The Male Lead’s Villainess Fiancee Chapter 2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Sebuah Hubungan yang Manis (1)

(Catatan: Louise Sweeney lahir dalam keluarga orang kaya, namun bukan keluarga bangsawan)

Louise mengulangi kata-kata Ian.

Tunangan kesayanganku.’

.

Berani-beraninya dia mengucapkan kata-kata itu di mulutnya?

.

“Yang Mulia–”

.

Dia terus mencubit pipi Louise ketika Louise berbicara. Dia menyela Louise dan berkata,

.

“Ian.”

.

.

“Apa?”

.

.

“Panggil saja aku Ian.”

.

.

“Kamu nggak masalah?”

.

.

“Kupikir kamu sudah agak terbiasa dengan peraturannya.”

.

Ia melepaskan tangannya dari pipi Louise sambil dengan tenang menjelaskan kepadanya.

.

“Status keluarga tidak punya arti apa-apa di dalam batas gerbang sekolah ini.”

.

Benar. Itulah yang Louise dengar. Namun ia merasa tidak enak kalau ia memanggil seorang pangeran putera mahkota dengan nama panggilan.

Louise tiba-tiba tersadar sudah betapa dalamnya ia masuk ke dalam suatu sistem kasta. Peraturan bahwa status seseorang tidak berlaku di dalam sekolah adalah hal aneh baginya. Ian mencubitnya lagi untuk memastikan bahwa ia paham.

.

“Jadi, bagaimana kamu harus memanggilku?”

.

.

“Yang Mulia,”

.

Louise menjawab dengan keras kepala. Ia tidak setuju.

.

“Maafkan aku, aku masih belum mengikuti upacara pembukaan, jadi aku masih belum terikat peraturan sekolah.”

.

.

“. . . aku memaksa.”

.

.

“Lebih baik menaati peraturan.”

.

Louise tersenyum menantang dia. Louise belum begitu akrab dengannya. Louise harus bisa menjaga perasaannya dan hidupnya.

.

“Ya, si Louise yang taat peraturan. Karena kita ini orangnya taat, UKS ada di sebelah sana.”

.

Ia menunjuk sebuah bangunan putih yang berada menyerong dari tempat mereka.

.

“Apa?

.

Louise tidak paham mengapa dia menunjuk ke sana.

.

“Itu UKS nya.”

.

.

“Iya, aku tahu.”

.

.

“. . . Tidakkah kamu harus pergi ke sana?”

.

.

“Emang siapa yang mau ke sana?”

.

.

“Dirimu di masa depan?”

.

.

“. . . Apa kamu menyantetku di kelas sihirmu?”

.

.

“Nggak ada kelas semacam itu.”

.

Ian mengusapkan telapak tangannya ke atas poni Louise seolah-olah ingin mengecek panas badannya.

.

“Badanmu dingin.”

.

Ia sedikit membungkuk dan memandang Louise mata dengan mata dengan tatapan wajah penuh perhatian.

.

“Si Louise yang suka berhati-hati selalu mabuk kendaraan setelah naik kereta kudanya untuk waktu yang lama.”

.

Itu benar. Kereta kuda sungguh sangat tidak nyaman untuk bepergian. Roda-rodanya yang keras menyalurkan getaran dari tanah yang tidak rata ke dalam kereta. Meskipun Louise sudah berusaha menjaga badannya tetap stabil, ia masih sering merasa mabuk.

.

“Aku nggak nyangka kamu ingat keadaanku.”

.

Louise melangkah mundur dengan wajah kesal sambil membetulkan kembali poninya yang berantakan.

.

“Baiklah.”

.

Ia menegakkan badannya dan mengusap tangannya yang baru saja menyentuh dahi Louise seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan.

.

“Aku tak dapat melupakannya bahkan jika aku menginginkannya.”

.

Ia ingin melupakannya, tapi tidak bisa?

Louise tersipu malu ketika ia sadar apa yang Ian maksud.

Sekali waktu, pada saat berumur 13 tahun, Louise mabuk begitu beratnya setelah ia naik kereta kuda sampai-sampai ia tak dapat menahan diri untuk memuntahkan makan siangnya.

Ia begitu malu. Ian juga ada di sana waktu itu. Ia tak mampu mempercayai bahwa dirinya telah menunjukkan titik kelemahannya kepada musuhnya untuk diserang!

.

“Kau tahu, itu–!”

.

.

“Aku tahu, force majeure. Itu hal yang tak terelakkan. Aku tidak bermaksud untuk mempermainkannya.”

.

(Catatan TL: force majeure (Perancis) superior force, daya yang lebih besar, maksudnya suatu kekuatan yang di luar kendali diri kita, dalam kasus ini mabuk kendaraan yang membuat muntah)

Ian memberi Louise senyuman jahil dan menepuk-nepuk kepalanya.

.

“Aku cuma khawatir.”

.

Apakah itu tadi sebuah bentuk kekhawatiran? Dia tampak bahagia sebahagia seekor kucing dengan es krimnya.

Dia benar-benar sosok yang menjengkelkan. Apa yang Louise dalam novel yang asli lihat dari sosok pria yang satu ini? Dia pasti sudah membuat keributan dengan pria satu ini.

Louise yang saat ini memandang sang pria yang ada di hadapannya, sambil sekali lagi mengedipkan matanya.

Meskipun begitu, ia tampan.

Namun pada akhirnya itu tidak berpengaruh apa-apa. Bagaimanapun ia adalah seorang pria berbahaya yang mampu menarik Louise pergi dari jalur kebahagiaannya dengan sekali serang. Louise tentu tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

.

“Kamu nggak usah khawatir.”

.

Louise memandang ke sekeliling beberapa saat. Semua siswa yang lain yang mengikuti upacara pembukaan berjalan memasuki sebuah gedung yang besar. Ia melihat seseorang yang nampaknya seorang anggota fakultas melambaikan tangannya di kejauhan, memberi tanda kalau sudah saatnya untuk masuk.

.

“Baiklah, aku pergi dulu. Terima kasih sudah memberitahuku kemana aku harus pergi.”

.

.

“Nggak masalah.”

.

Louise sedikit membungkuk dan berjalan meninggalkannya.

.

“Louise.”

.

Baru saja Louise melewati dirinya, ia memanggil nama Louise lagi. Angin bertiup menghembusi rambut pirangnya yang panjang, membuatnya menoleh.

.

“Kalau kamu benar-benar sakit, kamu nggak harus ikut upacara pembukaan.”

.

.

“Kamu terlalu khawatir.”

.

.

“Beneran nih?”

.

Ia berhenti sejenak, lalu lanjut menjawab dengan wajah serius yang datar-datar saja.

.

“Aku cuma ingin mencegah masa lalumu yang tragis agar tidak terulang, membuat dirimu malu lagi di hadapan seluruh penghuni sekolah.”

.

Kurang ajar!

Louise mengepalkan tangannya. Orang tuanya mengajarinya “kalau ada seseorang yang menghinamu, tak perlu kamu menahan diri.” Rasa-rasanya itu adalah sebuah nasihat bagus untuk ditaati hari ini.

Ia berpikir-pikir apakah perlu ia menahan diri di hadapan seorang putera mahkota. Oh, bukankah ia berkata bahwa status tidak berlaku di sekolah?

.

“Yang Mulia, semakin lama kamu semakin kejam.”

.

.

“Dan tunanganku yang elegan ini menjadi semakin kasar.”

.

Ian menambahkan dengan senyuman.

.

“Kamu akan ditahan karena menghina keluarga kerajaan.”

.

“Hanya karena itu? Aku bisa saja mengatakan sesuatu yang lebih kasar seperti ‘aku dianiaya,’ ‘aku dibungkam’, atau ‘rekor seekor cacing tanah bertahan hidup di padang pasir yang panas ternyata lebih panjang daripada rekor kebaikan seorang putera mahkota.’”

.

.

“Baik, baik, itu baru penghinaan.”

.

Louise mengangkat wajahnya dan beretorika.

.

“Bukankah kamu berkata bahwa status keluarga tidak berlaku di dalam batas gerbang sekolah?”

.

.

“Apakah itu yang ingin kamu katakan, Louise Sweeney, orang yang bahkan belum mengikuti upacara pembukaan?”

.

.

“Ugh. . .”

.

Ia lupa bahwa ia tadi berkata demikian.

Apa pun yang terjadi, tidak ada baiknya berlama-lama bersama dengan pria satu ini.

Jika seseorang salah menduga bahwa mereka berdua berhubungan akrab, hal itu hanya akan mengarah pada kesulitan yang tidak perlu. Itulah kekuatan gossip.

.

“Sekarang, aku permisi dulu. Senang bertemu denganmu. Semoga kita nggak sering-sering ketemu lagi.”

.

Mereka berdua berjalan ke arah yang berbeda, menjauh satu sama lain. Ian akan jatuh cinta pada tokoh utama perempuan, dan Louise akan berjuang meraih nilai yang bagus dan lulus dengan penghargaan sebagai siswa berprestasi.

.

“Kita mungkin malah akan lebih sering ketemu lagi, nggak seperti yang kamu pikirkan.”

.

.

“Aku nggak yakin.”

.

Louise mengangkat kedua bahunya, dan Ian memberinya senyum santai sebagai jawaban.

.

“Ngomong-ngomong, setelah upacara pembukaan, Aku harap kamu memanggilku dengan nama panggilan.”

.

.

“Tentu, kalau saja kita ketemu.”

.

.

“Ya, aku berharap kita akan ketemu.”

.

Setelah selesai beradu mulut mereka berbalik dan mulai berjalan menuju arah yang berlawanan. Louise tidak mengerti mengapa Ian berjalan menuju pintu gerbang, namun Louise senang ia tidak harus menemani Ian.

Akankah aku berlari menyusulnya?’

Louise terenyum kepada dirinya sendiri.

Dalam novel yang asli, segera sesudah upacara pembukaan, Ian akan mulai menghindari Louise yang manja dan menyebalkan agar dapat menjalin hubungan yang manis dengan sang tokoh utama perempuan.

Kali ini Louise juga akan menghindari Ian, dan mereka berdua akan memiliki hubungan luar biasa yang sama-sama saling menjengkelkan.

Perjodohan masa kecil akan segera berakhir mulai dari sekarang.

Benar-benar berakhir.

~~~***~~~

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded