The Male Lead’s Villainess Fiancee Chapter 15 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Sebuah Ilustrasi Dengan Tangan yang Memegang Erat Dirinya (1)

Louise bersyukur bahwa kelas-kelasnya yang lain berjalan normal seperti yang ia harapkan. Professornya baik-baik, dan murid-muridnya ada yang pemalas dan ada pula yang ambisius. Louise suka yang biasa-biasa saja. Ia puas dengan hidupnya yang istimewa di dunia ini di mana ia bisa menyemangati hubungan mesra antara Ian dan Stella.

Sudah lama sejak terakhir kali ia memikirkan Louise Sweeney yang asli. Ia adalah binatang yang licik, namun selama ia menjadi Louise, ia mulai berubah pikiran soal tokoh jahat itu. Bahkan tokoh jahat di dalam novel pun berhak mendapatkan perhatian. Mungkin Louise yang asli iri dengan kecantikan dan dunia yang lembut yang hanya diistemawakan untuk sang tokoh utama. Iri hatinya itulah yang mendorongnya untuk menyiksa Stella dengan berbagai cara.

.

Ia membully Stella dengan berbagai cara. Bagaimana mungkin ia dapat bertahan dalam kesulitan macam ini?’

.

Louise menahan rasa simpatinya dan mulai berpikir akan tindakan Louise yang asli.

.

Ia pura-pura tersandung dan menjatuhkan minuman panas kepada Stella, memfitnahnya soal tugas-tugasnya, dan ia bahkan melukainya dengan silet yang tajam dan berpura-pura seolah ia tidak sengaja.’

.

Sungguh mengerikan kalau dipikir-pikir lagi. Akhirnya, Louise yang asli akan membuat Ian menangis, menuduh bahwa itu semua kesalahan Stella, ia juga akan menggunakan uangnya untuk menyuap murid-murid dan para guru untuk memihaknya.

.

Dan di dalam perpustakaan…’

.

Louise memandang bangunan besar bergaya klasik yang sedang ia tuju, jantung dari Akademi. Stella bekerja di sana untuk mendapatkan uang, namun sayangnya, Louise yang asli bahkan terus membullynya di dalam perpustakaan juga.

.

Dan kini karena aku tidak membullymu, aku harap kamu dapat merasakan kehidupan sekolah yang baik.’

.

– sebagai seorang murid berprestasi dan seorang kekasih dari putera mahkota. Tentu saja, Louise masih belum melihat adanya tanda-tanda hubungan cinta yang berkembang, namun ia berharap Stella akan segara menemukan kebahagiaannya.

Louise masuk gedung perpustakaan dan perlahan melintasi lemari-lemari buku. Sungguh tenang rasanya berada di dalam perpustakaan.

Setiap perpustakaan menggunakan sistem penataan buku yang sama, sehingga semua orang dapat dengan mudah menemukan buku yang mereka cari. Tentu saja, cara tercepat adalah bertanya langsung kepada petugas perpustakaan, namun Louise lebih suka melihat-lihat buku-buku yang ada sampai menemukan buku yang menarik baginya. Rasa-rasanya inilah kebiasaan terakhir yang masih ia bawa dari kehidupan lamanya di Korea.

Louise mencari-cari di lemari buku yang berisi buku sejarah. Tidak ada orang lain di bagian itu dan tempatnya sungguh tenang. Ia mengambil beberapa buku dan membacanya sekilas, melihat-lihat kalau-kalau ada yang akan membantunya di kelas.

Louise menoleh ketika mendengar suara berisik dari salah satu baris rak buku yang memecah kesunyian. Tidak ada suatu hal istimewa yang terjadi; hanya seorang gadis di atas tangga yang berusaha meraih sebuah buku tebal lalu tak sengaja menjatuhkannya. Akan tetapi, Louise tidak dapat mengalihkan pandangannya dari rambut merah gadis itu yang begitu indah.

.

Stella…’

.

Stella terkaget atas jatuhnya buku itu. Ia cepat-cepat membungkuk seolah meminta maaf pada orang yang di dekatnya, lalu berbalik dan menata buku-buku itu kembali.

Louise merasakan sensasi yang aneh ketika ia melihat kejadian itu. Kalau diingat-ingat lagi, inilah chapter di mana Stella jatuh dari tangga. Louise memegang kepalanya dan berusaha mengingat-ingat kejadian dari novel yang asli.

Lemari-lemari buku yang ada ternyata berisi buku-buku yang berbeda dengan daftar buku yang diberikan oleh petugas perpustakaannya kepadanya.

Stella menghela nafas. Rasa-rasanya murid-murid kaya di sekolah ini tidak dapat melakukan hal-hal sederhana dengan benar termasuk mengembalikan buku pada tempat asalnya. Dan meski ia adalah gadis miskin dari keluarga Count Lapis, ia selalu dengan teliti membersihkan dan menata perpustakaan agar tetap rapi.

Stella memanjat tangga yang berat. Ia sempat merasa tangga itu terlalu tinggi, namun ia dengan cepat mampu menyesuaikan diri dan meraih bagian lemari yang lebih tinggi. Akan tetapi, tanpa sengaja ia menjatuhkan buku dari tangannya, yang lalu menghantam lantai dengan suara keras. Tangannya pasti sudah terasa lelah.

.

Stella mengelus-elus tangannya beberapa saat.’

.

Louise melihat-lihat Stella lagi. Ia masih di atas tangga. Louise memegang kepalanya lagi.

.

Setelah itu, petugas perpustakaan bertanya apakah ia baik-baik saja.’

.

Segera setelah Louise mengingat-ingat kejadian itu, petugas perpustakaan menghampiri Stella.

.

“Stella, apa kamu baik-baik saja? Kalau kamu capek, kamu boleh istirahat dulu.”

.

.

Aku tidak apa-apa. Aku hampir selesai kok, aku akan istirahat nanti kalau semuanya sudah selesai.”

.

.

“Aku tidak apa-apa. Aku hampir selesai kok, aku akan istirahat nanti kalau semuanya sudah selesai.”

.

Ya Tuhan! Itu semua sama! Louise menutup mulutnya dengan tangannya. Rasanya ada teriakan yang sempat terselip keluar dari mulutnya. Ini adalah pertama kalinya di dalam dunia ini ia mendengar percakapan yang sama persis dengan novel aslinya. Nyatanya, ada alasan lain mengapa ia ingat kejadian ini dengan begitu jelasnya.

Stella melihat daftar bukunya lagi. Sekarang ia harus memindahkan beberapa buku yang berat. Ia menarik sebuah buku berhard cover hitam dengan ujung jarinya. Beratnya buku itu membuat tangannya yang mungil gemetar, dan buku itu pun terlepas dari tangannya lagi.

.

Tidak…!”

.

Stella berusaha meraihnya. Tangga kayu yang ia gunakan yang bersandar pada lemari buku berderit. Tubuhnya, yang berusaha meraih buku itu, akhirnya terjatuh menuju lantai.

Pada saat itulah Ian akan berlari dan menangkapnya. Tentu saja, kejadian itu dibarengi dengan ilustrasi yang menggelikan di mana sang pahlawan memegang erat pinggang sang gadis. Akankah Louise akan melihat kejadian itu menjadi kenyataan?

Louise melihat Stella, memegang dadanya sembari menahan nafas. Ia menanti-nanti ketika ilustrasi itu menjadi kenyataan.

.

“Tidak…!”

.

Stella berteriak. Buku yang tebal itu terlepas dari tangannya, dan Stella bergegas meraihnya.

Tunggu! Saat ini belum ada tanda-tanda dari tokoh lelaki utama, yang harusnya muncul secara tiba-tiba.

Rambut merah Stella berayun-ayun di udara.

Suara buku terjatuh di lantai. Suara derit tangga. Suara-suara itu terdengar serasa seperti dislow motion bagi Louise.

Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Louise tanpa sadar segera berlari menuju Stella. Ia tiba tepat waktu dan menangkap tubuh Stella yang terjatuh, dan mereka berdua pun jatuh.

Bruk!

Suaranya menggema di perpustakaan. Setelah beberapa saat Louise membuka matanya. Punggungnya terasa begitu sakit. Punggungnya jatuh lebih dulu saat tadi menangkap Stella.

Perlahan ia kembali sadar dan ia merasakan beratnya badan sang gadis yang kini di atas tubuhnya. Tangan Louise memeluk erat pinggang gadis itu.

… Huh? Louise memandang ke atas.

Stella memandang balik Louise.

===***===

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded