The Male Lead’s Villainess Fiancee Chapter 8 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Ketika Kamu Belum Mau Lari Dariku (1)

.

“…Ian.”

.

Nama itu terucap di bibir Louise yang lembut. Rasanya agak aneh, namun ia tetap mengucapkannya.

Untuk yang pertama kalinya…

Ian sudah mengharap-harapkan kapan momen ini akan terjadi. Ia sudah membayangkan betapa semakin luar biasanya momen mereka berdua setelah Louise mengucapkannya namanya, namun ia tak pernah membayangkan kejadiannya akan seperti ini.

.

“Louise.”

.

Ia balik menyebut nama Louise.

Berdiri melawan nyala merah padam matahari senja, Louise terlihat seperti orang yang sungguh-sungguh berbeda. Ian berharap bahwa yang mengatakannya tadi hanyalah seorang penipu. Sungguh kejam permintaan Louise untuk memaksa Ian melupakan hubungan mereka yang sudah terbentuk sejak kecil, sebuah hubungan yang, entah sungguh tulus maupun hanya main-main, tetap saja masih berarti.

Bibir yang baru saja mengatakan kata-kata sedih itu kini mengembang membentuk sebuah senyuman.

Bukan, itu adalah sebuah senyum palsu. Itu adalah senyum pengecut yang juga diberikan oleh begitu banyak orang di hadapan Ian. Itu adalah senyum dari orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri.

Namun mengapa harus Louise? Apakah Louise menertawakan Ian?

.

Ya, dia cukup pintar untuk menjadi yang terbaik di kelasnya. Jika perlu ia mungkin dapat melakukannya meskipun sulit. . .’

.

Itu tadi hanyalah sebuah pikiran yang melintas di benak Ian ketika berada di koridor asrama. Ia tidak menyangka bahwa hal itu akan menjadi kenyataan.

Ian sungguh bodoh. Memang.

Ian tak mampu menahan rasa sakit di dalam hatinya untuk turut keluar melalui kata-katanya.

.

“Kalau aku tidak bisa memperlakukanmu selayaknya tunanganku, maka apa yang harus aku lakukan?”

.

.

“Perlakukan aku seperti orang biasa saja, kumohon.”

.

.

“Itu sulit.”

.

.

“Tapi. . . aku bahkan bukan tunanganmu yang sebenarnya.”

.

.

“Tapi kamu juga bukan tunangan palsuku.”

.

Ian tersenyum sinis seolah ingin berkata “Perkataan seorang ratu tidak boleh dianggap enteng.”

.

“Tapi pertunangan ini tidak resmi—”

.

Louise menggumam sebelum Ian menyela.

.

“Kita bisa membuatnya resmi.”

.

.

“Apa kamu gila?”

.

Louise berteriak dan melangkah mundur.

.

“. . . Reaksimu itu. Apa kamu memang sebegitu bencinya sama aku?”

.

Louise harus mengakui bahwa ia tak berdaya menghadapi wajah sedih Ian, namun Louise tidak boleh terpengaruh. Jika Louise mulai menyukainya, maka kehancuran dan neraka akan menimpa Louise. Ian pada akhirnya akan tetap mengungkapkan cinta abadinya kepada Stella dan akan mencampakkan Louise, dan kejahatan yang selama ini terpendam dalam diri Louise akan muncul.

.

“Aku hanya—”

.

Louise dengan hati-hati menata ucapannya lalu berbicara dengan lebih tenang.

.

“Aku hanya tidak ingin terjadi kesalahpahaman.”

.

.

“Kesalahpahaman?”

.

.

“Ya. Bagaimana jika seseorang mendengarmu berkata ‘tunanganku’ dan terjadi kesalahpahaman, bukankah itu sebuah masalah?”

.

Louise memandang Ian dengan sungguh-sungguh untuk mencari sebuah persetujuan.

.

“Aku tidak akan mempermasalahkannya.”

.

.

“Baiklah, kalau bagiku iya!”

.

.

“Oh?”

.

Ian dengan perlahan mendekati Louise.

.

“Kalau dipikir-pikir, kamu tadi bergegas ke perpustakaan segera setelah upacara pembukaan untuk meminjam buku tentang horoskop cinta.”

.

.

“Terus?”

.

.

“Lalu tiba-tiba, kamu merasa tidak nyaman aku panggil ‘tunanganku’. Itu karena kamu tidak ingin terjadi kesalahpahaman. Benar kan?”

.

Louise menahan diri untuk mengangguk. Memang semua yang Ian katakan itu benar, namun Louise merasa bahwa Ian sudah sangat salah paham. Mungkin Ian berpikir bahwa Louise sudah memiliki orang lain di hatinya.

Hey, Louise Sweeney. Satu-satunya lelaki yang ada dalam pikiran Louise yang asli adalah dekan Akademi. Satu-satunya tujuan yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya menjadi murid berprestasi dan meraih penghargaan dari dekan pada upacara kelulusan.

Louise yang hanya diam sudah cukup menguji kesabaran Ian.

.

“Jadi, siapa dia?”

.

.

“. . . Apa?”

.

.

“ Aku ingin tahu siapa dia jadi aku bisa lebih berhati-hati supaya tidak terjadi kesalah pahaman.”

.

.

“Nggak ada kok.”

.

Louise menggumam, menghindari tatapan matanya. Meskipun sudah jelas akan ada seseorang yang bernama Stella yang akan masuk di tengah hubungan mereka.

.

“Aku pikir pasti ada.”

.

Ian memegang dagu Louise dan mengarahkan tatapannya ke arahnya.

.

“Uh, nggak ada kok! Sumpah!”

.

Ian sejenak menatap tajam muka tebal Louise sebelum akhirnya menghela nafas. Benarkah Louise sudah mampu menyembunyikan perasaannya di balik ekspresi wajahnya? Louise ingin agar Ian percaya kalau Louise tidak menyukai orang lain satu pun. Ian dibuat gila. Siapakah orang itu?

Bagi Ian, sudah jelas ada orang lain di dalam kampus kalau sampai Louise takut Ian memanggilnya ‘tunanganku’. Ian jadi teringat akan temannya barusan yang kelihatannya tertarik dengan Louise. Tapi apakah itu sudah merupakan sebuah hubungan yang saling bersahut? Tidak, Ian rasa tidak. Jika seorang Louise Sweeney sampai tertarik padanya, bocah licik bak ular itu takkan mampu selamat.

Lalu siapa lagi?

Ian ingat akan saudara sepupunya yang sama-sama masuk Akademi. Tidak mungkin, pasti ada orang selain dirinya. Sepupunya pasti sudah sering dengar dirinya memanggil Louise ‘tunanganku’.

… Lalu siapa?

.

“Aku paham.”

.

Ian mengelus pipi Louise beberapa saat lalu melangkah mundur dan meletakkan tangannya di bahunya. Ian harus menunggu untuk melihat apa sebenarnya yang diinginkan Louise.

.

“Kamu benar. Kata-kata dan tindakanku sangat rawan menimbulkan kesalah pahaman.”

.

Wajah Louise yang tadinya tegang kini mulai tampak lega. Apakah itu merupakan pertanda baik? Ian berusaha menahan perasaan aneh yang bergejolak di dadanya.

.

“Aku berjanji padamu, Louise Sweeney.”

.

Mata mereka saling memandang.

.

“Kita akan melupakan semuanya soal pertunangan kita. Aku berjanji aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan yang salah.”

.

Kelihatannya Ian mampu menerima permintaan Louise. Namun dengan ekpresinya yang serius, sulit bagi Louise untuk berterima kasih kepada Ian.

.

“Baiklah, kalau begitu—”

.

Bibirnya gemetar. Inilah saatnya bagi Louise untuk mengucapkan terima kasih.

.

“Namun hanya untuk setahun.”

.

Ian tiba-tiba tersenyum nakal. Louise memandang Ian dengan terkejut. Setahun?

.

“Apakah itu cukup?”

.

.

“Jangan ngawur kamu!”

.

.

“Kenapa ngawur?”

.

.

“Karena—”

.

Satu tahun kemudian, Ian akan menyatakan cintanya kepada Stella. Cinta mereka begitu membara sampai-sampai mereka menemukan banyak cara untuk bertemu secara sembunyi-sembunyi dari murid-murid lainnya.

.

“Karena— kita mungkin akan menemukan orang lain.”

.

.

“Siapa?”

.

.

“Siapapun dari kita.”

.

.

“Aku nggak pernah punya rencana kayak gitu.”

.

Konyolnya. Louise telah melihat beberapa ilustrasi memalukan Ian yang berusaha berkencan. (Dan tentu ia merasa senang.)

Ia bahkan akan merasa sangat beruntung kalau sampai bisa mencium Ian! Edisi dewasa yang diterbitkan ulang bahkan lebih heboh lagi, diikuti oleh ulasan bintang lima yang membanjir. Tentu saja Louise belum mampu membacanya karena batasan umur.

.

“Kenapa kamu kelihatan begitu skeptis sih?”

.

.

“Aku nggak percaya sama kamu.”

.

.

“Aku nggak nyangka kalau aku begitu sulitnya untuk dipercaya. Kalau begitu, begini perjanjiannya.”

.

Ian bergulat dengan dirinya sendiri untuk beberapa waktu, lalu menambahkan syarat terakhirnya.

.

“Kalau setidaknya ada salah satu saja dari kita punya pasangan, kita akan memutus pertunangan kita.”

.

Louise mengangguk menyetujuinya. Selama syarat itu terpenuhi, tidak akan ada masalah. Ian akan menjalin hubungan yang indah bersama Stella.

.

“Akan tetapi—”

.

.

“Akan tetapi?”

.

.

“Setahun kemudian, kalau tidak ada satupun di antara kita menemukan pasangan…”

.

Bibir Ian tersungging ke atas. Louise merasa gugup. Itu adalah senyuman khas Ian ketika Ian sedang berbuat usil.

.

“. . . kita akan bertunangan.”

.

.

“Apa?”

.

.

“Artinya kamu harus mau jadi tunanganku.”

.

.

“Apa kamu gila?!”

.

.

“Mungkin iya. Dan dengan persyaratan tadi, kamu harus buru-buru dan cukup bernyali untuk mencari pasangan.”

.

.

“Perjanjian kita sah-sah aja kok tanpa syarat itu!”

.

.

“Kenapa kamu begitu takut? Di manakah letak ketidakpercayaannmu ketika aku berkata kalau aku tidak punya rencana untuk mendekati orang lain?”

.

.

“Aku cuma. . .”

.

.

“Siapa tadi yang membuatku seolah akan jatuh cinta dengan orang lain dan memulai hubungan yang mesra?”

.

.

“Aku nggak ngomong kayak gitu.”

.

.

“Tapi kedengarannya kayak gitu.”

.

.

“Kamu pernah bilang sendiri kan kalau tradisi perjodohan itu adalah tradisi yang kuno!”

.

.

“Tentu saja itu tradisi yang kuno.”

.

.

“Terus kenapa kamu ingin bertunangan denganku?”

.

.

“Sudah jadi pekerjaan seorang Putera Mahkota untuk melestarikan tradisi.”

.

Ugh… Louise memutar matanya karena frustasi.

Itulah persyaratan dari Ian. Mereka berdua tidak akan terikat oleh perjodohan masa kecil mereka selama setahun. Dan setahun kemudian, jika salah satu dari mereka menemukan pasangan, maka perjodohannya akan dibatalkan. Jika tidak, pertunangan itu akan dilakukan untuk melestarikan tradisi.

.

Aku benar-benar nggak suka syarat-syarat yang membuatku harus bertunangan.’

.

Meskipun itu bukan suatu masalah mengingat hal itu tidak akan terjadi.

.

“Aku menerima semua persyaratanmu.”

.

.

“Aku juga akan memegang janjiku.”

.

.

“Terima kasih.”

.

.

“Dan aku beritahu kamu satu hal lagi.”

.

Ian kini berwajah sangat serius dan berkata.

.

“Setelah kita resmi bertunangan, tidak peduli apa pun yang terjadi, hubungan kita tidak dapat putus.”

.

.

“Kamu ngomong apa sih? Kita ini hidup di zaman di mana kita bisa minta uang kita kembali kalau kita nggak puas sama barang yang kita beli!”

.

.

“Apa aku itu sesuatu yang tidak kamu sukai?”

.

.

“. . . Nggak juga.”

.

.

“Baiklah, aku harap tunangan yang kamu beli ini akan mampu memuaskanmu.”

.

.

“Ha, tapi hanya jika kita bertunangan, ya kan?”

.

.

“Ya. Dan itu akan terjadi ketika kamu belum mau lari dariku selama setahun ini.”

.

Ian nampak seperti seekor singa yang mengincar mangsanya. Louise membusungkan dadanya.

~~~***~~~

[Terima kasih sudah membaca meionovel.com (^_^)]

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded