The Male Lead’s Villainess Fiancee Chapter 9 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Ketika Kamu Belum Mau Lari Dariku (2)

Louise memutuskan untuk berpikir positif saja dalam perjalanannya kembali ke kamarnya. Entah bagaimanapun Ian mengingatkan dirinya akan sosok singa, ia merasa tidak perlu merasa takut kepada Ian. Akademi begitu luas dan ada banyak murid di sana, sehingga kemungkinan untuk bertemu dengannya cukup kecil. Ada banyak mata pelajaran yang dapat dipilih, dan ia dapat dengan bebas memilih-milih sebagian besar dari mata pelajaran itu kecuali beberapa yang wajib. Tentu ada juga beberapa kemungkinan buruk adanya beberapa mata pelajaran yang jadwalnya bersamaan sehingga tidak bisa memilih keduanya.

Lagipula, ada 24 jam dalam sehari dan 168 jam dalam seminggu. Tidak ada artinya menghabiskan waktu hanya untuk berduaan dengan Ian. Louise tiba di depan kamarnya dengan langkah yang sudah lebih ringan ketika ia bertemu dengan seorang gadis yang menanti dirinya. Ia memiliki rambut gelap yang indah dan memperkenalkan diri sebagai Claire Iris.

.

“Namaku Louise Sweeney.”

.

.

“Aku tahu. Aku lihat kamu waktu kamu mendapat penghargaan dari dekan saat upacara pembukaan. Kamu siswa terbaik itu, kan?”

.

.

“Ya, benar.”

.

.

“Aku kesini untuk memperkenalkanmu soal tradisi Akademi.”

.

.

“Tradisi?”

.

.

“Ya, semacam peninggalan angkatan-angkatan terdahulu.”

.

Claire memiliki aksen yang ringan. Louise menggeleng-gelengkan kepalanya untuk memastikan apakah ia tidak salah dengar.

Entah mau dipikir-dipikir dari manapun, rasa-rasanya Louise sudah berkenalan dengan terlalu banyak tradisi setahun ini.

.

“Biasanya, siswa terbaik di tahun pertama otomatis dilantik sebagai anggota dewan siswa.”

.

.

“Dewan siswa?”

.

.

“Tugasnya nggak berat kok. Kamu nanti mewakili bidang minat kesiswaan dan. . . ya, itulah yang kamu lakukan, tapi kerjaannya sebenarnya lebih kayak seksi sibuk sih.”

.

Louise tersenyum sinis mendengar kata “seksi sibuk”. Tujuannya di sini hanya untuk meraih nilai bagus.

.

“Maaf, tapi aku–”

.

.

“Oh, tapi ada banyak keuntungannya juga kok. Kamu akan dipandang baik oleh para guru dan kamu bisa dapat banyak surat rekomendasi.”

.

Surat rekomendasi! Mata Louise terbelalak.

.

“Bahkan setelah kelulusan, anggota dewan siswa masih akan tetap saling membantu. Itu nantinya pasti akan membantu banget, lihat saja hampir semua orang yang punya posisi penting sekarang dulunya anggota dewan siswa.”

.

Ini adalah kesempatan mendapat koneksi berkualitas yang dibutuhkan oleh seorang pebisnis wanita! Apa yang harus ia lakukan? Rasa-rasanya ini adalah sebuah tawaran yang menggiurkan. Akan tetapi, kalau ia malah menghancurkan nilainya sendiri karena sibuk sebagai seksi sibuk, koneksinya yang bagus juga tidak akan terlalu berguna.

.

“Oh, dan soal nilai. Kita nggak ada banyak kegiatan sebelum ujian jadi kamu nggak perlu khawatir.”

.

Claire Iris menambah lagi daftar keuntungannya. Selama masa ujian, Louise bisa belajar di ruang dewan siswa yang nyaman daripada harus belajar di perpustakaan yang penuh. Banyak anggota dewan siswa juga memiliki prestasi bagus, jadi ia bisa tanya apa saja kalau ia tidak paham suatu pelajaran tertentu.

.

“Tapi kamu juga seorang perempuan pebisnis dari keluarga Sweeney.”

.

Ia tersenyum dan menambah lagi daftar keuntungan.

.

“Mungkin tawaran paling menggiurkan bagimu adalah, kalau kamu bisa merancang suatu proyek dengan tepat, kamu bisa mengajukan proprosal untuk menggunakan dana dari dewan siswa.”

.

Apa lagi yang harus Louise lakukan? Kesempatan berbisnis yang unik ini pasti dapat memberinya pengelaman yang luar biasa. Ia rasa ia akan mengambilnya, namun ia tidak dapat memutuskan dengan begitu mudahnya. Ini semua datang terlalu tiba-tiba.

.

“Tentu saja, kamu nggak harus memutuskannya sekarang kok.”

.

Claire menjelaskan, seolah-olah mengerti kekhawatiran Louise. Louise kini merasa lega.

.

“Kita akan mengadakan rapat dewan yang pertama besok pagi jam 8. Kalau kamu mau bergabung, datang saja ke ruang dewan siswa di aula perkuliahan di lantai pertama.

.

.

“Aku…”

.

Louise dengan hati-hati membuka mulutnya.

.

“Itu sebuah tawaran yang luar biasa tapi mungkin aku…”

.

.

“Aku sudah bilang kan? Nggak apa-apa kok kalau kamu nggak mau gabung. Tradisi murid terbaik yang pasti bergabung menjadi dewan siswa cuma sebuah peninggalan yang sudah kuno.”

.

Claire memberikan kesempatan bagi Louise untuk memikirkannya, dan Louise kembali ke kamarnya, ia sudah melupakan perjanjiannya dengan Ian.

~~~***~~~

[ Terima kasih sudah membaca meionovel.com (^_^) ]

~~~***~~~

Louise bangun pagi-pagi lalu mandi dan dengan rapi memakai seragamnya. Ia dengan teliti menyisir rambunya yang keemasan dan mengecek jamnya.

07.30

Ia bercermin dan berpikir keras akan keputusannya sekali lagi.

Dewan siswa. Itu sebuah tawaran yang menarik. Apa yang harus ia lakukan? Itu adalah satu-satunya hal yang ia pikirkan sepanjang malam. Perjanjian dengan Ian sama-sekali tidak terpikir.

.

Huh?”

.

Ya, benar, ia sama sekali tidak memikirkan Ian. Ia terlalu sibuk memikirkan hal-hal sepele. Louise bisa saja fokus bekerja sebagai anggota dewan siswa sambil tetap sesekali mengawasi hubungan mesra antara Ian dan Stella. Terlebih lagi, para anggota dewan siswa nampaknya saling mendukung satu sama lain, jadi Ian tidak perlu lagi datang membantunya.

Dengan pemikiran yang baru saja muncul tersebut, Louise membuat keputusannya.

Ia mengambil tas kulitnya dan peta akademi dari mejanya. Cuaca musim semi yang sempurna untuk membuka tahun ajaran baru sudah menantinya di luar gedung asrama. Ia punya firasat akan ada banyak hal baik yang akan menyambutnya.

Waktu itu masih terbilang terlalu pagi sehingga kampus masih sepi. Ia mengikuti petanya menuju ruang dewan siswa, namun ketika ia tiba di sana ia tidak mendengar apa pun dari dalam ruangan itu. Mungkin masih belum ada orang yang datang.

Apakah ia harus masuk ke sana? Ia dengan pelan mengetuk lalu memutar gagang pintu itu. Ketika pintu itu membuka, ia merasakan tiupan angin. Sepertinya ada orang yang membiarkan jendelanya tetap terbuka.

Louise membuka lebar pintu itu. Louise bertemu pandang dengan orang yang bersandar ke jendela sambil tersenyum ramah. Louise sejenak ragu akan apa yang ia lihat.

.

“Selamat datang, Louise Sweeney.”

.

Orang itu adalah Ian.

~~~***~~~

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded