The Male Lead’s Villainess Fiancee Chapter 4 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Selamat Datang, Tunanganku (1)

Sejak penjelasan dari Ibu Louise, Ian mulai memanggil Louise dengan sebutan baru

.

“Selamat datang, tunanganku. Aku harap tidak ada masalah tadi waktu berangkat ke istana.”

.

Sebutan yang mengerikan itu mulai sering digunakan ketika Louise berumur 14 tahun. Louise selalu merasa tak nyaman ketika Ian berbicara dengan posesifnya.

.

“Terima kasih. Dan bisakah kamu berhenti memanggilku dengan sebutan yang aneh itu?”

.

.

“Aneh? Aku hanya menuruti keinginan ibuku.”

.

Kenapa tidak ada mata pelajaran “bagaimana menjawab seseorang tanpa mengatakan apapun” di dalam pendidikan seorang pangeran?

Akan tetapi, tetap saja Louise yang dirugikan kalau mereka terus-terusan membahas topik ini dalam waktu lama.

.

“Jadi kenapa kamu memanggilku ke sini?”

.

.

“Aku ingin kamu ikut aku.”

.

.

ikut dia?’

.

Ian berhenti sejenak sebelum menjawab dengan suara lirih.

.

“Aku ingin mengunjungi rumah ibuku.”

.

Suaranya semakin lama semakin pelan. Louise menunggu sampai ia menyelesaikan ucapannya.

.

“Ini pertama kalinya aku pergi ke sana.”

.

.

“…”

.

.

“Ibuku orang pinggiran dan aku tidak tahu banyak soal keluarganya.”

.

.

“Terus kenapa ajak aku?”

.

.

“Karena kamu tunanganku.”

.

.

“… aku pulang aja lah.”

.

.

“Aku bercanda. Aku ngajak kamu soalnya cuma kamu yang aku kenal dekat.”

.

Ia tersenyum kikuk karena ia merasa aneh untuk meminta tolong.

.

“Satu-satunya orang lain yang aku kenal bukanlah seorang bangsawan, itu masalahnya.”

.

Louise berhenti sejenak. Ian nampak mempercayai Louise, selain relasinya dengan Louise sebagai seorang ‘tunangan’.

Louise tidak dapat pergi meninggalkan Ian begitu saja. Keluarga Sweeney menempatkan kepercayaan melebihi segalanya. Dan ketika ia berpikir-pikir mengenai hal itu, tidak ada orang lain di sekitar pangeran yang punya pengalaman hidup miskin.

.

“Baiklah, aku ikut.”

.

Louise berbaik hati mengiyakan, lalu melirik ke pelayannya. Si pelayan tidak lagi tampil pasang wajah seram di hadapan Louise.

Mungkin ia memutuskan untuk tidak lagi jahat-jahat kepada Louise.

~~~***~~~

[Terima kasih sudah membaca meionovel.com \ ( ^ _ ^ ) / ]

~~~***~~~

Kisah seorang rakyat jelata yang menjadi seorang ratu sebenarnya tidak berakhir baik. Itu nampak jelas dari wajah kusam kakeknya Ian dan gubuknya yang juga nampak lapuk.

.

“… Ada apa.”

.

Seorang petani desa yang tidak paham soal etiket, tidak bertanya dengan tata cara yang sesuai mengapa cucunya datang mengunjunginya. Ada sebuah kehangatan memancar dari wajahnya yang sudah keriput.

.

“Aku hanya ingin menengokmu.”

.

Sebuah pemandangan aneh melihat seorang Putera Mahkota dengan pakaian mewahnya menunduk kepada orang tua berpakaian rami.

.

“Tuanku.”

.

Ian memanggil kakek itu dengan gelar yang diberikan kepadanya ketika puterinya diangkat menjadi ratu. Gelar itu hanya sebuah sebutan, tanpa menunjukkan wilayah maupun status.

Raut wajah tidak suka dari kakek itu seolah mengisyaratkan kepada Louise untuk cepat-cepat membetulkan Ian.

.

“Bukan ‘Tuanku’, tapi ‘Kakek’. Karena beliau adalah ayah dari ibumu yang mencintaimu!”

.

Kata Louise sambil pura-pura tersenyum. Baru saat itulah kakek itu menyadari keberadaan Louise.

.

“Siapa kamu?”

.

.

“Aku Louise. Aku bukan seorang bangsawan tapi aku adalah—”

.

Enaknya bicara apa ya soal hubungannya dengan si pangeran? Tentu bukan sebagai tunangan. Bukan juga pelayannya. Ia tidak tahu lagi harus bicara apa.

.

“— temannya?”

.

.

“…”

.

.

“…”

.

Louise yang bingung mencari jawaban membuat suasana jadi sunyi seketika. Pastilah ia memberi jawaban yang salah.

Kakek itu nampak sedih sembari duduk di atas kursinya yang berderit.

.

“… Memang baik untuk hidup bersama dengan orang yang berharga.”

.

Meskipun di usianya yang sudah tua, suaranya masih bertenaga.

.

“Debu yang menempel pada biji-biji gandum harus dibersihkan.”

.

Tak dapat dihindarkan lagi, suatu hal yang tak mengenakkan akan terucap.

.

“Tidak lagi.”

.

Mata kakek itu memandang tembok yang kusam.

Di sana ada sebuah foto berwarna yang kelihatan mencolok di dalam rumah reyot itu. Louise menebak bahwa itu adalah foto sang ratu. Ia mengambilnya dan memeluknya sambil menangis. Louise tak dapat menyalahkannya.

.

“Kamu tidak boleh menikahi orang seperti dia.”

.

.

“…”

.

Ian tak dapat menyangkal kata-kata itu.

Kesedihan kakeknya berhubungan dengan kenaikan ibunya menjadi ratu. Meskipun tidak ada bukti yang cukup kuat, ada dugaan bahwa sang ratu meninggal karena diracun. Kakeknya pingsan karena kaget mendengar kabar kematian itu, lalu pergi menyendiri, meratapi kejadian itu dan kehilangan semangat untuk hidup.

Ia takut hal itu akan terulang lagi terhadap gadis non-bangsawan yang berada di sisi cucunya.

.

“Meskipun aku sekarang seperti ini, aku masihlah kakek seorang pangeran. Aku ingin cucuku berjanji untuk mematuhinya. Itulah keinginanku.”

.

.

“Aku mohon.”

.

.

“Jangan menentang kata-kataku.”

.

Kakek itu memandang Ian dengan tatapan tajam.

.

“Tanah itu sehat bila berada di bawah langit. Jangan mengharap tanah yang ada di seberang.”

.

Itu adalah sebuah peringatan untuk tidak menginginkan apa yang tidak dapat kamu raih. Rasa sakit yang sang kakek rasakan tidak boleh terjadi kepada orang lain di seluruh bumi.

Louise tidak ingat secara pasti apa yang Ian katakan untuk menjawab nasehat kakeknya. Yang ia ingat hanyalah penderitaan selama perjalanan di atas kereta melalui jalanan berbatu. Mereka bahkan harus berhenti agar ia dapat keluar untuk muntah, namun kondisinya tidak kunjung membaik. Louise, yang sangat kecapekan, tertidur.

~~~***~~~

Ketika ia terbangun, tidak lagi terasa guncangan. Mereka pasti sudah sampai di jalan yang bagus.

Apakah Ian menggunakan ilmu sihir? Sakit kepala Louise hilang dan ia merasa baikan. Rasanya sungguh enak tidur berbantalkan. . .

Huh? Berbantal?

Hanya ada dua orang di dalam kereta, dan hanya ada satu kemungkinan dirinya dapat tidur begitu nyamannya di dalam kereta – tidur dipangkuan orang yang berada di sampingnya.

Oh, apa yang telah ia lakukan?

Tapi, pakaian Ian yang mengenai pipi Louise rasanya sungguh enak.

Kamu gila, Louise Sweeney! Kamu tidak bisa begitu saja menggunakan seorang putera mahkota sebagai bantal tidur!

Ketika ia menjerit di dalam hatinya, ia merasakan tangan yang membelai lembut kepalanya, sungguh lembut.

Oh, tak heran.

Kalau ia memberitahu Ian kalau ia sudah bangun sekarang, ia pasti merasa begitu malu hingga ingin mati.

Louise membuka matanya perlahan untuk mengintip. Untungnya, Ian sedang menoleh ke jendela. Ia melihat keluar seperti sedang memikirkan sesuatu.

Pandangannya nampak gelap, segelap langit waktu itu, namun itu mungkin karena bayangan dari atap kereta. Atau itu memang karena perasaannya waktu itu.

Louise menebak-nebak apa kira-kira yang membuat Ian nampak begitu melankolis, Apa ia bersedih karena kata-kata kakeknya? Ataukah karena ia begitu rindu akan ibunya yang meninggal secara misterius…

.

“Kakiku sakit.”

.

.

“…”

.

Ah, kakinya memang sepertinya sudah terasa begitu keram menahan kepala Louise yang besar di atas pangkuannya yang mahal selama ini.

Secara spontan Louise langsung berusaha bangun namun dengan lembut tangan Ian menahannya.

.

“Hei, bukankah kakimu sakit?”

.

.

“Aku tadi keceplosan karena aku malu. Kamu sih ngelirik-ngelirik terus.”

.

Louise kagum bahwa ternyata Ian bisa begitu jujurnya mengatakan kalau ia merasa malu.

.

“Aku baik-baik saja kok.”

.

Sebuah tangan yang hangat mengelus dahinya.

.

“Kamu masih terasa dingin.”

.

.

“Aku sudah merasa mendingan. Sungguh.”

.

Katanya sambil memohon maaf. Ia tidak ingin terus memberatkan kaki Ian dengan kepalanya yang besar.

Merasakan apa yang dimaksud Louise, Ian akhirnya memperbolehkannya duduk. Louise bangkit duduk dan berusaha merapikan kembali rambutnya. Akan tetapi, karena sudah begitu lama ia tertidur, ia tak dapat merapikan kembali rambutnya yang kusut. Akhirnya Ian pun tertawa ketika Louise merengek-merengek karena frustasi.

.

“Jangan ketawa. Sulit tahu.”

.

.

“Emang kenapa? Itu keren tahu. Aku yakin nanti pasti jadi trend baru.”

.

Louise akhirnya menyerah dan memandang ke jendela.

Keretanya ternyata berhenti, itulah mengapa ia tidak merasakan adanya guncangan sama sekali. Di manakah mereka sekarang?

.

“Kita—”

.

.

“Ada di dekat rumah Louise Sweeney.”

.

Louise dapat melihat halaman depan rumahnya, namun tidak cukup dekat karena mereka berada di dekat kebun.

.

“Kita harusnya kembali ke istana dulu. Sekarang kamu harus putar balik jauh lagi.”

.

.

“Kalau kita pergi ke istana dulu, kamu nanti yang harus naik kereta jauh.”

.

Hal itu pasti akan sangat menyiksa bagi seorang Louise.

.

“Kamu harusnya membangunkanku.”

.

.

“Kamu sih, tukang tidur.”

.

Benar. Nampaknya kemampuannya untuk tidur di manapun kepalanya bersandar tidak berubah ketika ia terlahir di dunia ini.

Louise menghela nafas dan berhenti melawan Ian. Karena kepedulian Ian lah Louise tidak harus bertahan dalam perjalanan panjang di atas kereta lagi.

.

“Terima kasih.”

.

.

“Apa sih yang nggak untuk tunanganku.”

.

.

“… bisakah aku tarik kembali ucapan terima kasihku?”

.

.

“Tidak. Kamu bisa jalan sendiri kan? Kalau nggak kita bisa naik kereta lagi sampai di depan rumah.”

.

Jangan naik kereta lagi, kumohon…

Louise cepat-cepat menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membuka pintu kereta.

Udara rerumputan segar langsung menyeruak menyegarkan Louise. Ia melihat ke sekeliling dan merasa segar kembali sementara Ian pergi meninggalkan Louise dengan keretanya.

Ian tersenyum, angin dari jendela meniup rambut peraknya yang lembut. Kegelapan yang tadi menyelimuti pandangannya telah sirna. Sementara itu, Louise merasakan ada sesuatu yang membuat hatinya cenat-cenut.

Mengapa?’

.

Sebelum Louise sempat mempertanyakan perasaannya, Ian melambaikan tangan kepadanya.

.

“Aku akan ikut berjalan sebentar bersamamu. Kakiku sakit nih gara-gara tertindih beban berat tadi.”

.

Lalu ia tertawa terbahak-bahak lagi. Benar-benar orang yang menyebalkan! Tidak mungkin ada kejadian di mana Louise Sweeney mencintai seorang pangeran semacam itu. Di manakah hubungan yang manis yang Ian tunjukkan kepada sang heroine di novel yang asli?

~~~***~~~

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded