The Male Lead’s Villainess Fiancee Chapter 6 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Aku Tidak Ingin Kita Bertunangan (1)

Louise kaget sampai seolah-olah lupa caranya bernafas.

Berbagai pikiran berputar-putar di dalam kepalanya seperti sebuah tornado, dan ia benar-benar sadar betapa dekatnya ia sekarang dengan Ian.

Ia merasakannya mengingat Ian tadi berbisik di telinganya. Sungguh curang, mengapa sih Ian sebegitu tampannya?

.

“Mengapa kamu begitu kaget?”

.

“Kamu sih tiba-tiba muncul di belakangku.”

.

“Aku tadi sudah manggil-manggil kamu dari dekat tapi kamunya sih nggak dengar, kayaknya kamu lagi seru banget liatin sesuatu.”

.

“Ya, aku—”

.

Louise memain-mainkan rambutnya untuk mengurangi kegugupannya.

Ian memandang Louise dengan curiga lalu ia melihat ke lemari buku yang dari tadi Louise perhatikan.

.

“Kamu baca buku kayak gini?”

.

Louise mengangguk meskipun ia sendiri tidak mau tahu apa yang sebenarnya Ian maksud. Louise tidak bisa begitu saja bilang, “Aku sedang memata-matai orang, bukan lihat-lihat buku.”

.

“Oh iya. Aku lagi tertarik sama topik macam itu akhir-akhir ini, jadi aku coba cari-cari di sini.”

.

.

“Tertarik? Benarkah?”

.

Ia bertanya lagi sambil menyipitkan matanya, dan Louise cepat-cepat mengangguk. Buku apa yang sebenarnya Ian maksud? Baiklah, ini kan perpustakaan Akademi – cuma ada buku-buku soal pelajaran di sini.

.

“Luar biasa. Aku nggak nyangka tunanganku bakal menusukku dari belakang seperti ini.”

.

.

“Apa?”

.

Menusuknya dari belakang? Dia nggak lagi lihat buku macam “Runtuhnya Kerajaan”, kan? Ian membuka mulutnya dan membaca judulnya keras-keras.

.

“ ‘Duh Bingungnya Aku! Horoskop Cinta untuk Mereka yang Ingin Cepat-Cepat Menyatakan Cintanya.”

.

.

“…”

.

Huh, apa? Judul macam apa itu?

.

“Judul yang menarik”

.

Menarik? Judul buku itu lebih panjang dari buku apapun yang pernah Louise baca.

Ian mengambil buku “Duh Bingungnya Aku! Horoskop Cinta” dari lemari dan mulai membolak-balik halamannya.

.

“Leo, di mana ya Leo. . .”

.

Ia menggumamkan kata-kata yang mengerikan itu.

.

“A—aku tadi cuma bercanda.”

.

.

“Tapi kamu tadi liatnya serius banget.”

.

Ugh! Kenapa dia balasnya kayak gitu?

.

“Ah, nggak ada apa-apa.”

.

Louise cepat-cepat merebut buku itu sebelum Ian menemukan bintangnya.

.

“Apa kamu mau pinjam buku itu?”

.

Louise dengan ngambeknya mengangguk.

Kalau ia tidak melakukannya, Ian justru akan dengan senang hati meminjamnya dan akan menggunakannya untuk menggoda Louise. Tapi mengapa mereka harus berjumpa dalam keadaan seperti ini?

.

“Aku akan membantumu mendaftar kartu perpustakaan.”

.

.

“Aku bisa kok tanya guru sendiri.”

.

.

“Aku juga bisa bantu kamu.”

.

.

“Untuk apa?”

.

.

“Ya, agar aku bisa mendengarmu mengucapkan namaku waktu kamu berterima kasih kepadaku.”

.

Louise ngambek pada Ian. Enak rasanya dapat mengungkapkan perasaan dengan lebih bebas di Akademi karena kini tidak ada seorangpun yang mengawal Ian.

.

“Kamu kelihatan tertekan.”

.

Ian mencubit pipi Louise lagi.

.

“Soalnya aku kehilangan status dan identitasku sehabis upacara pembukaan. Lagian, kenapa kamu nggak nyari orang lain yang bisa kamu bantu di perpustakaan ini?”

.

Louise melirik Stella. Untungnya ia masih ada di sana, terhanyut dalam bukunya.

.

“Contohnya siapa?”

.

.

“Ya, mungkin ada anak baru lain yang butuh bantuan.”

.

Ian memandang ke sekeliling, hingga akhirnya pandangannya tertuju pada seorang gadis berambut merah yang sedang membaca bukunya.

Louise menaruh tangannya di dadanya dan memandang wajah Ian dengan penuh harapan.

.

Apakah kamu jatuh cinta?’

.

Tentu saja ia sedang jatuh cinta! Stella adalah heroine di dunia ini! Dan dia sangatlah cantik!

.

“Contohnya kayak dia. . .”

.

Ian memandang Stella beberapa saat sebelum akhirnya menghampirinya.

Apakah ini yang namanya hukum tarik-menarik? Mereka saling tarik-menarik seperti sepasang magnet…!

Ian kini berdiri berhadap-hadapan dengan Stella, mereka berdua bermandikan sinar matahari yang memancar dari jendela. Oh, Louise pernah melihat illustrasi ini sebelumnya!

Setelah menghampirinya, Ian akan mengucapkan kata-kata pertamanya.

.

Apakah kamu anak baru?”

.

Louise menelan ludahnya sewaktu Ian membuka mulutnya.

.

.

.

.

“Mengambil lebih dari tiga buku itu melanggar tata tertib sekolah.”

.

… Tunggu dulu.

Hello. . . ! Kata-katamu salah. . .!

Namun Louise masih bersabar menunggu. Masih ada kata-katanya yang kedua.

.

Menarik. Tidak banyak anak di sini yang suka menghabiskan waktunya di perpustakaan seperti kamu.”

.

Ia akan mengucapkannya sambil tersenyum manis. Ia tersenyum sekarang.

Bagus. . . Sempurna. . . !

Ayolah kali ini ucapkan dengan benar…

.

“Tolong kembalikan buku-buku yang lain di tempatnya.”

.

Ian lalu menoleh dan mengangguk kepada Louise seolah ingin berkata “aku sudah bantu kan?”

Dengan frustasinya, Louise memukul-mukulkan kepalanya ke lemari buku.

Ia paham sekarang mengapa Ian memberitahunya di mana klinik berada.

Ia ingin rebahan untuk beberapa saat.

~~~***~~~

[Terima kasih sudah membaca meionovel.com \ (^_^) / ]

~~~***~~~

Louise cepat-cepat pergi ke kamarnya untuk menata barangnya. Bangunan asrama yang menjulang tinggi berada di salah satu sisi sekolah dan setiap murid mendapat satu kamar pribadi. Ia masuk ke asrama putri di lantai tiga sampai menemukan pintu bertuliskan “Louise Sweeney”. Kamarnya berupa sebuah ruang kecil dengan sebuah tempat tidur, meja belajar, lemari, dan kamar mandi kecil. Kopernya sudah dibawa kedalam.

Louise merebahkan dirinya di atas kasurnya tanpa membuka satupun tasnya.

Hari pertama belumlah berakhir, namun ia sudah merasa capek.

.

Kenapa aku nggak tiduran dulu sebentar.’

.

Ia baru akan mengenali lingkungan sekolah nanti dengan bantuannya peta miliknya. Ia juga perlu membangun pertemanan dengan murid lain, tapi ia sedang tidak bersemangat sekarang ini.

Ini semua adalah kesalahan Putera Mahk- bukan, Ian.

Kenapa ia tadi bicara dengan si heroine seperti itu? Nggak ada romatis-romantisnya. Tidak ada yang mau membaca novel seperti itu.

.

Dan kalau cerita di dalam novel ini tidak menjadi kenyataan, apa yang akan terjadi terhadap dunia ini?’

.

Itu adalah masalah yang belum pernah terpikir olehnya sebelumnya. Ia mulai merasa khawatir.

Jika dunia ini lenyap, apakah ia akan kembali ke kehidupan lamanya di Korea? Ia hampir lupa bagaimana rasanya hidup di sana. Ia sudah lupa nama-nama teman sekelasnya yang dulu membuatnya begitu iri. Tentu saja, sekarang ia tidak perlu merasa iri terhadap siapapun.

.

Bagaimanapun juga, demi kebaikan hidupku di dunia ini, Ian harus menjalin hubungan dengan Stella.’

.

Tapi bagaimana? Perjumpaan pertama mereka benar-benar bertolak belakang dengan apa yang terjadi di dalam novel aslinya.

Louise mengambil buku horoskop yang ia pinjam karena frustasi tadi. Ia membolak-balik halaman, mencari Leo dan membaca apa yang ia temukan di sana.

Semakin kamu ingin pamer, semakin besar kemungkinan kekasihmu akan melukaimu.’

Oh Tuhan, buku ini sungguh akurat.

Baru setelah ada tokoh lain yang mengungkapkan cintanya kepada Stella, Ian akhirnya menyadari perasaannya.

Ketika cinta seorang Leo mulai terfokus pada seseorang, ia akan dibuat buta akan segala hal yang lain.’

Louise mengangguk, membaca beberapa kalimat lain, lalu menutup buku itu.

Itulah targetnya. Ian harus memfokuskan perhatiannya kepada Stella.

.

Aku harus melakukan ini.’

.

Louise menutup matanya sejenak dan berpikir akan tingkah Ian.

Ia masih saja kurang ajar menyebutnya “tunanganku” meskipun ia sekarang sudah berumur 18 tahun. Tentu saja ia melakukannya hanya untuk mengerjai dirinya dan mereka tidak benar-benar berhubungan mesra. Namun tidak semua orang akan memahaminya dengan benar. Lagipula, ia adalah seorang putera mahkota. Statusnya tidak benar-benar dilupakan orang-orang, bahkan di dalam Akademi.

Stella bisa saja termakan kesalah pahaman orang lain. Louise tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.

Louise duduk dan membuat keputusan. Ia harus bernegosiasi dengan Ian sebelum sesuatu yang benar-benar buruk terjadi.

~~~***~~~

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded