The Male Lead’s Villainess Fiancee Chapter 14 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

MLVF Chapter 14

Sebuah Ilustrasi Dengan Tangan yang Memegang Erat Dirinya (1)

Sebuah tes di hari pertama kelas!

.

“Professor, saya rasa ini tidak adil.”

.

Louise dengan cepat mengacungkan tangan dan memprotes. Ini hal yang wajar dilakukan oleh siapapun dalam situasi macam ini. Professor Hewitt melihatnya beberapa ama lalu melihat ke daftar muridnya.

.

“Kamu pasti Louise Sweeney.”

.

.

“Ya, pak. Ini adalah kelas pertama saya.”

.

.

“Apakah ada peraturan yang mengatakan bahwa saya tidak boleh memberikan tes di hari pertama pelajaran?”

.

.

“Tidak, tapi—”

.

.

“Kalau begitu ya tidak jadi masalah.”

.

Sementara Louise ragu menjawab lebih lanjut, seorang anak laki-laki yang duduk di depannya juga mengangkat tangannya. Ia adalah murid yang ingin menjadi ahli waris keluarganya.

.

“Professor, mengetes kemampuan kami rasanya seperti bapak ingin menyaring kami lagi.”

.

Ia berusaha mengatakannya dengan sesopan mungkin, namun dengan kritik di dalamnya. Akademi adalah sebuah tempat untuk belajar tanpa adanya diskriminasi ataupun batasan. Itu adalah sebuah nilai yang terus dijaga sejak berdirinya Akademi.

Professor Hewitt tak terkejut dengan komentar anak itu. Sebaliknya, ia berdiri dari kursinya dan menatap wajah anak itu.

.

“Saya ingin bertanya. Bisakah kamu mengajari seorang anak caranya menari?”

.

.

“… apa pak?”

.

.

“Bisakah kamu menulis puisi dalam bahasa asing yang tidak kamu ketahui?”

.

Tidak ada yang menjawab, lalu Professor Hewitt menjelaskan.

.

“Kalian perlu mempersiapkan diri sebelum menerima pelajaran. Kalian harus belajar bagaimana caranya menyeimbangkan diri kalian sebelum kalian belajar menari, seperti kalian harus mengenali pola pikir dan cita rasa di balik suatu bahasa sebelum kalian mampu menulis puisi.”

.

Sekilas, Professor Hewitt benar. Akan tetapi, bagaimanapun juga, sebagai murid Akademi, mereka semua sudah lulus persyaratan minimum akan kecerdasan dan pengetahuan budaya lewat ujian masuk. Mungkin Professor Hewitt ingin mengetes aspek lain yang belum tersentuh oleh ujian masuk. Tapi apa? Kualitas khusus lain macam apa yang diperlukan agar dapat mengikuti sebuah kelas sejarah?

Sementara bagi Louise, ia percaya diri kalau ia mampu melewati tes mengingat dalam hal sejarah. Ia juga percaya akan teman-temannya yang lain juga, terutama Ian. Salah satu tugas putera mahkota adalah mempelajari perkembangan negara dan urusan politik luar negeri yang berhubungan dengannya.

.

“Kamu nampaknya masih bingung. Baiklah, saya akan bertanya dengan cara yang paling sederhana yang saya mampu.”

.

Professor Hewitt menatap anak itu dengan tajam.

.

“Kalau kamu tidak bisa menjawabnya dengan baik, segera keluar dari ruang kelas saya sekarang. Lalu cepatlah berjalan menuju kantor untuk melepas kelas saya.”

.

Anak itu gemetar. Tergantung dari jawaban yang mampu ia berikan, ia bisa saja dicoret dari daftar ahli waris selamanya.

.

“Tentukan nilai-nilai hidupmu.”

.

.

“… Hah?”

.

Anak itu, yang menduga akan diberi pertanyaan mengenai sejarah, sungguh terkejut. Ia tidak sendiri. Louise juga tidak paham maksud dari pertanyaan itu. Tentukan nilai-nilai hidupmu. Ia bisa paham maksud pertanyaan itu bila diajukan dalam kelas filosofi, akan tetapi mereka sekarang berada di dalam kelas sejarah.

Anak itu menggumamkan hal-hal umum seperti “kebiasaan-kebiasaan baik” dan “tradisi keluarga”, namun ia tidak mampu memberikan suatu jawaban yang lain selain hal-hal umum tadi. Siapapun juga pasti akan kesulitan menjawabnya bila tiba-tiba diberi pertanyaan seperti itu secara mendadak.

Professor Hewitt mengalihkan pandangannya dan bertanya kepada murid yang lain pertanyaan yang sama. Hasilnya tetap sama. Kalau saja mereka diminta untuk menuliskannya di atas kertas mereka mungkin akan mampu menuliskan jawaban yang lebih pasti, namun ditanya secara langsung seperti ini membuat mereka hanya mampu memberikan jawaban secara umum.

.

“Bagaimana denganmu?”

.

Sekarang ia mengarahkan pandangannya kepada Louise.

.

“Professor, saya…”

.

Louise berusaha menebak-nebak jawaban apa yang beliau inginkan.

.

“Saya rasa kita bisa menemukannya dalam tulisan-tulisan para sejarawan.”

.

.

“Saya tidak bertanya soal rencana pelajaran.”

.

.

“Tapi itu yang harusnya bapak ajarkan.”

.

.

“Itu absurd.”

.

Professor Hewitt tertawa dan memalingkan pandangannya.

.

“Ini bukan sekolah dasar di mana kalian hanya membuka buku pelajaran lalu sekadar mengingat apa yang tertulis di dalamnya. Ini adalah sebuah kurikulum canggih yang bertujuan untuk melahirkan sejarawan ulung.”

.

Tentu saja, seorang sejarawan yang baik harus memiliki suatu keahlian tertentu, namun di antara banyak keahlian yang ada, ada satu yang paling panting bagi seorang Professor Hewitt.

.

“Intisari dari sebuah pemikiran, nilai hidup. Kalian harus memiliki akar nilai hidup yang kuat untuk memastikan konsistensi kalian. Tanpa itu -”

.

Professor Hewitt mengatakan dengan jelas, memandang pada Louise dan murid-murid yang lain satu persatu.

.

“- kalian akan hanyut begitu saja dalam arus massa. Seperti daun yang gugur dalam aliran sungai.”

.

Ia menutup buku absensi muridnya dengan sebuah tepukan. Ia terlihat sedang bersiap meninggalkan ruang kuliah.

.

“… Habislah aku…”

.

Anak itu terlihat putus asa. Tentu saja kelas Professor Hewitt akan dibuka lagi semester depan, namun dari rumor yang pasti akan menyebar karena kejadian hari, pastinya akan sedikit murid yang akan mendaftar lagi semester depan. Professor Hewitt mungkin akan mengetes muridnya lagi semester depan dan karenanya murid-murid lain pasti akan malas mendaftar. Louise teringat akan kata-kata Claire.

.

Ketika murid-murid mengalami ketidak adilan, hal terpenting yang harus kita lakukan adalah membela mereka.”

.

Ini adalah saatnya bagi Louise untuk bertindak, tak peduli ia akan berhasil ataupun tidak. Jika ia maju, Ian akan mendukungnya sebagai presiden dewan siswa.

.

“Professor.”

.

.

“Kelas sudah berakhir, nona Louise Sweeney. Kamu bisa pergi ke kantor nanti untuk melepas kelas ini. Saya akan menyetujuinya kapan pun.”

.

.

“Tidak, saya ingin mengikuti kelas bapak.”

.

.

“Rasa-rasanya saya tidak sedang mengajar anda.”

.

.

“Nilai hidup berasal dari lingkungan di mana orang tersebut berada.”

.

Louise mengatakannya dengan penuh keyakinan.

.

“Oleh karenanya, ini adalah tanggung jawab para orang tua dan professor untuk menciptakan lingkungan terbaik bagi murid-muridnya.”

.

.

“Dengan kata lain.”

.

Professor Hewitt meletakkan kembali buku absensinya. Matanya yang penuh keriput melotot marah.

.

“Anda ingin mengatakan bahwa saya tidak memenuhi tanggung jawab saya.”

.

.

“… semacam itulah.”

.

Louise tidak segan-segan mengatakannya. Professor Hewitt memandangnya dengan seksama seolah-olah ia sedang mengukur dirinya. Louise merasa ia memiliki secercah harapan. Ada sebuah kesempatan kecil yang terbuka.

.

“Saya merasa Professor benar.”

.

… Sampai ia mendengar sebuah pendapat sampah dari arah jendela.

Louise segera menoleh ke arahnya dengan ekspresi kaget. Ian duduk dengan tangan menopang dagunya. Louise tak percaya apa yang baru saja ia dengar! Ian itu presiden dewan siswa. Ia harusnya berada di pihak para murid lebih dari apapun! Ian bakal tega gitu membiarkan kelas ini ditutup?

.

“Kalau kamu menerima begitu saja pendapat orang lain masuk ke otakmu, kamu nantinya akan menjadi tawanan prasangka mereka.”

.

Ian menambahkan, seakan ingin membuktikan kepada Louise bahwa ia tidak salah dengar.

.

“Mendengarkan pendapat orang lain bukan berarti kita harus menelan bulat-bulat apa yang mereka katakan!”

.

.

“Itu hal yang mudah kalau kamu terus mendengarkan ucapan mereka. Mereka pada akhirnya akan menarikmu untuk menerima logika mereka dan membuatmu patuh pada mereka.”

.

.

“Lalu siapa yang dapat belajar di kelas ini?”

.

.

“Itulah mengapa Professor Hewitt, yang berhak memberikan penilaian, saat ini berdiri di dekat meja guru.”

.

.

“Sungguh aneh! Kalau seseorang tidak mendapat akses menuju nilai-nilai yang baik—”

.

Ian menyela Louise.

.

“Tepat di situlah titik permasalahannya.”

.

.

“…?”

.

.

“Kamu berpikir bahwa konsep sejarah yang diberikan oleh Akademi itu sudah hebat dan benar. Kamu sudah menyerahkan kemampuanmu untuk menilai dengan penilaianmu sendiri.”

.

.

“Tapi…”

.

Ketika Louise tidak dapat lagi berkata-kata, anak laki-laki tadi menoleh kepada Ian lalu berkata.

.

“Akademi ini sudah membuktikan kualitasnya untuk waktu yang lama. Kamu sendiri sudah begitu akrab dengan pandangan-pandangan akademi ini.”

.

.

“Pandangan mayoritas tidak menentukan suatu kehebatan tertentu.”

.

.

“Jadi, jika kecerdasan bergerak menjauhi apa yang kamu maksud hebat itu, bukankah itu artinya kita mengabaikan para peneliti yang berusaha mencari kebenaran yang sejati?”

.

Tanya anak itu, namun alih-alih memberi jawaban, Ian malah mengarahkan pandangannya kepada Professor.

.

“Professor.”

.

Professor Hewitt mengangguk, mempersilahkannya untuk angkat bicara.

.

“Saya merasa topik tentang bagaimana suatu nilai pribadi terbentuk oleh sejarah lebih cocok sebagai bahan diskusi kelas pertama kita.”

.

.

“… Kelihatannya anda tidak begitu setuju dengan saya.”

.

.

“Saya tidak setuju dengan siapa pun, Professor.”

.

Ian menjawab dengan senyum menantang. Professor menghela nafas dalam-dalam.

.

“Baiklah… Kita akan melanjutkan diskusi ini pada kelas berikutnya. Bahan-bahan bacaan akan ditempel di papan buletin besok.”

.

Beliau berjalan keluar kelas, lalu berbalik lagi.

.

“Pertanyaan yang saya ajukan hari ini akan diujikan dalam ujian akhir semester ini. Kalian sudah hampir pasti tidak akan lulus bila kalian tidak memberi jawaban yang berbeda. Terutama…”

.

Beliau menatap tajam Louise. Ugh… Ia tidak ingin menjadi sasaran seperti ini. Tujuannya untuk menjadi lulusan terbaik di Akademi serasa menjauh darinya.

===***===

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded