The Male Lead’s Villainess Fiancee Chapter 3 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Sebuah Hubungan yang Manis (2)

Di dalam pemakaman gerejalah pertama kalinya Louise bertemu dengan Ian. Waktu itu ia berumur 6 tahun, tidak lama setelah ia datang ke dalam kisah novel ini.

Baginya, pemakaman ini terasa aneh, dan ada alasannya.

.

Mengapa tidak ada seorangpun yang menangis?

.

Meskipun semua orang yang datang berkabung mengenakan pakaian serba hitam serta memberikan penghormatan mereka, tidak ada satupun yang meneteskan air mata. Melihat yang meninggal adalah seorang ratu, kejadian ini malah semakin aneh. Hanya ada satu orang yang menangis.

Ibunya Louise.

Sang ratu terlahir sebagai seorang rakyat biasa, dan ibunya Louise sendiri adalah seorang gadis biasa yang menikahi seorang pebisnis yang juga rakyat biasa. Mereka mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap keadaan latar belakang mereka, dan sebelumnya mereka adalah teman sekelas waktu berada di akademi. Dari sejak saat itu hingga sebelum meninggalnya sang ratu, mereka berdua adalah sepasang sahabat baik.

Bahkan sebelum Louise lahir, sang ratu berkata kepada Bu Sweeney, “Bayangkan betapa luar biasanya kalau anakmu nanti perempuan dan ia menikah dengan anak kami!”

Para pelayat menatap ibunya dengan tatapan tajam. Louise yang sudah membaca novelnya paham dengan arti tatapan tajam itu,

Sang rakyat biasa yang menjadi ratu diceritakan sebagai sosok ratu yang tidak disukai siapapun di dalam lingkungan kerajaan. Ia sering menghabiskan waktunya untuk memanjakan putra kesayangannya dan menulis surat kepada sahabat satu-satunya.

Kematiannya dipandang sebagai sebuah kesempatan bagi wanita lain untuk muncul dan menggantikan tempatnya di samping sang raja. Pemakaman itu adalah puncak dari kebahagiaan semacam itu, namun bagi Bu Sweeney, yang menangis seorang diri, akan merasa jijik atas pemikiran semacam itu.

Ibunya tidak kunjung beranjak pergi dari gereja bahkan setelah upacara pemakaman telah lama usai. Bahkan ketika para imam membersihkan ruang gereja dan meniup lilin-lilin di altar, ia masih saja duduk dan menangis tanpa henti.

Louise duduk terdiam di samping ibunya. Ia ingin sekali menyeka air mata ibunya namun sayangnya ia tidak membawa sapu tangan.

.

“Bu Sweeney.”

.

Dari sudut gereja yang gelap terdengar suara lembut dari seorang anak kecil yang lain. Louise mengedipkan matanya dan mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Akhirnya, seorang anak melangkah maju, dan kini tersorot cahaya dari kaca jendela.

Rambut peraknya yang lembut mematulkan sinar mentari yang memasuki gereja. Memang bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal semacam ini tepat setelah upacara pemakaman, namun Louise berpikir bahwa anak ini sungguh tampan.

.

“Yang Mulia.”

.

Kata ibunya terkejut. Hanya ada satu anak di negeri ini yang dipanggil dengan gelar itu.

Ian Audmonial Crond.

Ibunya berdiri dengan hormat, namun Louise benar-benar terdiam sampai-sampai ia tak berkedip.

.

“Turut berdukacita. . . pasti sulit. . . bagimu untuk. . .”

.

Ia tak kuat untuk mengatakannya sampai akhir.

Ian kecil mengangguk, mengambil sapu tangan yang ada di sakunya dan menawarkannya kepada Bu Sweeney.

Sapu tangannya kering. Ia sendiri tidak menangis sama seperti yang lainnya.

Waktu itu Louise berumur 6 tahun, dan Ian baru 8 tahun. Ian baru setinggi pinggang orang dewasa.

.

“Terima kasih, Bu Sweeney.”

.

Jawabnya dengan wajah tulus.

Ia menawari Bu Sweeney sapu tangan lagi, namun Bu Sweeney menggelengkan kepalanya. Orang macam apa yang menerima sapu tangan dari seorang anak yang baru saja ditinggal mati ibunya?

.

“. . . aku nggak apa-apa.”

.

Begitu katanya, namun Louise dapat melihat bekas gigitan pada bibir Ian. Mungkin ia berusaha keras untuk tidak menangis di hadapan banyak orang.

Ia membayangkan seorang anak kecil menangis sendirian di dalam kamarnya tanpa ada seorangpun yang menghiburnya. Tidak peduli apakah statusmu sebagai tokoh utama laki-laki ataupun seorang putera mahkota, semua orang merasakan sakit hati ketika mereka kehilangan keluarganya.

.

“Aku juga turut berduka cita, Yang Mulia.”

.

Louise segera berdiri dan menunduk kepada Ian.

Mata Ian yang biru memandang Louise.

.

“Terima kasih, Louise Sweeney.”

.

Ketika ia berkata demikian, darah menetes dari bekas gigitan di bibirnya.

Louise secara spontan melangkah maju. Sebenarnya itu merupakan sebuah tindakan kasar, mendekati seorang keluarga kerajaan tanpa meminta izin, namun Louise belum mengerti soal etika semacam itu.

Ia dengan lembut mengusap bibir Ian dengan jarinya. Ian sudah menggigit bibirnya begitu kerasnya sampai-sampai terluka.

.

“Sapu tanganmu. . . pakai saja buat dirimu.”

.

Louise melihat sapu tangan putih yang berada di tangan Ian. Ian nampaknya sedikit kikuk, namun ia memiliki hati yang lembut. Louise berpikir bahwa Ian pasti mewarisi kebaikan hatinya dari sang ibu.

.

“Sapu tanganmu akan membuatmu jadi mendingan.”

.

.

“…”

.

Tangan Ian perlahan mengusap bibirnya.

Louise baru sadar kalau ia sudah tidak sopan terhadap sang pangeran ketika melihat pelayan yang ada di belakangnya nampak seolah seperti ingin pingsan. Namun bagi Louise, meskipun jika ia sudah tahu lebih dulu soal etika kerajaan, ia mungkin akan tetap melakukan hal yang sama.

Tidak hanya dirinya. Siapapun juga akan sama. Tidak ada seorang pun yang tega membiarkan seorang anak menangisi kematian ibunya seorang diri.

~~~***~~~

[Terima kasih sudah membaca meionovel.com \ (^_^ ) / ]

~~~***~~~

Sejak saat itu, sang raja menyatakan bahwa Ian menjadi pewaris tahta, meskipun banyak bangsawan merasa keberatan.

Ayah dan Ibu Louise merasa kagum, namun Louise sendiri tidak merasa kaget. Di dalam novel Ian dituliskan sebagai seorang ‘putera mahkota’, sehingga Louise sudah menduga bahwa pada suatu saat hal ini pasti akan terjadi.

Lagipula, tidak penting bagi Louise apakah Ian menjadi putera mahkota atau tidak. Satu-satunya yang penting baginya adalah bertahan seaman dan senyaman mungkin sebagai seorang Louise Sweeney. Uang dibutuhkan sebagai alat bertahan hidup, dan pengetahuan dibutuhkan untuk mendapatkan dan mempertahankan uang itu.

Ia memperhatikan dengan seksama bisnis hortikultura yang dijalankan ayah dan ibunya. Mereka berdua merasa bangga akan rasa ingin tahu puteri kesayangan mereka akan tanaman yang tumbuh di dalam rumah kaca mereka. Ibunya duduk di sampingnya dan menceritakan tentang bunga-bunga dan tanaman buah-buahan musiman. Meski demikian, ada hari di mana studi hortikulturanya menjadi tidak produktif.

.

“Yang Mulia.”

.

Louise memandang dengan curiga ketika Ian mulai mengunjungi rumah kaca secara rutin.

Sejak meninggalnya sang ratu, Ian sesekali mengunjungi Bu Sweeney dan mendengarkan ceritanya. Ibunya Louise lalu memaksa Louise untuk ikut membaca buku, katanya, “Yang Mulia butuh teman yang seumuran.”

.

“Bu Sweeney, puteri ibu melihatku dengan tidak hormat.”

.

.

“Siapapun akan melakukannya kalau dipaksa membaca buku, Yang Mulia.”

.

Louise membalas sambil menggerutu. Kata-katanya lagi-lagi kelewat batas. Sang pelayan yang berdiri di belakang pangeran mulai memasang wajah serius.

.

“Tidak bagus kalau kamu cuma membaca saat masih muda.”

.

.

“Yang Mulia sendiri masih muda.”

.

.

“Makanya aku datang ke rumah kaca.”

.

Sang pelayan mengernyitkan dahinya ketika kedua anak itu mulai beradu mulut. Sementara itu, ibunya Louise justru tersenyum. Rasa-rasanya hanya dialah yang benar-benar menikmati pertengkaran mereka.

.

“Entah bagaimana, aku rasa aku mulai memahami alasan mengapa sang ratu menjanjikan perjodohan kalian berdua.”

.

Louise tersentak dan langsung berdiri mendengar kata-kata mengerikan itu. Kata-kata itulah yang akan menghantarkan Louise tepat menuju ke neraka.

.

“Perjo. . . dohan?”

.

Ian, yang belum pernah mendengar kata itu sebelumnya, tertarik dengan kata-kata itu.

Ia belum pernah mendengarnya sebelumnya? Kalau begitu, Mama! Stop, jangan lanjutkan! Menceritakan informasi itu ke telinga setan ini akan membuatnya menghantui puterimu di masa depan!

.

“Ya, ibumu belum memberitahumu?”

.

.

“Kedengarannya menarik. Aku ingin mendengarnya.”

.

Ian menarik kursinya ke samping Ibu Louise. Louise kini merasa berada selangkah lebih dekat menuju pintu gerbang neraka.

~~~***~~~

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded