The Male Lead’s Villainess Fiancee Chapter 1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Itu yang Namanya Cinta, Kan?

.

“Ada suatu hal penting yang harus aku katakan.”

.

Louise dengan sopan mengatupkan kedua tangannya

.

“Tentu aku mendengarkan. Tunanganku yang satu ini selalu serius dalam segala hal.”

.

Louise bersyukur atas jawabnya yang ringan dan sambil bercanda. Tak peduli sudah berapa lama Putera Mahkota Ian dan Louise bersama, hubungan mereka tidak pernah serius.

Louise ragu-ragu untuk beberapa saat, namun ketika ia menghembuskan nafas, kata-kata tercurah dengan sendirinya.

.

“Aku tidak ingin kita bertunangan.”

.

Apakah dia mengatakannya dengan benar? Ketika Louise dengan hati-hati memandang, sang pangeran memandangnya dengan penuh rasa kaget.

.

“. . . Apa?”

.


Louise lanjut menjelaskan lagi.

.

“Aku berkata semoga kamu tidak mengungkit-ungkit lagi perjodohan kita waktu kecil dulu.”

.

Mata sang pangeran yang biru nampak bergetar sejenak.

Ia kelihatan kehilangan kemampuannya untuk bicara.

Louise merasa bersalah bahwa ia pasti mengagetkan sang pangeram, namun ia tidak punya pilihan lain.

Pertunangannya dengan putera mahkota akan menjadi sebuah racun yang akan menghancurkan hidupnya.

Dan mengapa ia begitu yakin akan hal itu?

Karena aku sudah baca novel aslinya. Sebelum aku dilahirkan di dunia ini, novel itu sudah tamat.’

~~~***~~~

Ada lebih banyak hal yang akan terungkap bila semua orang mengenakan pakaian yang sama.

Tidak hanya mampu memperlihatkan bentuk tubuh seseorang ataupun wajah mereka, namun juga kelas ekonomi dan kondisi keluarga.

Akan tetapi, seragam sekolah Korea adalah ironi terbesar; seragam itulah yang paling mampu menunjukkan perbedaan masing-masing orang.

Pada pagi hari sang gadis akan memulai harinnya dengan mengecek lengan bajunya.

Ada noda hitam di salah satu lengannya. Noda semacam itu tidak akan ditemukan pada seragam seorang anak yang seragamnya dicucikan oleh orang tuanya.

Untungnya masih ada jaket yang menutupi noda itu, meskipun noda di lengannya akan semakin terlihat ketika ia merentangkan tangannya, dan itu membuatnya semakin malu dan malu di dalam kelas.

Hari itu adalah hari yang baik untuk pura-pura sakit. Membolos sekolah adalah saat untuk kabur dari kebiasaan membandingkan dirinya dengan anak lain.

Saat tidak masuk sekolah, gadis itu akan duduk di ruang multimedia perpustakaan kota dan melihat-lihat profil akun media sosial temannya meskipun ia berjanji untuk tidak melakukannya.

Satu persatu, kafe yang indah dan sesi foto terpampang secara online.

Jika kamu tidak merasa iri, kamu pasti berbohong; jika kamu tidak merasa iri, kamu bukan manusia. Sehingga terkadang ia menutup mata dan berharap.

‘Seandainya aku dilahirkan di lingkungan yang lebih baik.’

Jika iya, ia pasti akan merasa bahagia setiap hari. Ia akan memakai pakaian yang sempurna dengan baju dan sepatu yang dicuci sempurna.

Ia akan masuk sekolah swasta atau memanggil guru les pribadi untuk melengkapi otak yang biasa-biasa ini.

Lagipula, seperti semua orang lainnya, ia rindu akan apa yang tidak ia miliki, namun kerinduannya lebih dari sekadar rasa iri. Ini lebih soal bagaimana bertahan hidup.

Kesenjangan ekonomi yang sudah sedemikian lebar akan semakin melebar.

Ia mengetahuinya dari membaca koran atau judul-judul dari buku-buku baru tiap kali ia datang ke perpustakaan.

Semakin ia mengerti tentang dunia ini, dunia semakin terlihat suram dan suram.

Semua buku dan koran seolah-olah ingin menyatakan bahwa tidak ada lagi harapan bagi masa depan seorang gadis miskin seperti dirinya.

Tidak di Korea, namun di dalam dunia fantasi, seluruh cerita dapat terjadi dengan jentikan jari.

Tokoh heroine di dalam novel selalu dicintai dan dilindungi, dan ia terkadang menutup matanya ketika membaca dan membayangkan menjadi seperti mereka.

Novel terakhir yang ia baca adalah sebuah fantasi romance berjudul “Kekasih Palsu di Akademi”.

Di akademi, yang hanya dimasuki anak-anak para bangsawan dan orang-orang kaya, sang tokoh heroine bertemu dengan putera mahkota dan meraih kebahagiaan serta kesuksesan.

‘ini adalah kisah yang menarik. Meskipun amat disayangkan ketika sang penjahat, Louise Sweeney, membully sang tokoh utama.’

Tentu saja, menikmati dunia fantasi sambil membaca novel di dalam perpustakaan lokal adalah hobi yang tidak akan ia beritahukan kepada siapapun.

Mungkin tidak akan ada orang yang akan pernah tahu. Teman-teman, guru-guru, bahkan Tuhan yang ada di surga. Itu adalah hobi yang ia simpan rapat-rapat untuk waktu yang lama.

~~~***~~~

.

Sekarang aku . . . ‘

.

sang gadis melihat kedua tangannya, sambil mengedip-kedipkan matanya.

Ia memiliki tangan yang lembut bagai boneka yang tidak terbiasa ia pakai bahkan hingga beberapa hari sesudahnya.

Kedua tangan yang lembut ini mengintip keluar dari lengan baju putih berenda.

Tidak ada lipatan dalam renda tersebut, begitu lembutnya sampai-sampai terlihat begitu mudah dirobek namun sulit dijahit.

Bukan hanya itu.

Pakaian sang gadis terlihat jelas-jelas pakaian mahal bahkan bagi orang tidak tahu banyak soal fashion.

Badannya dan lingkungannya telah berubah dalam sekejap, dan untuk beberapa saat sang gadis tidak mampu memahami apa yang sedang terjadi terhadap dirinya.

Setelah beberapa saat mengalami kebingungan ia akhirnya sampai pada suatu kesimpulan.


.

aku terbangun di dalam tubuh anak lain.’

.

Tiba-tiba saja, pada suatu hari, tanpa peringatan ataupun pertanda.

Namun ada satu hal lagi yang sangat mengejutkan. Hal itu adalah. . .

Tok. . . Tok. . .

Ia mendengarkan ketukan yang lembut namun mendesak.

Sang gadis menjawab dengan suara pelan dan pintu itu, yang berukirkan mawar-mawar emas, terbuka.

.

“Sayang!”

.

Seorang wanita dalam gaun malamnya memasuki kamarnya.

Setelah tiga hari mengamati tempat yang aneh ini, sang gadis memahami bahwa wanita ini adalah ibunya.

Wanita itu melangkah maju dan memeluknya erat-erat.

Tubuh sang gadis itu, yang telah menjadi dingin selama subuh, perlahan mencair di dalam pelukan hangat itu.

“Oh sayang, pembantumu memberi tahuku kalau kamu terkena demam semalam. Aku tidak tahu lagi apakah aku akan menyalahkannya. Kalau saja aku tahu lebih awal aku pasti tidak akan membiarkanmu tidur sendirian. . .”

.

Betapa ia memperhatikan sang gadis, tangannya mengelus lembut sang gadis.

Ini adalah pertama kalinya sang gadis menerima sebuah perhatian yang besar dan ia merasa tidak terbiasa dimanja seperti itu.

Mungkin karena lingkungan yang benar-benar baru, namun sang gadis masih beradaptasi dengan tubuh yang aneh ini dan berhati-hati dengan segalanya.

Ia tidak dapat berkata “Aku berasal dari dunia lain” karena ia takut akan terjadi hal yang buruk.

Namun, jujur saja, itu tidaklah sepenuhnya benar. Jika ia berkata demikian ia tidak akan dapat lagi merasakan kehangatan dari seseorang yang mengkhawatirkan dirinya.

Bahkan jika kehidupan ini bukanlah benar-benar miliknya, ia ingin menikmatinya untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

.

“Anakku.”

.

Ibunya memanggil dengan lembut sambil menatap matanya. Meskipun ia adalah seorang wanita yang telah melahirkan seorang anak, kecantikannya masih sangat mengagumkan.

.

“Sungguh sangat wajar kalau aku mengkhawatirkanmu.”

.

.

“Aku benar-benar nggak apa-apa kok.”

.

Demam itu pasti disebabkan karena terlalu banyak informasi baru yang diserap sejak pagi hingga sore untuk memahami dunia ini. Ketika ibunya dengan penuh kegelisahan mengelus pipi sang gadis yang memerah, gadis itu menguap.

.

“Apa kamu capek?”

.

Gadis itu mengangguk.

.

“Tidurlah, aku akan menemanimu sampai kamu benar-benar tertidur.”

.

Gadis itu pun langsung merebahkan diri dan terbenam ke dalam kasur yang besar dan empuk.

Ia merasakan sentuhan yang hangat pada rambutnya dan hatinya tergelitik akan nyamannya selimutnya dan perhatian yang sungguh tulus.

Akan tetapi, ada satu masalah dalam hidup yang satu ini.

“Selamat malam, Louise Sweeney kecilku.”

Kenyataan bahwa ia menjadi orang ini.

Kau mungkin bertanya, siapa itu Louise Sweeney?

Ia adalah penjahat dalam novel “Kekasih Palsu di Akademi” yang gadis itu baca dalam hidupnya yang sebelumnya di Korea.

Jika saja dia tidak menjadi penjahat, ia pasti tidak akan kecewa seperti ini.

Ketika ceritanya ditulis bahkan ada sekelompok unit fandom yang menyebut diri mereka “Unit Pembenci Louise Sweeney.”

puluhan ribu pembaca berdoa untuk jatuhnya sosok perempuan kejam ini.

Bahkan ada catatan penulis yang berbunyi: ‘Louise Sweeney akhirnya terbunuh Selasa depan. Mari bersulang! Cheers!

Gadis itu –bukan, Louise – membenamkan wajahnya ke dalam bantalnya.


.

Ini sungguh buruk. Aku sungguh sial.

.

Sayangnya tidak ada Tuhan di dunia macam ini.

Jika ada, Ia tidak akan menghukum dirinya sebegitu kejamnya.

Di Korea dia hanyalah seorang gadis miskin yang gemar membaca novel, dan sekarang dia harus membayarnya dengan menjadi tokoh terkejam di suatu novel?

.

‘Bagaimana ceritanya aku bisa menjadi karakter ini? Biasanya engkau akan masuk menjadi tokoh protagonis!’

.

Jika saja ada Tuhan yang bertanggung jawab atas ini semua, ia akan menghadap-Nya dan mengacungkan jarinya kepada-Nya dan berkata:

.

‘Bukankah lebih baik kalau Engkau menciptakanku sebagai tokoh utama! Baik hati, pintar. . . dicintai semua orang.’

.

Ia begitu merindukan hidup semacam itu, namun nyatanya ia tidak dicintai siapa pun!

.

‘Ah. . .’

.

Louise tiba-tiba teringat akan sentuhan hangat pada rambutnya.

Itu yang namanya cinta, kan?

Ia ingat akan pakaian mahal dan ruangan yang mewah.

Louise Sweeney, meskipun seorang penjahat di dalam novel, adalah seorang gadis yang kaya tidak seperti tokoh heroine yang miskin.

Betapa kayanya! Inilah yang ia rindukan selama berada di Korea!

Louise mengagumi rambut pirangnya yang menutupi pandangannya.

Bahkan mengingat tubuh gadis ini baru berusia lima tahun, namun ia sungguh cantik.

Tentu saja, di dalam novel pun Louise sering dilukiskan sebagai seorang gadis yang cantik.

.

“Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Louise,”

.

Bisik ibunya.

.

“Kamulah anak kami yang paling berharga, pewaris keluarga, dan terang bagi keluarga. Ayah dan Ibumu ini akan selalu mendukungmu.”

.

Kata-kata ‘pewaris’ dan ‘mendukung’ yang diucapkan begitu lembut oleh ibunya hampir membuatnya menangis.

Louise berpikir ulang akan keinginannya untuk mengacungkan jarinya kepada Tuhan.

Ia kini merasa bersyukur tidak menjadi tokoh heroine yang miskin.

Siapa yang peduli akan tokoh pria?

Luoise Sweeney memiliki keluarga yang mencintainya dan ia memiliki wajah yang cantik.

Jika saat-saat seperti hanyalah sebuah mimpi, ia ingin agar dapat tinggal di sini selama mungkin.

Karena jika seseorang membangunkannya, ia akan menjadi miskin dan tak berdaya lagi di Korea.

~~~***~~~

‘Jika hidup di dunia novel adalah sebuah mimpi, aku mohon jangan pernah bangunkan aku dari mimpi ini.’

Mungkin doanya yang jujur ini terkabul. Ataukah ia memang ditakdirkan untuk hidup di dunia ini tanpa adanya doa?

Ia tak pernah lagi membuka matanya sebagai seorang gadis Korea dengan sendok dan sumpit.

Seiring berjalannya waktu, sang gadis terbiasa menjadi seorang Louise dan tak lagi merasa terkejut tiap kali ia memandang dirinya di cermin.

Hidup sebagai seorang gadis kaya adalah hal yang paling mulus dan nyaman yang pernah ia alami di sepanjang hidupnya.

Dan yang paling utama, Louise dicintai oleh ayah dan ibunya.

“Louise, harta kebanggaan kami.”

“Kami sungguh terberkati memiliki anak perempuan yang sungguh luar biasa.”

Bahkan para pelayan dan pembantu di dalam rumahnya yang mewah juga turut mencintainya.

“Ia sungguh gadis yang dewasa. Ia selalu berbuat baik kepada semua orang.”

“Lucunya dia bicara dengan bahasa yang sangat sopan!”

“Kalau anak gadis yang lain sukanya keras kepala sama pembantu, tapi dia itu perhatian sama para pembantu dan pelayan.”

Ini juga kali pertamanya ia dicintai tidak hanya di dalam rumah, namun juga di luar rumah.

Ia dipandang sebagai orang yang berharga ke manapun ia pergi. Sebuah hidup yang sempurna.

Namun ia harus tetap berhati-hati agar tidak terlalu menyesal di kemudian hari.

Bagaimanapun juga, Louise Sweeney adalah seorang penjahat.

Jika sampai ia berbuat kesalahan, seluruh kebahagiaannya akan lenyap dan ia akan jatuh di jurang ke hancuran.

Ia selalu berusaha untuk tetap menjadi orang yang rendah hati dan baik agar ia dapat terus menikmati hidup bahagia seperti ini selama mungkin.

Alih-alih ditakdirkan melangkah di jalan kemalangan, ia memilih berjalan di jalan indah berbunga penuh kebahagiaan.

Waktu pun berlalu. Waktu itu musik semi ketika Louise Sweeney menginjak usia 17 tahun.

Ia memandang dirinya di depan cermin.

Rambut pirang yang halus, mata berwarna biru kecubung yang langka, dan kulit yang sungguh terawat indah.

Ia berusaha memberikan senyum indahnya.

‘Nggak apa-apa kok. Kali ini nggak akan sama dengan aslinya.’

Louise mulai sering menyemangati dirinya sendiri akhir-akhir ini.

Ia akan mulai masuk Akademi, titik awal mula dari novel yang asli.

~~~***~~~

Akademi Cientia. Louise berhenti sebentar untuk menikmati megahnya bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya.

.

‘Jadi ini di mana setting novel itu terjadi…’

.

Di tempat inilah sang putera mahkota dan tokoh heroine dari keluarga bangsawan miskin bertemu dan berjanji untuk setia hidup bersama satu dengan yang lain.

‘ Di dalam cerita yang asli, Louise bertunangan dengan sang pangeran lalu ditinggalkan olehnya ketika dia jatuh cinta dengan tokoh heroine. Dalam kemarahannya ia akhirnya memilih berjalan di jurang kehancuran.’

.

Louise menjadi begitu sedih sampai-sampai tidak mampu meneruskan bisnis keluarganya.

.

Oh, aku tidak mau itu semua terjadi! Aku kini dilahirkan dalam keluarga kaya raya setelah semua penderitaan panjang yang aku alami. Kalau itu terjadi, semua ini sia-sia saja.’

.

Tentu saja putera mahkota memiliki wajah yang tampan rupawan, seperti layaknya tokoh pria utama.

Akan tetapi, yang paling utama. . .

Ia sudah pernah bertemu dengannya, dan ia hanyalah seorang laki-laki yang suka mengerjainya.

Jumlah kebaikan yang pernah ia lakukan kepada Louise lebih sedikit daripada jumlah cacing tanah yang cukup berani untuk berjalan di bawah matahari terik.

.

‘Baiklah, kalau dipikir-pikir, ia memang tidak harus berbuat baik kepadaku karena toh aku bukan seorang heroine.’

.

Akan lebih baik bila ia tidak terbelit dalam hubungan yang tidak penting.

Lagi pula, masih ada banyak laki-laki yang dapat ia gandeng dalam jalur bahagia ini.

Tinggal satu hal yang harus Louise pegang teguh ketika masuk akademi.

‘Aku tidak akan mencintai pangeran!’

Tentu saja, ia juga tidak akan mengganggu tokoh perempuan utama jika memang tidak perlu.

Louise, yang benar-benar sudah membaca novel aslinya, mau tak mau harus turut menikmati hubungan mesra mereka.

Ia bahkan merasa tertarik tiap kali memikirkannya.

Ia selalu merasa senang tiap kali hal itu terjadi di dalam novel favoritnya atau webcomic ataupun drama, namun hal itu akan segera menjadi kenyataan tepat di hadapannya!

Louise merasa berdebar melihat kerinduan dan cinta di antara sebuah pasangan.

“Rasa-rasanya, kamu belum benerin kepalamu yang kosong itu ya?”

Seseorang tiba-tiba berbicara di belakangnya dan menepuknya punggungnya. 

Louise dengan panik segera menoleh, berhadap-hadapan dengan sepasang mata berwarna biru yang terlihat begitu berseri di bawah terang sinar matahari.

“. . .”

Orang itu memiliki rambut perak yang tertata rapi dan jauh lebih tinggi dari Louise.

Mungkin dialah satu-satunya orang yang akan nampak menonjol di tengah keramaian.

Ian Audmonial Crond.

Sang putera mahkota, orang yang seharusnya tidak ia pedulikan.

Dalam novel yang asli, ia adalah seorang laki-laki tanpa hati yang meninggalkan Louise.

Ia berusaha keras memberikan senyum.

Bahkan jika ia ingin memutuskan pertunangan resminya, ia masih harus mempertahankan hubungan persahabatan antara dirinya dengan sang penerus tahta kerajaan.

.

“Lama tak jumpa.”

.

Ketika ia ingin membungkuk, sang pangeran tersenyum dan mencubit pipi Louise dengan jarinya yang panjang.

.

“Aku sudah lama mengharapkan melihat tunangan kesayanganku masuk sekolah.”

.

~~~***~~~



Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded