The Male Lead’s Villainess Fiancee Chapter 13 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Hubungan Murid dan Guru (2)

Ia sungguh beruntung. Louise bergegas menuju kelas pertamanya serasa berjalan di atas angin.

Sungguh menyenangkan bertemu dengan Professor Wayne Hill secara langsung, namun ia lebih senang lagi dengan suatu hal lainnya.

.

“Dewan siswa kita sungguh yang terbaik!”

.

Louise bersemangat sekali ketika memasuki ruang kelas di lantai tiga. Ian, yang duduk dekat jendela, memandang Louise dengan keheranan. Wajah Louise yang penuh kebahagiaan dan semangat membuatnya ingin bertanya sesuatu.

.

“Udah, cepetan kalau ada yang mau diomongin.”

.

.

“Rasanya luar biasa bisa bantu orang yang lagi butuh!”

.

Mata ungunya bersinar kegirangan sembari tertawa cekikikan. Ia merasa lega karena kelas “Tumbuhan, Serangga, dan Bumi” mampu memenuhi persyaratan jumlah murid.

.

“Yakin deh, sebenarnya yang butuh bantuan itu kamu.”

.

Berkat ini semua Ian harus mengikuti kelas tambahan yang sangat membosankan. Dalam hal apapun, dewan siswa selalu bertindak adil terhadap semua murid. Bahkan jika ada satu murid saja yang ingin mengikuti kelas tertentu, seluruh anggota dewan siswa akan berusaha membantu sebisa mereka. Louise duduk di kursinya dan melihat jadwal pelajarannya. Ia ingat kata-kata Claire hari itu.

.

Tapi tetap ada beberapa murid yang sungguh menginginkan kelas yang tidak populer untuk tetap diadakan. Mereka akan sangat sedih kalau kelas itu ditutup.”

.

Ketika Claire mengatakannya, Louise merasa heran siapakah orang di seluruh muka bumi ini yang ingin ikut kelas-kelas yang tidak populer.

.

“Salah satunya pasti diriku ini.”

.

Meskipun kelas “Tumbuhan, Serangga, dan Bumi” tidak populer, Louise sungguh gembira ketika mengetahui kelas itu tidak ditutup. Sekarang ia dengan senang hati dapat membantu murid yang lain yang berada di dalam situasi seperti dirinya. Seperti contohnya, kelas “Sejarah dan Para Sejarawan” yang sekarang akan segera berlangsung.

.

“Terimakasih ya sudah mendaftar di kelas ini.”

.

Seorang murid laki-laki membungkuk kepada Louise dan Ian. Ia adalah salah satu putra dari keluarga bangsawan, meskipun statusnya tidak berarti apa-apa lagi di dalam akademi.

.

“Pastinya sangat mengerikan kalau kelas favoritmu harus ditutup.”

.

Louise menjawab dengan penuh simpati.

.

“Sebenarnya sih, aku nggak suka-suka amat sama pelajaran ini…”

.

.

“Apa?”

.

Ia mendaftar ke kelas yang ia bahkan tidak sukai? Terlebih lagi, sebuah kelas yang susah dapat nilai bagus?! Ia menggaruk-garuk kepalanya lalu menghela nafas.

.

“Kakekku bilang kalau sejarah itu penting. Kalau aku tidak mendapat nilai bagus di kelasnya Professor Herman Hewitt, aku akan dicoret dari daftar ahli warisnya.”

.

Ia mengeluh, putus asa, ditambah lagi ia punya 5 saudara laki-laki dan 3 saudara perempuan.

.

“Kakekku selalu membiayai riset Professor Hewitt. Jadi kalau aku sebagai ahli waris tidak kenal dengan hasil karyanya…”

.

Sejarah adalah sebuah mata pelajaran yang menantang yang membutuhkan daya ingat, imajinasi, dan wawasan yang luas. Ada beberapa orang yang sungguh menyukainya, namun tidak dengan anak ini. Setidaknya ia masih memiliki tekad untuk bisa bertahan di kelas sejarah ini, entah bagaimana caranya.

.

“Kalau kelas ini sampai ditutup, maka kesempatanku untuk menjadi ahli waris kakekku juga akan hilang.”

.

.

“Setidaknya, sudah bagus ada lima orang di kelas ini.”

.

Louise memandang ke sekeliling. Selain anak ini, hanya ada satu murid lain yang sungguh-sungguh menyukai sejarah. Sisanya adalah 3 orang anggota dewan siswa, termasuk Louise.

.

“Ya, aku senang sekali. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah berjuang dengan keras.”

.

.

“Ya, semuanya akan baik-baik saja.”

.

Mendengar kata-kata semangat dari Louise, ia mengangguk lalu mengeluarkan buku catatannya.

Pintu kelas terbuka.

Seorang pria berwajah seram dengan setelan necis melangkah ke tengah ruang kuliah. Ia adalah professor yang mengajar di kelas ini, Professor Herman Hewitt. Ia melihat ke sekeliling ruang dengan tatapan yang tajam. Sewaktu beliau menatap Louise, Louise dapat merasakan bulu kuduknya berdiri.

Perasaan ini. Rasa takut ini. Rasanya jelas sekali beliau berada dalam mood yang buruk sewaktu beliau masuk kelas. Mengapa? Apakah karena hanya ada sedikit murid? Akhirnya beliau membuka mulutnya dan mulai bicara.

.

“Nama saya adalah Professor Herman Hewitt. Rasanya kelas kita berada diujung tanduk lagi semester ini.”

.

Pandangannya terarah kepada Louise dan Ian.

.

“Bagi mereka yang tidak memiliki bakat ataupun otak, silahkan angkat kaki dari kelas saya sekarang! Saya tidak dibayar cukup banyak untuk mengajar orang-orang bodoh.”

.

Kelas menjadi sunyi senyap. Beliau nampak menunggu ada murid yang pergi meninggalkan kelas. Louise, dan semua murid yang lain, duduk tak bergerak. Professor Hewitt memandang ke sekeliling dan akhirnya bicara lagi.

.

“Apakah kalian pikir kalian semua memiliki bakat dan otak? Apakah itu yang membuat kalian masih berani duduk di kelas ini?”

.

.

“…”

.

Tidak ada satupun yang menjawab.

.

“Baik, kalau begitu saya akan mengetes otak kalian. Keluarkan buku catatan kalian. Saya akan memberikan kalian sebuah tes.”

.

.

“T-tes?!”

.

Untuk pertama kalinya ada seseorang yang memprotes. Itu adalah anak yang baru saja berbicara dengan Louise sebelumnya.

.

“Ya. Saya ingin melihat apakah otak kosong kalian itu cukup mampu untuk menerima pelajaran saya. Apakah kalian punya keluhan?”

.

.

“Tapi hanya ada 5 orang di kelas ini…”

.

Anak itu menggumam, professor itu tersenyum mengejek.

.

“Dan sudah pasti tidak akan ada dari kalian yang akan betul semua dalam menjawab soal-soal tes ini.”

.

===***===

[ Terimakasih sudah membaca meionovel.com ]

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded