luar, aku masih nampak seperti bocah yang kelelahan.

“Saya mengerti. Baiklah. . . Letnan Tanya, sebagai penerima Sayap Perak, apakah misi penyelamatan ini mungkin dilakukan?”

“Bahkan tanpa memperhitungkan adanya potensi keterlambatan, misi ini akan sulit.”

“Bahkan jika anda menggunakan Tipe 95?”

“. . . saya sendiri tidak masalah, namun Kopral Serebryakov terlihat sudah kelelahan.”

Letnan Tanya menjawab setelah sejenak melirik diriku yang terdiam, ia nampak agak enggan.

“Aku tidak ingin menjadi seorang perwira yang tak becus yang membawa bawahannya dalam sebuah misi penyelamatan yang berbahaya hanya untuk menambah bawahannya tersebut sebagai korban tambahan.”

“Kalau begitu kalian berpisah saja. Tidak, lupakan.”

Emosi yang terdapat dalam perkataan Letnan Tanya sulit dideskripsikan. Mungkin ada rasa kecewa, mungkin juga sedikit rasa peduli, namun pada akhirnya, Letnan Tanya hanya ingin mengatakan bahwa misi ini mustahil. Dan dari cara Letnan Schwarkopf mengubah pikirannya di tengah-tengah percakapan menjelaskan itu semua. 2 orang adalah unit terkecil.

Jika Letnan Tanya melakukan misi solo, maka aku bisa saja akan menghadapi pertempuran udara dengan dua kompi penyihir musuh seorang diri pula. Apalagi, setiap unit yang menyerang perbatasan pastilah punya tim supportnya sendiri-sendiri. Tanpa pertolongan rekanku, kesempatanku untuk selamat sebagai seorang newbie tanpa support sangatlah kecil.

Bahkan jika aku ingin ikut dalam misi itu, nyatanya, aku saat ini hanya berdiri berdiam diri di hadapan mereka semua, kelelahan dengan pikiran yang susah fokus setelah pertempuran terakhir. Itulah mengapa mereka membatalkan rencana mereka sebelumnya. Itulah mengapa mereka merasa ragu.

Ketika aku menyadarinya, aku pun berteriak. Sekali lagi, aku sendiri tidak benar-benar memahami arti dari perasaan ini.

“Komandan, jika saya boleh!”

“Kopral Serebryakov?”

“Saya bersedia ikut! Saya menyediakan diri untuk ikut misi penyelamatan!”

Letnan Schwarkopf nampak curiga. Oke, aku baru saja menyela atasanku, yang bisa saja membuatku dihukum. Aku tak pernah berpikir bahwa aku bisa sebegitu impulsif, bahwa aku punya keberanian macam itu.

“Kopral!”

“Saya adalah seorang tentara Kerajaan juga! Meskipun lancang bagi saya untuk mengatakannya, saya percaya saya mampu ikut menangani misi ini!”

Teguran singkat dari Letnan Tanya biasanya sudah mampu membuatku tak berdaya, namun bahkan seruan keras darinya tidak dapat menghentikanku kali ini.

“Komandan, saya mohon izinkan saya untuk ikut!”

“Itulah yang dia katakan, Letnan.”

“Letnan Schwarkopf!”

Teriakan kagetnya dan matanya, yang biasanya ia sipitkan karena rasa enggan, kini melotot dengan lebar – sikapnya menanggapi jawaban yang tak terduga ini membuatnya terlihat mirip seperti anak 10 tahun, mirip seperti anak seumurannya.

Ternyata, bahkan seseorang yang nampak begitu dingin di luar sebenarnya juga bisa ikut merasa khawatir akan bawahannya.

“Saya juga akan memerintahkan squad Schone untuk ikut bersama anda. Pergilah.”

“Tapi. . . Letnan.”

“Ia sudah membuat keputusannya. Saya mengerti maksud anda, Letnan, namun jika terlalu berlebihan justru akan membuat anda overprotektif.”

Letnan Tanya terdiam keheranan. Mungkin ia sebenarnya lebih emosional daripada yang nampak di luar. Mungkin kurang ajar bagiku untuk memikirkannya, namun ekspresinya begitu lucu sampai aku kesulitan menahan tawaku. Meskipun memang benar bukan itu yang seharusnya aku pikirkan pada saat itu, tapi rasanya aku paham sekarang mengapa teman-temanku mengatakan kalau aku punya wajah yang lucu.

Wajah Letnan Tanya yang dingin ibarat vampire kini sirna, dan sedikit rasa putus asa nampak.

Aneh rasanya ketika menyadari bahwa betapa pentingnya diriku baginya. Memang mungkin aku tahunya agak belakangan, namun aku terkejut ada anak kecil yang begitu peduli terhadapku.

“Dimengerti, saya akan lakukan yang terbaik.”

“Menjadi penyelamat dalam situasi krisis adalah harapan semua penyihir. Tuhan memberkati.”

“Sama-sama, komandan.”

Dengan demikian, sebagian besar kompi pun pergi. Letnan Tanya melihat mereka berangkat bertugas lalu berpaling padaku dengan senyum penuh kekaguman.

“Baiklah, Kopral. Apakah anda siap?”

Itu adalah senyum yang baik. Entah mengapa, melihat ekspresinya yang demikian, aku jadi kepikiran apakah ia memang memiliki gigi taring yang panjang seperti vampire. Namun aku tetap membalas senyumnya, penuh rasa bangga dan percaya diri. Benar, aku telah membuat keputusanku. Aku memutuskan untuk tidak pernah meninggalkan siapa pun seorang diri.

“Ya, Letnan.”

“Bagus. Sekarang, waktunya kita bekerja. Sersan Schone, saya akan membutuhkan bantuan tim anda juga.”

“Tentu. Kami adalah tim paling berpengalaman di Front Rhine.”

meionovel.id

~~***~~~

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded