The Male Lead’s Villainess Fiancee Chapter 11 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Mengapa Kamu Lari? (2)

Louise bergetar ketakutan. Ian terlalu dekat. Louise membuka mulut sembari memandang mata Ian yang gelap.

.

“Aku nggak lari…”

.

Suaranya gemetar.

.

“Aku cuma ingin mengecek untuk memastikan apakah aku masuk ke ruang yang benar. Aku masih belum hafal tempat-tempat di kampus.”

.

Louise tersenyum gugup.

.

“Tapi aku nggak pernah bisa meninggalkan teman yang kesusahan.”

.

Louise tidak hanya sedang berjalan menuju neraka, ia sedang terjun bebas masuk ke jurang neraka.

.

“Teman?”

.

.

“… apakah aneh kalau aku memanggilmu teman?”

.

.

“Nggak, nggak terlalu aneh. Rasa-rasanya nggak salah juga. Hubungan kita mungkin bisa saja disebut sebagai ‘teman masa kecil.’”

.

Tidak, Ian jelas-jelas bukan teman masa kecil Louise. Kalaupun itu yang Ian inginkan, maka Louise siap untuk mengubah arti kata teman masa kecil dalam kamusnya.

Teman masa kecil: sebuah relasi berbahaya di mana seorang teman dari masa kecilmu dapat menghancurkan seluruh hidupmu kapan saja.

.

“Aku senang mendengarmu berkata bahwa kamu adalah temanku. Meskipun kamu juga mantan tunanganku yang kabur karena merasa tak nyaman melihat wajahku.”

.

Bukan wajahnya yang membuat Louise tidak nyaman. Lagipula, Louise merasa beruntung bahwa Ian setidaknya setuju dengan pertemanan itu. Ian cukup baik untuk tidak melakukan suatu hal yang kejam kepada temannya.

.

“Tidak juga sih. Yang Mulia, kamu tidak memberitahuku bahwa kamu juga akan menghadiri rapat dewan siswa hari ini, jadinya aku kaget tadi.”

.

.

“Aku belum bilang padamu?”

.

.

“Belum.”

.

Kalau saja Louise tahu, Louise akan langsung pergi menghilang sewaktu ia menerima ajakan untuk bergabung ke dalam dewan siswa.

.

“Aku minta maaf.”

.

Akhirnya Ian melangkah mundur. Ia menarik tangannya dan memandang Louise dengan tatapan yang lebih ramah.

.

“Aku minta maaf bahwa teman kesayanganku yang satu ini tidak tahu apa yang murid-murid lainnya tahu.”

.

.

“Aku orangnya lambat kalau soal rumor.”

.

.

“Rasanya memang benar.”

.

Tidak ada siapapun entah itu bangsawan ataupun orang biasa yang akan repot-repot memberitahunya informasi kecil ini.

.

“Ngomong-ngomong, aku ini presiden dewan. Sayangnya, aku merasa diriku ini tidak cukup.”

.

.

“Cukup?”

.

Sebagai presiden dewan ia memiliki otoritas tertinggi beserta tanggung jawabnya di antara murid-murid lainnya. Tidak jauh berbeda dengan statusnya yang asli.

.

“Ada banyak hal yang harus aku lakukan, oleh karena itu aku banyak bergantung pada anggota dewan yang lain.”

.

.

“Pasti enak rasanya punya banyak orang yang dapat dipercaya.”

.

Louise bicara seolah-olah ia sedang membicarakan soal urusan orang lain. Ia masih mencari peluang untuk lari.

.

“Benarkah?”

.

Ian tersenyum, dan Louise dengan cepat mengangguk.

.

“Dan sekarang teman masa kecilku yang dapat dipercaya ini akan menjadi salah satunya.”

.

Ugh. Sudah nggak ada lagi jalan untuk kabur.

.

“Sungguh tradisi yang luar biasa. Apa itu? Murid terbaik di kelas akan langsung bergabung dengan dewan siswa?”

.

Itu tradisi kuno.

.

“Kamu pasti berpikir kalau itu cuma tradisi kuno, ya kan?”

.

Louise menjawab dengan ketakutan.

.

“Nggak! Bahkan tradisi yang sudah kunopun masih harus dihargai!”

.

.

“Aku senang kamu paham.”

.

Beginilah bagaimana Louise akhirnya tertangkap juga.

.

“Ini tidak akan menjadi pengalaman yang buruk bagimu. Ini justru menjadi sebuah kesempatan untuk menunjukkan bahwa seorang Louise Sweeney layak bila dibandingkan dengan keluarga lainnya.”

.

.

“Apa… Layak?”

.

.

“Ada banyak murid di akademi ini yang dididik sebagai penerus keluarga-keluarga penting.”

.

Louise menatap tajam Ian.

.

“Apakah itu alasanmu menjadi presiden dewan?”

.

.

“Hmmm?”

.

.

“Untuk membuktikan bahwa kamu layak.”

.

.

“Maksudmu aku?”

.

Ian tertawa. Louise Sweeney, seperti biasanya, bertanya hal-hal aneh. Berani-beraninya Louise mengatakan bahwa seorang putra mahkota harus membuktikan bahwa dirinya layak.

.

“Baiklah, kalau kamu pikir begitu.”

.

.

‘… Ada sesuatu yang beda.’

.

Louise akhirnya menunduk, menerima posisinya sebagai anggota baru dewan siswa. Ia harus mengakui suasana di ruang dewan sangatlah nyaman dan ia merasa seperti menjadi bagian dalam sebuah kelompok hobi kecil.

Ian tidak seperti sosoknya yang ada di dalam novel asli. Ian yang asli tidak benar-benar berusaha mengejar perkembangan diri sampai sejauh ini.

~~~***~~~

[ Terima kasih sudah membaca di meionovel.com (^_^) ]

~~~***~~~

.

“Kerjanya nggak sulit kok. Kita hanya perlu membantu agar para murid bisa merasakan hidup studinya bisa lebih hidup.”

.

Kata Claire Iris menyemangati.

.

“Apa yang biasanya kalian lakukan?”

.

.

“Banyak hal. Kita mengadakan event dan kegiatan sukarela secara rutin. Ketika para murid merasa diperlakukan sewenang-wenang, maka hal yang paling penting untuk kita lakukan adalah membela mereka.

.

Claire berhenti sejenak lalu sedikit menundukkan badan dengan ekspresi yang serius.

.

“Kita selalu berhati-hati agar jangan sampai ada menu yang mengerikan di kantin kampus.”

.

.

“…”

.

.

“Coba pikir. Tempat ini sudah kayak pulai terpencil, ya kan? Bayangkan selama ujian semester waktu kamu nggak bisa keluar sebebas biasanya, lalu kamu disajikan menu terong panggang atau ekor keledai.”

.

Louise selama ini cukup percaya diri karena ia telah hidup dalam lingkungan yang sungguh jauh berbeda, dari kehidupan lamanya yang miskin hingga hidup barunya di dunia fiksi yang kaya. Bagaimanapu juga, hidupnya masih terasa biasa bila dibandingkan dengan makanan itu.

.

“Aku nggak mau bayangin.”

.

.

“Ya kan? Bu pengurus kantin selalu ada-ada saja ide menu seperti itu. Terong panggang benar-benar jadi menu makanan tahun lalu.”

.

Louise merinding membayangkan rasanya. Claire lalu menepuk tangan.

.

“Nggak perlu terlalu khawatir, menu kantin selalu dipampang seminggu sebelumnya, dan kita selalu memprotes menu yang paling nggak enak. Seperti yang satu itu—”

.

.

“Terus, apa lagi yang kalian lakukan?”

.

Tampaknya Claire sudah siap menyebut menu-menu aneh lainnya, jadi Louise cepat-cepat mengganti topik.

.

“Baiklah… ada sesuatu yang bisa kamu lakukan.

.

.

“Apa itu?”

.

.

“Aku sendiri ingin melakukannya, tapi aku nggak sanggup. Jadi aku serahkan ini padamu. Apakah bisa, pak Presiden?”

.

Claire melirik Ian, yang duduk di ujung meja. Ian perlahan menyilangkan kakinya.

“Justru itu bagus. Tidak ada kesempatan yang sebagus ini menunjukkan bahwa seorang Louise Sweeney layak.”

Claire menggangguk menyetujuinya setelah mendapatkan izin.

.

“Aku juga berpikir begitu. Setiap anggota dewan harus mampu menunjukkan bahwa diri mereka layak.”

.

Tugas macam apa yang mereka persiapkan untuk Louise? Mungkin seluruh tempat bunga di kampus perlu diganti. Atau mungkin mereka perlu sebuah buku ilustrasi tentang jenis-jenis tanaman yang tumbuh di lingkungan kampus.

.

“Tugasmu…”

.

Louise menelan ludah. Ia sudah merasa gugup.

.

“…adalah menemukan kelas-kelas yang terancam ditutup.”

.

Tugas ini terasa tidak masuk akal bagi Louise.

.

“…Huh?”

.

.

“Akademi ini punya beberapa kelas yang populer, tapi ada juga yang tidak.”

.

Louise mengangguk. Louise masih memiliki dendam terhadap kelas fisikanya dulu di Korea.

.

“Tapi masih ada murid yang benar-benar menginginkan kelas yang nggak populer itu. Mereka pasti bakal merasa sedih banget kalau sampai kelas-kelas itu ditutup.”

.

.

“Dengan kata lain…”

.

Louise perlahan menyimpulkan kata-kata Claire.

.

“Kita akan mengisi kelas-kelas itu agar tidak ditutup?”

.

.

“Benar.”

.

Bagaimana mungkin ini bisa berhubungan dengan apa ia layak atau tidak? Siapapun dapat mendaftar kelas-kelas itu, bahkan jika mereka bukan seorang Louise!

.

“Kamu pasti mikir apa hubungannya tugas ini dengan usaha menunjukkan bahwa kamu layak atau tidak?”

.

Ian bertanya, sambil mengangkat wajahnya dan tersenyum.

.

“Aku…!”

.

.

“Menurutmu, apa lagi yang bikin sebuah kelas jadi nggak populer?”

.

Kenapa? Itu sudah sangat jelas.

.

“Pastinya karena kelasnya sulit. Atau karena pelajarannya membosankan, atau karena ujiannya yang sulit…”

.

Kelas yang seperti itu meninggalkan rasa yang pahit di mulutnya, namun bertahan di dalam kelas itu dan meraih nilai bagus dari kelas itu akan menjadi sebuah kesempatan untuk menunjukkan dirinya layak. Louise dalam hati ingin mengelus dadanya. Hanya ada dua hal yang ia inginkan selama berada di dalam akademi ini.

Yang pertama adalah berada sejauh mungkin dari Ian. Yang kedua adalah mempertahankan peringkat atas di kelas dan menikmati penghargaan sebagai siswa berprestasi.

Rasanya, dewan siswa bukan lagi sebuah jalan tol menuju akhir yang mengerikan, namun dewan siswa itulah akhir yang mengerikan itu sendiri. Seperti yang sudah diduga, hidup Louise akan segera hancur.

~~~***~~~

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded