The Male Lead’s Villainess Fiancee Chapter 10 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Mengapa Kamu Lari? (1)

Rambut perak Ian berayun lembut tetiup angin musim semi. Ia menata-nata rambutnya yang menghalangi matanya dengan jemarinya yang panjang dan matanya yang biru berkilauan di bawah sinar matahari. Louise berdiri terpaku memegang gagang pintu sambil menatap sosok pria itu.

.

Apakah efek angin sedramatis itu hanya punya tokoh utama saja?’

.

Efek itu memang sungguh indah bila dibandingkan dengan Louise. Rambut Louise yang panjang malah menjadi kusut dan berantakan bila tertiup angin. Tetap saja, ini bukan saatnya untuk mengagumi tokoh utama.

Louise memaksakan senyumannya. Di saat-saat seperti ini, tersenyum adalah pilihan terbaik. Lawan bicaranya pasti akan secara otomatis membalas senyumannya. Dan sudah pasti, bibir Ian sedikit mengembang ke atas. Kelihatannya samar-samar, namun Ian memang tersenyum.

Sekarang, saatnya angkat bicara dengan normal.

Yang Mulia, aku tidak tahu bahwa Anda ada di sini, namun saya berharap hari Anda akan menyenangkan. Oleh karenanya, saya sebagai pemeran pembantu di sini memohon untuk undur diri.

Louise dengan perlahan mundur kembali ke aula, sambil terus menatap wajah Ian. Ia cepat-cepat menutup pintu lalu menarik nafas penuh kelegaan. Senyum kaku di wajahnya kini ia lepas. Ia menoleh-noleh dan melihat papan tanda yang ada di pintu, kalau-kalau ia tadi salah tempat.

Dewan siswa.

Ini tempatnya, kan?!

.

Apakah Ian memang anggota dewan siswa di novel yang asli?’

.

Ia berani bersumpah bahwa Ian bukan anggota dewan siswa di novel aslinya. Meskipun sudah hampir 2 dekade sejak terakhir kali ia membaca novel tersebut, namun ia sungguh yakin. Pertama-tama, menjadi dewan siswa sungguh bertolak belakang dengan tipe kepribadian Ian. Ian Audmonial Crond adalah pangeran penyendiri yang tidak pernah mempercayai siapapun. Senyum di wajahnya tidak pernah tulus, ia juga tidak pernah memberikan candaan kecuali kalau memang memberikan keuntungan baginya.

Orang-orang yang berada di dekatnya selalu mencoba memanfaatkannya, dan Louise di novel yang asli juga demikian, ia ingin menikahi Ian hanya untuk bisa bergabung kedalam kalangan kerajaan yang penuh kemewahan. Stella Lapis adalah satu-satunya orang yang tidak mengharapkan apapun dari Ian, dan Ian menjadi terobsesi dengannya.

Kata “obsesi” tadi tidaklah berlebihan. “Kekasih Palsu Akademi” penuh dengan hashtag seperti #cowokobsesif #cowoklugu #cadanganmustahil dan #janganpalingkanwajahmu.

.

Baiklah, lagian nggak ngaruh juga.’

.

Sebenarnya hal itu juga bukanlah hal yang buruk. Jika Ian menjadi anggota dewan siswa maka akan semakin besar kemungkinan Ian akan bertemu dengan Stella, yang bekerja paruh waktu di perpustakaan.

.

Lagipula, Aku harus menjauh dari sini.’

.

Di dalam sana ada jalan menuju neraka. Bukan, itu adalah jalan tol menuju neraka di mana bos terakhir dari neraka sudah menunggu, “Ayolah, datang dan hadapi saja nasib burukmu.” Ia tidak berani melangkahkan kaki ke dalam ruang itu.

.

Tapi…’

.

Louise memain-mainkan rambut emasnya.

Louise tak bisa melupakan senyuman Ian. Tentu saja, bukan berarti Louise jatuh cinta dengan Ian atau karena Louise berpikir bahwa Ian tampan. Nggak bakal! Itu semua karena mereka sudah berteman sangat lama.

Louise meraih kembali gagang pintu itu setelah berpikir panjang, memutarnya dan membuka pintu itu.

Ian masih berdiri di tempat yang sama, kali ini ia berpaling sambil diam membisu memandang ke luar jendela. Mungkin ia sedang memikirkan sesuatu. Apapun itu, kelihatannya itu mengganggu dirinya. Senyum yang tadi ia berikan kepada Louise…

.

Senyumannya yang itu jarang ia berikan, ia hanya tersenyum seperti itu kalau ia butuh pertolongan.’

.

Louise masuk ke dalam ruang dewan dan bertanya dengan suara lirih.

.

“… hei, ada apa?”

.

Ian tidak langsung menoleh. Louise melihat permainan antara cahaya dan bayangan yang tertoreh di punggung Ian. Setelah beberapa saat Ian baru menoleh.

.

“Aku sedang memikirkan bunga.”

.

.

“Bunga?”

.

.

“Iya.”

.

Ian memegang-megang dagunya seolah Ian masih kesulitan berpikir.

.

“Kita akan mengadakan pesta untuk semester baru. Dan untuk persta itu—”

.

.

“Kamu butuh bunga.”

.

.

“Kamu tahu aku banget.”

.

Louise merasa lega ketika Ian memberikan senyum tanda apresiasi. Louise rasa tidak mungkin kalau Ian memikirkan dirinya yang kabur dari ruangan itu tadi.

.

“Kalau kamu memikirkan soal penataan bunga untuk pesta, coba pertimbangkan tempat dan suasanya. Ada sebuah kebun bunga yang dapat kamu lihat-lihat dekat sini.”

.

Ketika Louise sedang bicara, Ian berjalan perlahan mendekati Louise.

Ian berhenti tepat di depan Louise. Kaki mereka hampir bersentuhan.

.

“—dan buatlah daftar tugas yang harus dikerjakan… Yang Mulia?”

.

.

“… Kamu masih memanggilku dengan sebutan itu.”

.

.

“Oh.

.

Louise tersenyum dengan canggung dan menutup mulutnya dengan tangannya beberapa saat.

.

“Kebiasaan itu susah hilang.”

.

Louise melangkah mundur.

.

“Aku setuju. Kamu perlu lebih berhati-hati.”

.

Ian melangkah maju lagi dan perlahan menutup jarak antara mereka berdua. Louise melangkah mundur lagi sampai punggungnya menyentuh pintu yang ada di belakangnya. Jalan buntu. Louise memandang ke atas. Ian memandang Louise dengan tatapan kejam.

.

“Jangan buat kebiasaan baru selalu mundur tiap kali kamu menjumpaiku.”

.

Mungkin ada maksud tersembunyi di balik kata-katanya, seperti: “Aku akan menyeretmu ke nereka karena kamu selalu kabur dariku tiap kali kamu menjumpai wajah murungku.”

Benar-benar orang yang menyeramkan! Ian dapat saja meruntuhkan status sosial Louise kapanpun Ian mau. Louise berusaha tersenyum semanis mungkin.

.

“Oh, mustahil bagiku untuk lari dari seseorang yang sedang membutuhkan bantuan.”

.

.

“Beneran nih?”

.

Ian tersenyum dan menyandarkan tangannya di tembok di sisi Louise sementara Louise memandangnya dengan ekspresi ketakutan. Louise terperangkap di bawah bayangannya. Kamu gila, Louise Sweeney. Kamu harusnya tidak kabur darinya tadi. Ia benar!

.

“Sebenarnya, sewaktu aku memikirkan soal bunga aku pikir aku bisa menggunakan jasa seorang konsultan.”

.

Konsultan itu bisa saja adalah Louise. Ia sudah banyak belajar soal bunga-bunga dan pepohonan di dalam rumah kaca milik orang tuanya sejak ia masih muda.

.

“Tentu saja aku akan membantumu—”

.

.

“Tapi tadi waktu kita bertemu pandang, kamu malah melangkah mundur dan segera menutup pintu.”

.

.

“…”

.

.

“Bang!”

.

Ia menambahkan efek suara yang keras, seolah-olah kata-kata saja kurang memuaskan.

.

“Aku nggak menutup pintu sekeras itu kok. Aku nutupnya pelan tadi. Mungkin—”

.

Ian mengabaikan protesnya yang malu-malu.

.

“Kamu membanting pintu, seolah aku sudah menyakiti hatimu dan kamu memberiku tatapan dingin.”

.

Louise tidak memberinya tatapan dingin, ia hanya kabur. Itu adalah sebuah kode baginya untuk bertahan hidup.

.

“Aku ingat aku pernah menghentikanmu waktu kamu mau berlari melintasi pagar pembatas.”

.

.

“Terimakasih untuk itu.”

.

.

“Aku ingat akan perjanjian untuk menjaga hubungan masa kecil kita sebagai sebuah rahasia.”

.

.

“Terima kasih untuk itu juga.”

.

.

“Tapi mengapa?”

.

Ian menunduk ke depan dan memandang Louise empat mata. Ian begitu dekat sampai-sampai Louise bisa merasakan hembusan nafas Ian.

.

“Mengapa kamu lari?”

.

~~~***~~~

[ Terima kasih sudah membaca di meionovel.com (^_^) ]

~~~***~~~

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded