The Male Lead’s Villainess Fiancee Chapter 7 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Aku Tidak Ingin Kita Bertunangan (2)

.

“Louise Sweeney. Dia manis banget ya.”

.

Seorang teman berjalan bersama Ian menuju asrama putra. Ia mungkin saja telah melihat Ian dan Louise lagi berduaan sehingga Ian berusaha menjawabnya dengan cuek.

.

“Apa baru kali ini kamu ketemuan sama dia?”

.

.

“Secara dekat, iya. Keluarga Sweeney emang spesial ya? Jarang-jarang lho kamu bisa ketemuan sama dia di pesta-pesta.”

.

Kata “spesial” itu seolah mengatakan bahwa yang bersangkutan bukanlah orang yang terhormat dan kekayaannya adalah hasil kejahatan.

.

“Lagipula, dia begitu pendek dan putih dan manis.”

.

.

“Kamu peka banget sama dia.”

.

.

“Aku peka karena dia itu emang cantik. Apa dia itu pacarmu?”

.

Pertanyaan tadi diajukan dengan entengnya namun dengan maksud yang dalam, terutama mengingat bahwa Ian adalah seorang putera mahkota. Akan jadi sebuah isu politik bagi Ian jika ia mengatakan bahwa ia sedang berhubungan dengan seseorang.

.

“Nggak mungkin lah.”

.

Ian mengangkat kedua bahunya.

.

“Kami berdua sudah lama dekat. Ibu kami teman satu Akademi.”

.

.

“Pantesan.”

.

.

“Kalau aku boleh ngomong. . . dia itu udah kayak adikku, ya kan? Lagian dia juga nggak punya saudara lain.”

.

Ian sedikit tersenyum ketika menyebut Louise sebagai “adik”nya. Kalau dipikir-pikir, kalau Ian memang memiliki seorang adik perempuan, Ian juga akan merasakan hal yang sama. Louise adalah satu-satunya orang yang cukup bermuka tebal untuk menghadapi Ian dengan galaknya dan melihat tingkah Louise sungguh sangat lucu.

Kamar Ian dan temannya itu berdekatan satu sama lain. Ketika mereka sampai di depan kamar mereka masing-masing, mereka saling menoleh.

.

“Aku mau ngomong serius nih—”

.

Ian menggenggam erat gagang pintu kamarnya yang sudah agak kendur. Ia diam beberapa saat sampai temannya memaksanya untuk meneruskan kata-katanya.

.

“Ada apa?”

.

.

“Louise Sweeney itu orangnya serem.”

.

.

“… Kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu?”

.

Ian pun tersenyum.

.

“Aku cuma khawatir teman baikku ini jatuh hati pada orang yang serem kayak adikku.”

.

.

“Jadi aku nggak boleh deketin dia?”

.

.

“Nggak boleh.”

.

.

“Aku akan terus ingat-ingat kalau si manis Louise Sweeney punya kakak yang serem.”

.

Ian menepuk pundak temannya dan tertawa.

.

“Baik, baik. Ingat-ingat terus itu ya.”

.

.

“Masak aku berani nentang pak presiden akademi sih?”

.

Temannya tertawa, namun Ian merasa tidak enak. Semua orang selalu berpura-pura di hadapan sang putera mahkota.

Mungkin memang benar, Louise itu orang yang spesial. Ia mampu menunjukkan emosi yang sangat beragam melalui wajahnya yang begitu imut. Tidak ada niat tersembunyi, tidak ada kemarahan yang tersembunyi di balik senyumnya, dan ia jujur akan perasaannya luar dalam.

Bagaimanapun juga, Ian mengkhawatirkan Louise sebagai kakaknya dan teman masa kecilnya. Louise bercita-cita ingin menjadi seorang pebisnis. Pebisnis macam apa yang dengan gamblangnya menunjukkan rasa senang tidak senangnya langsung di wajahnya? Pebisnis macam apa yang bicara begitu ceplas-ceplos dan bertingkah sangat kurang ajar? Louise harus mulai belajar berpikir secara bijak dan bertingkah secara sopan bahkan kepada orang yang paling ia benci.

Seperti halnya kepada Ian.

Namun Ian tak pernah dapat membayangkan hal itu mungkin akan terjadi. Ian tak dapat membayangkan sosok Louise Sweeney yang menyembunyikan perasaannya.

.

Ya, dia cukup pintar untuk menjadi yang terbaik di kelasnya. Jika perlu ia mungkin dapat melakukannya meskipun sulit. . .”

.

Ian masih memikir-mikirkan hal itu ketika ia melihat Louise tiba-tiba muncul di lorong asrama putra. Louise melihat-lihat dengan berhati-hati seperti sedang mencari sesuatu.

Ya Tuhan. . .

Baru saja Ian memuji-muji Louise karena kecerdasannya, Louise tiba-tiba muncul dan menghancurkan segala pikiran baik Ian terhadap Louise. Ian rasa tidaklah bijak bagi Louise untuk mondar-mandir di asrama putra. Meskipun ia nanti akan terkenal sebagai “Si Seram Louise Sweeney” namun ia tetap saja gadis yang manis di hadapan para lelaki.

Ian melambai kepada Louise sambil mengernyitkan dahi. Wajah Louise memerah ketika ia tahu kalau ia sudah ketahuan. Matanya yang ungu berkilauan dan rambutnya keemasannya jatuh mengombak di atas pundaknya.

Mungkin Louise sedang mencari kamarnya Ian. Menarik, akan tetapi Ian masih merasa khawatir.

.

“Dengar-dengar kamu jadi murid terbaik di kelas.”

.

Ian menggoda Louise sembari mendekatinya.

.

“Emang. Trus ngapain?”

.

.

“Baiklah, terus ngapain cewek sepintar itu mondar-mandir di asrama putra?”

.

.

“Apa itu melanggar tata tertib sekolah?”

.

.

“. . . Nggak juga.”

.

.

“Kalau gitu nggak apa-apa, kan?”

.

Memang benar. Lalu, mengapa tidak?

.

“Lalu ngapain kamu ke sini?”

.

.

“Aku harus ngomong sesuatu sama kamu.”

.

.

“Baiklah.”

.

Louise tersenyum kikuk sewaktu ada beberapa murid berjalan melewati mereka.

.

“Tempat ini agak. . .”

.

.

“Gimana kalau di kamarku?”

.

Ian membuka pintu kamarnya dan Louise bertepuk tangan.

.

“Kedengarannya bagus. Kita bisa berduaan di dalam kamarmu.”

.

Dasar cewek bego! Ian mendorong kepala Louise dengan jarinya.

.

“Kamu nggak bisa ngomong kayak gitu seenaknya waktu kamu bertamu di kamar orang.”

.

.

“Tapi aku dulu selalu mampir masuk kamarmu, ya kan?”

.

Ya! Sampai-sampai kebiasaan itu menjadi bahan gosip yang hangat di kalangan pelayan istana.

.

“Baiklah, Louise Sweeney, lain kali kamu perlu lebih berhati-hati. Kamu bisa saja mendapat julukan buruk.”

.

.

“Aaahhh…”

.

Louise memegang-megang dagunya beberapa saat.

.

“Lagian masih banyak tempat lain untuk omong-omong berduaan.”

.

~~~***~~~

[Terimakasih sudah membaca meionovel.com \(^_^)/ ]

~~~***~~~

Ian berjalan lebih dulu sedangkan Louise mengikutinya di belakang. Mereka kini berada di atap gedung asrama, dan sewaktu Ian mendorong pintu besinya langit sore yang jingga membentang luas di hadapan mereka. Waktu itu sore, dan pemandangan waktu itu ibarat surga yang terlukis di atas kanvas langit yang berlukiskan awan dengan garis-garis sinar mentari senja. Ada suasana misterius berhembus di angin sore waktu itu.

Louise berdecak kagum dan berlari menuju pagar gedung sebelum Ian cepat-cepat mencegahnya.

.

“Bener-bener, bocah satu ini—!”

.

Ia memeluk erat Louise dan menariknya ke belakang.

.

“Apa yang kamu pikirin coba mau lari-lari di pinggiran gedung kayak gitu?”

.

Teriakan Ian langsung masuk menuju kepala Louise. Louise menoleh ke belakang dan memandang Ian.

.

“Aku cuma berpikir ingin berhenti di jarak yang aman.”

.

.

“Kamu emang harusnya begitu.”

.

Ada senyum membahayakan yang merekah di wajah Ian.

.

“Tunanganku harus berdiri di belakang pagar yang hanya setinggi lututnya dan menikmati langit sore dengan cara yang sangat amat aman sekali.”

.

Pagar yang hanya setinggi lututnya? Louise, yang dari tadi hanya fokus menengadah ke langit, memandang ke bawah menuju pagar yang dimaksud. Memang benar, pagar itu lebih rendah dari yang Louise bayangkan.

Namun tetap saja, tindakan Ian sungguh berlebihan. Sejauh ini Louise masih terima-terima saja bermain tunangan-tunangan bersama Ian, namun Louise tak dapat melakukannya lagi.

.

Ketika cinta seorang Leo terfokus kepada seseorang, mereka akan dibuat buta akan segala hal yang lain.”

.

Ian perlu dibutakan, hanya untuk Stella.

Louise melepaskan diri dari tangan Ian dan menoleh kepadanya. Rambut perak milik Ian yang bermandikan cahaya jingga mentari senja menjadi semakin mirip dengan warna rambut Stella, sang tokoh heroine utama.

.

Sekali lagi. . . Kalian berdualah yang harusnya jadian.”

.

.

“Ada suatu hal penting yang harus aku bicarakan.”

.

Louise mengatupkan kedua tangannya dengan sopan.

.

“Aku tentu saja mendengarkan. Tunanganku yang satu ini selalu serius akan segala hal.”

.

Louise bersyukur akan jawaban enteng Ian. Tak peduli sudah berapa lama Putera Mahkota dan Louise berduaan, hubungan mereka tidak pernah benar-benar serius.

Louise ragu-ragu untuk beberapa saat, namun segera kata-kata mengalir dengan sendirinya dari mulutnya.

.

“Aku tidak ingin kita bertunangan.”

.

Apa ia mengatakannya dengan benar? Ketika Louise dengan hati-hati memandang Ian, Ian membalas dengan penuh rasa kaget.

.

“… Apa?”

.

Louise menjelaskan lagi.

.

“Aku berkata semoga kamu tidak mengungkit-ungkit lagi perjodohan kita waktu kecil dulu.”

.

Mata Ian yang biru bergetar sejenak.

~~~***~~~

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded